Penulisan Esai dan Jurnal Ilmiah
Dari algoritma itu pula, para lulusan pesantren bisa memetakan masalah serta ikut terlibat untuk membuat esai di beberapa media nasional, dengan memberikan gagasan-gagasan cemerlang dan ide baru yang mungkin sangat dibutuhkan oleh umat Islam.
Hanya saja problemnya, hampir tidak ada pondok pesantren yang mengajarkan kurikulum pembuatan esai atau bahkan jurnal ilmiah. Sehingga para lulusan pondok pesantren yang semestinya memberikan sumbangsih pemikirannya, dalam hal ini, mereka justru hanya menjadi penyimak dan pengikut.
Padahal, secara keilmuan mengenai keislaman mereka jauh lebih pantas memberikan gagasan ilmu-ilmu Islam daripada orang-orang yang belum pernah mondok. Dengan memberikan pemikiran mereka mengenai keislaman, cakupan dakwah menyoal Islam juga akan semakin luas didengar oleh publik. Dan pastinya, ditangani oleh orang yang benar-benar ahlinya menyoal keislaman.
Para pemikir lulusan pondok pesantren sangat diharapkan juga turut memberikan warna dalam pertukaran ide keilmuan di jurnal penelitian ilmiah. Tema-tema yang masih hangat diperbincangkan di jurnal ilmiah, seperti soal tema toleransi, melawan radikalisme, membabat paham-paham khilafah, ataupun bisa juga membahas persoalan yang baru-baru ini yang sedang digodok oleh Kementerian Agama ialah mengenai pergantian kurikulum baru PAI (Pendidikan Agama Islam) dan Bahasa Arab. Apakah para lulusan pesantren sudah memberikan sumbangsih pemikiran mereka untuk menjadikan PAI agar lebih tepat sasaran dan lebih berwawasan toleran?
Sumber: GEOTIMES

