Coding dan Programming
Korea Selatan, Inggris, dan Finlandia nampaknya sangat bagus dijadikan sebagai percontohan untuk memahami tantangan generasi masa depan di era Revolusi Industry Keempat, yaitu revolusi digital. Korea Selatan sudah memulai mengerjakan kurikulum ini (programming) ke dalam kurikulum wajib mereka untuk sekolah dasar dan menengah pada tahun 2007.
Berita sebaliknya terjadi di Indonesia, di sekolah-sekolah formal maupun swasta (apalagi di pondok pesantren), kurikulum pemerograman di Indonesia masih menjadi kurikulum yang sangat “asing.”
Padahal, sekarang kita hidup di era digital, di mana dunia nyata sudah dikendalikan dengan kode-kode virtual, bagaimana bisa kita menghadapi dan mempersiapkan diri untuk berkompetisi secara global, jika kurikulum coding dan programming saja belum juga dijadikan sebagai kurikulum nasional.
Mungkin ada baiknya jika pondok pesantren yang mengawali dalam pengembangan kurikulum koding dan pemrograman. Sekaligus ini sebagai jawaban bagi mereka yang meragukan. Bahwa pondok pesantren bisa menyatukan unsur tradisional dan kemodernan.
Dengan memaksimalkan kurikulum koding dan pemrograman, pondok pesantren bisa juga menciptakan suatu algoritma baru yang tampaknya sangat dibutuhkan di dunia dakwah, misalnya. Katakanlah dengan membuat algoritma yang bisa membaca pertanyaan apa yang sering dicari di Google oleh orang-orang menyoal keislaman. Dari sana, para ustadz dan ulama bisa memusatkan dakwah mereka, untuk menjawab problematika yang sering ditanyakan umat Islam.

