Suara Pesantren — Media Pesantren IndonesiaSuara Pesantren — Media Pesantren IndonesiaSuara Pesantren — Media Pesantren Indonesia
Notification Show More
Font ResizerAa
  • Home
  • Kirim Artikel
  • Nasional
    • 100 Th Gontor
    • Wejangan
    • Tuntunan
    • Muamalah
    • Regulasi
    • Kesehatan
  • Kilas Pesantren
  • Review Pesantren
  • Jejak Ulama
  • Kiai-Ustadz
  • Santri-Alumni
  • Pendidikan Islam
    • Beasiswa
Reading:  Memegang Agama Terasa seperti Menggenggam Bara Api
Share
Font ResizerAa
Suara Pesantren — Media Pesantren IndonesiaSuara Pesantren — Media Pesantren Indonesia
  • Home
  • Kirim Artikel
  • Nasional
  • Kilas Pesantren
  • Review Pesantren
  • Jejak Ulama
  • Kiai-Ustadz
  • Santri-Alumni
  • Pendidikan Islam
Search
  • Home
  • Kirim Artikel
  • Nasional
    • 100 Th Gontor
    • Wejangan
    • Tuntunan
    • Muamalah
    • Regulasi
    • Kesehatan
  • Kilas Pesantren
  • Review Pesantren
  • Jejak Ulama
  • Kiai-Ustadz
  • Santri-Alumni
  • Pendidikan Islam
    • Beasiswa
Have an existing account? Sign In
Suara Pesantren — Media Pesantren Indonesia > Blog > OPINI >  Memegang Agama Terasa seperti Menggenggam Bara Api
OPINI

 Memegang Agama Terasa seperti Menggenggam Bara Api

Farhan Ziyaul Haqqi (Mahasiswa Ma'had Aly Darussalam Blokagung Banyuwangi)

Suara Pesantren
Suara Pesantren Published 08/10/2026 6 Min Read
Share
memegang bara api

Suara Pesantren | Pada setiap zaman, manusia menghadapi tantangan dalam mempertahankan keimanan. Namun, ada masa dimana tantangan tersebut menjadi jauh lebih berat yaitu ketika kemaksiatan semakin terang terangan, keburukan dianggap biasa, sementara orang yang berusaha menjaga agamanya justru merasa asing di tengah masyarakat.

- Advertisement -
jasa sosialisasi pesantren

Rasulullah ﷺ telah memberikan gambaran tentang kondisi semacam ini melalui sabdanya:

عن أنس – رضي الله عنه – قال: قال رسول الله – ﷺ -:)يأتي على الناس زمان، الصابر فيهم على دينه كالقابض على الجمر( رواه الترمذي

Artinya: Akan datang kepada manusia suatu zaman, dimana orang yang bersabar dalam mempertahankan agamanya di tengah mereka seperti halnya  orang yang menggenggam bara api. Hadis riwayat al-Tirmidzi.

Kalimat «كَالْقَابِضِ عَلَى الْجَمْرِ» bukan sekadar ungkapan untuk menggambarkan kesulitan biasa. Ia merupakan sebuah perumpamaan yang sangat kuat tentang beratnya mempertahankan agama ketika lingkungan sekitar tidak lagi mendukung. Al-Ṭayyibī menjelaskan:

 وَالْمَعْنَى كَمَا لَا يَقْدِرُ الْقَابِضُ عَلَى الْجَمْرِ أَنْ يَصْبِرَ بِإِحْرَاقِ يَدِهِ، كَذَلِكَ الْمُتَدَيِّنُ يَوْمَئِذٍ لَا يَقْدِرُ عَلَى ثَبَاتِهِ عَلَى دِينِهِ لِغَلَبَةِ الْعُصَاةِ وَالْمَعَاصِي، وَانْتِشَارِ الْفِسْقِ وَضَعْفِ الْإِيمَانِ

Artinya: Sebagaimana orang yang menggenggam bara api itu tidak dapat bersabar sebab  tangan yang terbakar, demikian pula orang yang beragama pada masa itu sulit untuk tetap teguh dalam memegang agamanya karena banyaknya pelaku maksiat dan kemaksiatan, tersebarnya kefasikan, serta lemahnya iman.

Penjelasan ini terasa begitu dekat dengan terasa dalam kehidupan hari ini. Bukan berarti kita dapat memastikan bahwa zaman yang disebutkan Nabi ﷺ secara pasti adalah zaman kita. Namun, berbagai fenomena yang disebutkan para ulama dalam menjelaskan hadis tersebut tampak semakin nyata dan mudah ditemukan.

Kemaksiatan tidak lagi selalu dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Dengan teknologi digital, sesuatu yang dahulu membutuhkan ruang dan kesempatan tertentu, kini dapat masuk ke ruang pribadi hanya melalui sebuah layar. Konten yang tidak mendidik, budaya pamer, ujaran kebencian, pornografi, perjudian daring, serta berbagai bentuk kemaksiatan dapat tersebar luas dengan sangat cepat.

Yang lebih mengkhawatirkan bukan hanya banyaknya kemaksiatan, tetapi ketika kemaksiatan tersebut mulai kehilangan rasa malu. Sesuatu yang dahulu dianggap aib dapat berubah menjadi tontonan. Sesuatu yang dahulu dihindari dapat dipromosikan sebagai gaya hidup. Pada titik inilah seorang Muslim membutuhkan kesabaran sebagaimana gambaran menggenggam bara api.

Al-Mullā ‘Alī al-Qārī memberikan penekanan yang lebih mendalam:

 كذلك في ذلك الزمان لا يتصور حفظ دينه ونور إيمانه إلا لصبرعظيم وتعب جسيم

Artinya: Demikian pula pada zaman tersebut, menjaga agama dan cahaya iman tidak mungkin dilakukan kecuali dengan kesabaran yang besar dan perjuangan yang berat.

Artinya  mempertahankan iman tidak cukup hanya dengan memiliki identitas sebagai seorang Muslim. Ia membutuhkan perjuangan. Ketika lingkungan mengajak kepada kelalaian, seorang Muslim harus berusaha tetap mengingat Allah. Ketika banyak orang meremehkan salat, ia harus tetap menjaga salatnya. Ketika kejujuran dianggap merugikan, ia harus tetap jujur. Ketika dosa menjadi sesuatu yang lumrah, ia harus tetap memiliki rasa takut kepada Allah.

Kondisi tersebut semakin relevan jika dikaitkan dengan hadis lain:

بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيبًا، وَسَيَعُودُ غَرِيبًا كَمَا بَدَأَ، فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ

Artinya: Islam bermula dalam keadaan asing dan akan kembali menjadi asing sebagaimana permulaannya. Maka beruntunglah orang-orang yang asing.” Hadis ini diriwayatkan antara lain oleh al-Tirmidzi dan Ibn Mājah.

Al-Suyūṭī menjelaskan bahwa pada masa ketika kemungkaran semakin banyak, melakukan amar makruf nahi mungkar juga menjadi semakin berat karena sedikitnya orang yang membantu dan banyaknya kemungkaran yang harus dihadapi, Maka dari itu orang yang mampu mempertahankan agamanya di tengah keadaan tersebut diumpamakan seperti  halnya orang yang menggenggam bara api.

Di sinilah kita dapat melihat relevesinya yang dimana ketika Seorang pemuda memilih menjaga pergaulan, ketika pergaulan bebas dianggap biasa, maka  akan dianggap kuno. Seseorang yang menjaga salat di tengah kesibukan  dianggap terlalu religius. Orang yang berusaha menjaga lisannya dari ghibah dan hinaan di media social dianggap tidak mengikuti zaman. Padahal, ukuran kebenaran bukanlah seberapa banyak orang yang melakukannya. Jika sebuah lingkungan telah terbiasa dengan sesuatu yang salah, maka banyak pelaku  otomatis mengubah kesalahan menjadi sebuah kebenaran.

Namun demikian, hadis ini tidak boleh dijadikan alasan untuk mencela seluruh zaman atau menganggap semua manusia telah rusak. Di tengah berbagai kemaksiatan, masih banyak orang yang menjaga salat, menuntut ilmu, berdzikir, menghidupkan masjid, mendidik anak dengan nilai-nilai agama, dan berusaha memperbaiki masyarakat. Mereka adalah bagian dari harapan yang  harus tetap terus dijaga.

Hadis tentang orang yang menggenggam bara api memberikan gambaran mendalam tentang beratnya mempertahankan iman ketika kemaksiatan semakin dominan, kefasikan tersebar, dan keimanan melemah. Al-Ṭayyibī menekankan dominasi kemaksiatan dan lemahnya iman, sedangkan al-Mullā ‘Alī al-Qārī menegaskan bahwa menjaga agama pada keadaan tersebut membutuhkan kesabaran besar dan perjuangan yang berat. Jika melihat kehidupan hari ini, berbagai fenomena tersebut memang tampak semakin nyata.

Namun, kita tidak perlu tergesa-gesa memastikan bahwa zaman yang dimaksud hadis secara pasti adalah zaman sekarang. Yang terpenting adalah mengambil peringatan darinya. Sebab, ketika agama terasa asing, pada saat itulah seorang Muslim harus semakin dekat kepada Allah. Ketika kebaikan terasa berat, ia harus semakin bersabar. Dan ketika dunia seakan mendorongnya untuk melepaskan prinsip agama, ia harus mengingat kembali pesan Nabi ﷺ: tetaplah bertahan, meskipun mempertahankan iman terasa seperti menggenggam bara api.

——-

مرقاة المفاتيح شرح مشكاة المصابيح – الملا على القاري (٨ ‏/ ٣٣٦٤–٨ ‏/ ٣٣٦٥

مرقاة الصعود إلى سنن أبي داود – الجلال السيوطي (٣ ‏/١١٠٥

⇒Berita Seputar Pesantren. Kunjungi dan Follow Kami di ⇒ GOOGLE NEWS ⇐

You Might Also Like

Penerapan Manajemen Risiko di Lingkungan Perusahaan

Ketika Perjalanan Berhenti Sejenak

Penerapan Manajemen Risiko dalam Operasional Bisnis Online Skala Kecil

Peningkatan Kompetensi Santri melalui Pelatihan Manajemen dan Kepemimpinan

Tasawuf Ki Bagoes Hadikoesoemo dan HAMKA, Tasawuf dalam dzikir, dzikir dalam bertasawuf

TAGGED:agamabara apiimanmuslim
Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Telegram Email Print
Jasa pembuatan website SEO

Follow US

Yuk Join Sosial Media
FacebookLike
InstagramFollow
YoutubeSubscribe
TelegramFollow

10 Berita Pilihan

Seputar Pesantren
dulu santri

Dulu Santri Panutan, Sekarang Lupa Jalan

Suara Pesantren Suara Pesantren 04/10/2026
Inilah 10 Tips Liburan Wisata Halal ke Eropa Barat Biar Berkesan
Ibadah Umroh Bersama Khadim Wisata, Travel Resmi di Bogor
Prabowo Gaungkan ‘Free Palestina’ di Kesyukuran 100 Tahun Pondok Gontor
Prabowo Apresiasi Nilai-nilai Pendidikan Pondok Modern Gontor
KKN-T Universitas Alma Ata Bekali Siswa SMA Ma’arif 1 Srumbung Cara Hindari Scam Digital
Inspirasi Gamis Muslimah Syar’i dengan Detail Feminin 
7 Alasan Menarik Mengapa Kuliah Kedokteran di Luar Negeri Jadi Pilihan Terbaik! 
1926: Ketika NU dan Gontor Menjawab Zaman
Menghafal Al-Qur’an di Luar Pesantren: Apa yang Membuatnya Bertahan

Jasa Blogroll & Publikasi

  • Suara Muslim
  • Seputar Masjid
  • Seputar Halal
  • Seputar Kuliner
  • Seputar Kesehatan
  • Promo UKM
  • Wisata Indonesia
  • Inilah Kita
  • Beasiswa Kampus
  • Indonesia Sentris
  • Seputar Rumah
  • Seputar Keamanan
  • Kota Surabaya
  • Info Nasional
  • Info Perkotaan
  • Info Bekasi
  • Market Daily
  • Berita Santai
  • Berita Tekno
  • Portal Mahasiswa
  • Media Outsourcing
  • Kirim Artikel
  • Pendidikan
  • Bisnis Daily

‎اَلسَلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَات ‎اَلسَلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ 

Salam Fathan Mubina, Salam Kemenangan…!
Kepada Ayah Bunda, yang Disayangi Allah SWT

Sebagai wujud kecintaan dan dukungan dakwah pendidikan melalui *Pesantren Ciawi Bogor Fathan Mubina*…
Kami dari Panitia Penerimaan Santri Baru ingin menyampaikan informasi ini sebagai pengingat dalam penyebaran informasi pendaftaran lembaga pendidikan yang berada dibawah asuhan Yayasan Pembangunan Umat Fathan Mubina. Terima Kasih 

Wassalamualaikum Wr. Wb.

@pesantrenfathanmubina @fathanmubinatv #santribaru
Follow on Instagram

FACEBOOK

Artikel Lainnya

bahasa hukum
OPINI

Urgensi Kejelasan, Konsistensi, dan Objektivitas Bahasa Hukum

15/02/2026
saiful falah
OPINI

Bogor Barat Butuh Keragaman Sarjana

06/08/2026
deni hidaytuallah
OPINI

Menakar Standarisasi vs. Keunikan Lokal Pesantren, di Tengah Penyeragaman Kurikulum Negara

15/08/2026
OPINI

Peran Model B2B2C dalam Meningkatkan Kualitas Layanan di Era Digital

27/04/2026
ahmadie thaha (cak at)
OPINI

Bersama Berbeda Menuju Indonesia Emas

15/02/2026
  • Tentang SP
  • Redaksi
  • Jasa Publikasi
  • Disclaimer
  • Pedoman Siber
  • Kirim Artikel
logo suara pesantren logo suara pesantren

Suara Pesantren, media informasi seputar pesantren di Indonesia.
Yuk, support pengembangan website Suara Pesantren agar menjadi lebih baik. Untuk kerjasama, hubungi kami. Terima kasih. Jazakumullah.

© Suara Pesantren | Digital Media Labs
suara pesantren
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?