Suara Pesantren | Pada setiap zaman, manusia menghadapi tantangan dalam mempertahankan keimanan. Namun, ada masa dimana tantangan tersebut menjadi jauh lebih berat yaitu ketika kemaksiatan semakin terang terangan, keburukan dianggap biasa, sementara orang yang berusaha menjaga agamanya justru merasa asing di tengah masyarakat.
Rasulullah ﷺ telah memberikan gambaran tentang kondisi semacam ini melalui sabdanya:
عن أنس – رضي الله عنه – قال: قال رسول الله – ﷺ -:)يأتي على الناس زمان، الصابر فيهم على دينه كالقابض على الجمر( رواه الترمذي
Artinya: Akan datang kepada manusia suatu zaman, dimana orang yang bersabar dalam mempertahankan agamanya di tengah mereka seperti halnya orang yang menggenggam bara api. Hadis riwayat al-Tirmidzi.
Kalimat «كَالْقَابِضِ عَلَى الْجَمْرِ» bukan sekadar ungkapan untuk menggambarkan kesulitan biasa. Ia merupakan sebuah perumpamaan yang sangat kuat tentang beratnya mempertahankan agama ketika lingkungan sekitar tidak lagi mendukung. Al-Ṭayyibī menjelaskan:
وَالْمَعْنَى كَمَا لَا يَقْدِرُ الْقَابِضُ عَلَى الْجَمْرِ أَنْ يَصْبِرَ بِإِحْرَاقِ يَدِهِ، كَذَلِكَ الْمُتَدَيِّنُ يَوْمَئِذٍ لَا يَقْدِرُ عَلَى ثَبَاتِهِ عَلَى دِينِهِ لِغَلَبَةِ الْعُصَاةِ وَالْمَعَاصِي، وَانْتِشَارِ الْفِسْقِ وَضَعْفِ الْإِيمَانِ
Artinya: Sebagaimana orang yang menggenggam bara api itu tidak dapat bersabar sebab tangan yang terbakar, demikian pula orang yang beragama pada masa itu sulit untuk tetap teguh dalam memegang agamanya karena banyaknya pelaku maksiat dan kemaksiatan, tersebarnya kefasikan, serta lemahnya iman.
Penjelasan ini terasa begitu dekat dengan terasa dalam kehidupan hari ini. Bukan berarti kita dapat memastikan bahwa zaman yang disebutkan Nabi ﷺ secara pasti adalah zaman kita. Namun, berbagai fenomena yang disebutkan para ulama dalam menjelaskan hadis tersebut tampak semakin nyata dan mudah ditemukan.
Kemaksiatan tidak lagi selalu dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Dengan teknologi digital, sesuatu yang dahulu membutuhkan ruang dan kesempatan tertentu, kini dapat masuk ke ruang pribadi hanya melalui sebuah layar. Konten yang tidak mendidik, budaya pamer, ujaran kebencian, pornografi, perjudian daring, serta berbagai bentuk kemaksiatan dapat tersebar luas dengan sangat cepat.
Yang lebih mengkhawatirkan bukan hanya banyaknya kemaksiatan, tetapi ketika kemaksiatan tersebut mulai kehilangan rasa malu. Sesuatu yang dahulu dianggap aib dapat berubah menjadi tontonan. Sesuatu yang dahulu dihindari dapat dipromosikan sebagai gaya hidup. Pada titik inilah seorang Muslim membutuhkan kesabaran sebagaimana gambaran menggenggam bara api.
Al-Mullā ‘Alī al-Qārī memberikan penekanan yang lebih mendalam:
كذلك في ذلك الزمان لا يتصور حفظ دينه ونور إيمانه إلا لصبرعظيم وتعب جسيم
Artinya: Demikian pula pada zaman tersebut, menjaga agama dan cahaya iman tidak mungkin dilakukan kecuali dengan kesabaran yang besar dan perjuangan yang berat.
Artinya mempertahankan iman tidak cukup hanya dengan memiliki identitas sebagai seorang Muslim. Ia membutuhkan perjuangan. Ketika lingkungan mengajak kepada kelalaian, seorang Muslim harus berusaha tetap mengingat Allah. Ketika banyak orang meremehkan salat, ia harus tetap menjaga salatnya. Ketika kejujuran dianggap merugikan, ia harus tetap jujur. Ketika dosa menjadi sesuatu yang lumrah, ia harus tetap memiliki rasa takut kepada Allah.
Kondisi tersebut semakin relevan jika dikaitkan dengan hadis lain:
بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيبًا، وَسَيَعُودُ غَرِيبًا كَمَا بَدَأَ، فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ
Artinya: Islam bermula dalam keadaan asing dan akan kembali menjadi asing sebagaimana permulaannya. Maka beruntunglah orang-orang yang asing.” Hadis ini diriwayatkan antara lain oleh al-Tirmidzi dan Ibn Mājah.
Al-Suyūṭī menjelaskan bahwa pada masa ketika kemungkaran semakin banyak, melakukan amar makruf nahi mungkar juga menjadi semakin berat karena sedikitnya orang yang membantu dan banyaknya kemungkaran yang harus dihadapi, Maka dari itu orang yang mampu mempertahankan agamanya di tengah keadaan tersebut diumpamakan seperti halnya orang yang menggenggam bara api.
Di sinilah kita dapat melihat relevesinya yang dimana ketika Seorang pemuda memilih menjaga pergaulan, ketika pergaulan bebas dianggap biasa, maka akan dianggap kuno. Seseorang yang menjaga salat di tengah kesibukan dianggap terlalu religius. Orang yang berusaha menjaga lisannya dari ghibah dan hinaan di media social dianggap tidak mengikuti zaman. Padahal, ukuran kebenaran bukanlah seberapa banyak orang yang melakukannya. Jika sebuah lingkungan telah terbiasa dengan sesuatu yang salah, maka banyak pelaku otomatis mengubah kesalahan menjadi sebuah kebenaran.
Namun demikian, hadis ini tidak boleh dijadikan alasan untuk mencela seluruh zaman atau menganggap semua manusia telah rusak. Di tengah berbagai kemaksiatan, masih banyak orang yang menjaga salat, menuntut ilmu, berdzikir, menghidupkan masjid, mendidik anak dengan nilai-nilai agama, dan berusaha memperbaiki masyarakat. Mereka adalah bagian dari harapan yang harus tetap terus dijaga.
Hadis tentang orang yang menggenggam bara api memberikan gambaran mendalam tentang beratnya mempertahankan iman ketika kemaksiatan semakin dominan, kefasikan tersebar, dan keimanan melemah. Al-Ṭayyibī menekankan dominasi kemaksiatan dan lemahnya iman, sedangkan al-Mullā ‘Alī al-Qārī menegaskan bahwa menjaga agama pada keadaan tersebut membutuhkan kesabaran besar dan perjuangan yang berat. Jika melihat kehidupan hari ini, berbagai fenomena tersebut memang tampak semakin nyata.
Namun, kita tidak perlu tergesa-gesa memastikan bahwa zaman yang dimaksud hadis secara pasti adalah zaman sekarang. Yang terpenting adalah mengambil peringatan darinya. Sebab, ketika agama terasa asing, pada saat itulah seorang Muslim harus semakin dekat kepada Allah. Ketika kebaikan terasa berat, ia harus semakin bersabar. Dan ketika dunia seakan mendorongnya untuk melepaskan prinsip agama, ia harus mengingat kembali pesan Nabi ﷺ: tetaplah bertahan, meskipun mempertahankan iman terasa seperti menggenggam bara api.
——-
مرقاة المفاتيح شرح مشكاة المصابيح – الملا على القاري (٨ / ٣٣٦٤–٨ / ٣٣٦٥
مرقاة الصعود إلى سنن أبي داود – الجلال السيوطي (٣ /١١٠٥

