Suara Pesantren | “Kita tidak perlu terus berlari kencang. Dalam setiap perjalanan, ada jeda yang meminta untuk disapa.”
Pagi itu, seorang lelaki duduk santai di teras rumahnya. Sebuah kursi kayu tua menyangga tubuhnya dengan nyaman. Cat kursi itu mulai memudar dan beberapa bagiannya terlihat kusam dimakan usia. Namun pagi itu, kursi sederhana tersebut terasa lebih menenangkan daripada sofa mahal di ruangan berpendingin udara.
Tangannya tidak memegang telepon genggam. Tidak ada pesan yang sedang dibalas, berita yang sedang dibaca, atau layar yang terus digeser dengan jari meskipun sebenarnya tidak ada sesuatu yang benar-benar sedang dicari. Di atas meja kecil di sampingnya hanya ada secangkir teh hangat. Ia mengangkat cangkir itu perlahan, lalu menyeruputnya sedikit demi sedikit. Tidak tergesa-gesa. Seakan-akan ia sedang menikmati setiap tegukan yang selama ini selalu hilang ditelan kesibukan.
Matanya memandang sebuah pohon rambutan tua yang berdiri tidak jauh dari halaman rumah. Dahannya memang sudah tidak serimbun dahulu. Sebagian rantingnya mulai mengering. Kulit batangnya tampak kasar dan retak dimakan usia. Namun pohon itu tetap berdiri dengan tenang. Sesekali angin menggerakkan daun-daunnya. Beberapa ekor burung kecil hinggap sebentar, berkicau, lalu kembali terbang.
Lelaki itu tidak melakukan apa-apa. Ia hanya duduk dan memandang halaman rumahnya. Anehnya, pagi itu ia merasa sedang menemukan sesuatu yang telah lama hilang dari hidupnya: ketenangan. Sesuatu yang tidak bisa dibeli, tetapi sering kali justru hilang ketika manusia terlalu sibuk mengejar banyak hal.
Barangkali selama ini kita terlalu sibuk berjalan hingga lupa bagaimana rasanya duduk. Kita terlalu sering mengejar sesuatu hingga lupa menikmati apa yang sebenarnya sudah berada di depan mata. Kita minum kopi sambil membalas pesan, makan sambil melihat layar, dan berbincang dengan keluarga sementara pikiran berada di tempat lain. Bahkan ketika tubuh sudah sampai di rumah, pekerjaan masih ikut masuk, duduk di ruang makan, berbaring di tempat tidur, lalu bangun bersama kita pada pagi berikutnya.
Kita sering mengira bahwa istirahat adalah hadiah yang baru boleh dinikmati setelah semua pekerjaan selesai. Padahal pekerjaan manusia tidak pernah benar-benar selesai. Hari ini kita menyelesaikan satu urusan, besok datang urusan yang lain. Anak-anak tumbuh dengan kebutuhan yang berbeda. Orang tua bertambah usia. Tanggung jawab semakin banyak, sementara tubuh tidak lagi sekuat dahulu. Kehidupan terus berjalan tanpa pernah bertanya apakah kita sudah siap atau belum.
Kalau menunggu seluruh pekerjaan selesai untuk beristirahat, mungkin kita tidak akan pernah benar-benar beristirahat. Sebab kehidupan selalu mempunyai cara untuk menghadirkan daftar pekerjaan baru. Satu daftar dicoret, daftar lainnya muncul. Satu persoalan selesai, persoalan lain sudah menunggu di depan pintu. Karena itu, sesekali berhentilah. Bukan karena perjalanan telah berakhir, melainkan karena perjalanan ini masih panjang.
Seorang pendaki gunung tidak duduk di atas batu karena menyerah. Ia duduk karena masih ingin mencapai puncak. Ia melepaskan tas dari punggungnya, meminum air yang dibawanya, mengatur napas, lalu memandang lembah yang terbentang di bawah sana. Barangkali ia juga tersenyum melihat jalan panjang yang telah berhasil dilewati. Setelah tenaganya kembali, ia berdiri, mengangkat tasnya, dan melanjutkan perjalanan.
Hidup pun demikian. Tidak setiap saat kita harus berlari. Ada waktunya berjalan cepat, ada waktunya memperlambat langkah, dan ada waktunya duduk sejenak. Bahkan ada waktunya diam. Diam bukan berarti tidak melakukan apa-apa. Kadang-kadang, dalam diam, kita sedang mengumpulkan kembali bagian-bagian diri yang tercecer sepanjang perjalanan. Kita sedang mendengarkan tubuh yang kelelahan, memberi ruang kepada pikiran yang terlalu penuh, dan memeluk hati yang selama ini dipaksa terlihat kuat.
Sering kali, jawaban yang kita cari tidak datang ketika kita berlari. Ia justru datang ketika kita berhenti. Ketika suara dunia mulai pelan, tuntutan orang lain tidak lagi terlalu keras terdengar, dan hati mulai tenang. Pada saat itulah kita bisa mendengar suara yang selama ini kalah oleh riuhnya kehidupan. Sebuah suara yang bertanya dengan lembut, “Sebenarnya, ke mana kita sedang menuju?”
Pertanyaan itu sederhana, tetapi mungkin sudah lama tidak kita jawab. Kita terlalu sibuk memastikan kendaraan terus berjalan, tetapi lupa memeriksa arah perjalanan. Kita bekerja keras agar kehidupan menjadi lebih baik, tetapi tanpa sadar kehilangan waktu untuk menikmati hidup yang sedang diperjuangkan. Kita mencari nafkah untuk keluarga, tetapi terlalu sibuk hingga tidak sempat duduk bersama mereka. Kita ingin membahagiakan anak-anak, tetapi sering melewatkan cerita-cerita kecil yang ingin mereka sampaikan.
Kita membangun rumah yang besar, tetapi lupa menciptakan suasana yang membuat penghuninya ingin segera pulang. Kita menyediakan banyak hal untuk orang-orang yang dicintai, tetapi tidak selalu menyediakan waktu untuk hadir di samping mereka. Mungkin itulah sebabnya kita perlu berhenti sejenak. Bukan untuk meninggalkan tanggung jawab, melainkan untuk mengingat kembali alasan mengapa kita menjalaninya.
Dalam kehidupan seorang Muslim, berhenti sebenarnya bukan sesuatu yang asing. Lima kali dalam sehari, kita diminta meninggalkan kesibukan. Pekerjaan dihentikan, telepon genggam diletakkan, dan percakapan ditunda. Kita berdiri menghadap Allah. Salat seperti jeda yang diletakkan Tuhan di tengah kesibukan manusia agar kita tidak terlalu jauh terseret oleh dunia dan agar langkah yang mulai kehilangan arah dapat kembali menemukan jalannya.
Bahkan setelah selesai menunaikan salat, kita tidak selalu langsung berdiri dan pergi. Kita duduk sebentar, berzikir, berdoa, dan menenangkan hati. Seakan-akan Allah sedang mengajarkan bahwa manusia membutuhkan waktu untuk menata kembali batinnya. Barangkali hidup juga demikian. Sesudah sibuk memenuhi berbagai panggilan dunia, kita memerlukan waktu untuk kembali mendengarkan panggilan hati.
Tidak perlu menunggu datangnya liburan panjang. Tidak harus pergi ke tempat yang jauh. Tidak selalu membutuhkan hotel mahal atau perjalanan ke luar kota. Kadang-kadang, yang kita perlukan hanyalah sebuah kursi kayu tua di teras rumah, secangkir teh hangat, pohon rambutan yang telah lama berdiri di halaman, dan keberanian untuk meletakkan telepon genggam selama beberapa menit.
Duduklah. Tarik napas perlahan. Pandanglah langit. Dengarkan suara angin yang menyentuh dedaunan. Perhatikan cahaya matahari yang jatuh di halaman. Barangkali dunia tidak pernah benar-benar kehilangan keindahannya. Kita saja yang terlalu sibuk sehingga tidak sempat melihatnya.
Biarkan hati mengatakan apa yang selama ini tidak sempat ia katakan. Mungkin ia sedang lelah. Mungkin ia sedang kecewa. Mungkin ia sedang takut menghadapi hari esok. Mungkin pula ia hanya ingin didengarkan tanpa segera diberi nasihat. Sebab hati yang didengarkan akan lebih mudah diajak melanjutkan perjalanan. Sebaliknya, hati yang terus dipaksa berjalan lambat laun akan kehilangan arah. Ia mungkin tetap bergerak, tetapi tidak lagi memahami apa yang sedang dikejar.
Lelaki di teras rumah itu akhirnya menghabiskan tegukan terakhir tehnya. Matahari mulai meninggi. Suara kendaraan mulai terdengar dari kejauhan. Kehidupan kembali memanggilnya. Sebentar lagi ia akan berdiri dari kursi kayu itu, kembali bekerja, menyelesaikan urusan, menjawab pesan, dan menghadapi berbagai persoalan yang belum selesai.
Namun pagi itu, ia tidak bangkit sebagai orang yang sama. Tubuhnya mungkin masih memikul tanggung jawab yang serupa. Masalahnya belum hilang dan pekerjaannya belum selesai. Akan tetapi, hatinya terasa lebih lapang. Ia telah berhenti sejenak, bukan untuk mengakhiri perjalanan, melainkan untuk mengingat kembali mengapa perjalanan itu harus diteruskan.[]

