Suara Pesantren — Media Pesantren IndonesiaSuara Pesantren — Media Pesantren IndonesiaSuara Pesantren — Media Pesantren Indonesia
Notification Show More
Font ResizerAa
  • Home
  • Kirim Artikel
  • Nasional
    • 100 Th Gontor
    • Wejangan
    • Tuntunan
    • Muamalah
    • Regulasi
    • Kesehatan
  • Kilas Pesantren
  • Review Pesantren
  • Jejak Ulama
  • Kiai-Ustadz
  • Santri-Alumni
  • Pendidikan Islam
    • Beasiswa
Reading: Ketika Perjalanan Berhenti Sejenak
Share
Font ResizerAa
Suara Pesantren — Media Pesantren IndonesiaSuara Pesantren — Media Pesantren Indonesia
  • Home
  • Kirim Artikel
  • Nasional
  • Kilas Pesantren
  • Review Pesantren
  • Jejak Ulama
  • Kiai-Ustadz
  • Santri-Alumni
  • Pendidikan Islam
Search
  • Home
  • Kirim Artikel
  • Nasional
    • 100 Th Gontor
    • Wejangan
    • Tuntunan
    • Muamalah
    • Regulasi
    • Kesehatan
  • Kilas Pesantren
  • Review Pesantren
  • Jejak Ulama
  • Kiai-Ustadz
  • Santri-Alumni
  • Pendidikan Islam
    • Beasiswa
Have an existing account? Sign In
Suara Pesantren — Media Pesantren Indonesia > Blog > OPINI > Ketika Perjalanan Berhenti Sejenak
OPINI

Ketika Perjalanan Berhenti Sejenak

KH. Saiful Falah (Pimpinan Pesantren Modern Ummul Quro Al-Islami Leuwiliang Bogor)

Suara Pesantren
Suara Pesantren Published 02/08/2026 8 Min Read
Share
saatnya berhenti sejenak

Suara Pesantren | “Kita tidak perlu terus berlari kencang. Dalam setiap perjalanan, ada jeda yang meminta untuk disapa.”

- Advertisement -
jasa sosialisasi pesantren

Pagi itu, seorang lelaki duduk santai di teras rumahnya. Sebuah kursi kayu tua menyangga tubuhnya dengan nyaman. Cat kursi itu mulai memudar dan beberapa bagiannya terlihat kusam dimakan usia. Namun pagi itu, kursi sederhana tersebut terasa lebih menenangkan daripada sofa mahal di ruangan berpendingin udara.

Tangannya tidak memegang telepon genggam. Tidak ada pesan yang sedang dibalas, berita yang sedang dibaca, atau layar yang terus digeser dengan jari meskipun sebenarnya tidak ada sesuatu yang benar-benar sedang dicari. Di atas meja kecil di sampingnya hanya ada secangkir teh hangat. Ia mengangkat cangkir itu perlahan, lalu menyeruputnya sedikit demi sedikit. Tidak tergesa-gesa. Seakan-akan ia sedang menikmati setiap tegukan yang selama ini selalu hilang ditelan kesibukan.

Matanya memandang sebuah pohon rambutan tua yang berdiri tidak jauh dari halaman rumah. Dahannya memang sudah tidak serimbun dahulu. Sebagian rantingnya mulai mengering. Kulit batangnya tampak kasar dan retak dimakan usia. Namun pohon itu tetap berdiri dengan tenang. Sesekali angin menggerakkan daun-daunnya. Beberapa ekor burung kecil hinggap sebentar, berkicau, lalu kembali terbang.

Lelaki itu tidak melakukan apa-apa. Ia hanya duduk dan memandang halaman rumahnya. Anehnya, pagi itu ia merasa sedang menemukan sesuatu yang telah lama hilang dari hidupnya: ketenangan. Sesuatu yang tidak bisa dibeli, tetapi sering kali justru hilang ketika manusia terlalu sibuk mengejar banyak hal.

Barangkali selama ini kita terlalu sibuk berjalan hingga lupa bagaimana rasanya duduk. Kita terlalu sering mengejar sesuatu hingga lupa menikmati apa yang sebenarnya sudah berada di depan mata. Kita minum kopi sambil membalas pesan, makan sambil melihat layar, dan berbincang dengan keluarga sementara pikiran berada di tempat lain. Bahkan ketika tubuh sudah sampai di rumah, pekerjaan masih ikut masuk, duduk di ruang makan, berbaring di tempat tidur, lalu bangun bersama kita pada pagi berikutnya.

Kita sering mengira bahwa istirahat adalah hadiah yang baru boleh dinikmati setelah semua pekerjaan selesai. Padahal pekerjaan manusia tidak pernah benar-benar selesai. Hari ini kita menyelesaikan satu urusan, besok datang urusan yang lain. Anak-anak tumbuh dengan kebutuhan yang berbeda. Orang tua bertambah usia. Tanggung jawab semakin banyak, sementara tubuh tidak lagi sekuat dahulu. Kehidupan terus berjalan tanpa pernah bertanya apakah kita sudah siap atau belum.

Kalau menunggu seluruh pekerjaan selesai untuk beristirahat, mungkin kita tidak akan pernah benar-benar beristirahat. Sebab kehidupan selalu mempunyai cara untuk menghadirkan daftar pekerjaan baru. Satu daftar dicoret, daftar lainnya muncul. Satu persoalan selesai, persoalan lain sudah menunggu di depan pintu. Karena itu, sesekali berhentilah. Bukan karena perjalanan telah berakhir, melainkan karena perjalanan ini masih panjang.

Seorang pendaki gunung tidak duduk di atas batu karena menyerah. Ia duduk karena masih ingin mencapai puncak. Ia melepaskan tas dari punggungnya, meminum air yang dibawanya, mengatur napas, lalu memandang lembah yang terbentang di bawah sana. Barangkali ia juga tersenyum melihat jalan panjang yang telah berhasil dilewati. Setelah tenaganya kembali, ia berdiri, mengangkat tasnya, dan melanjutkan perjalanan.

Hidup pun demikian. Tidak setiap saat kita harus berlari. Ada waktunya berjalan cepat, ada waktunya memperlambat langkah, dan ada waktunya duduk sejenak. Bahkan ada waktunya diam. Diam bukan berarti tidak melakukan apa-apa. Kadang-kadang, dalam diam, kita sedang mengumpulkan kembali bagian-bagian diri yang tercecer sepanjang perjalanan. Kita sedang mendengarkan tubuh yang kelelahan, memberi ruang kepada pikiran yang terlalu penuh, dan memeluk hati yang selama ini dipaksa terlihat kuat.

Sering kali, jawaban yang kita cari tidak datang ketika kita berlari. Ia justru datang ketika kita berhenti. Ketika suara dunia mulai pelan, tuntutan orang lain tidak lagi terlalu keras terdengar, dan hati mulai tenang. Pada saat itulah kita bisa mendengar suara yang selama ini kalah oleh riuhnya kehidupan. Sebuah suara yang bertanya dengan lembut, “Sebenarnya, ke mana kita sedang menuju?”

Pertanyaan itu sederhana, tetapi mungkin sudah lama tidak kita jawab. Kita terlalu sibuk memastikan kendaraan terus berjalan, tetapi lupa memeriksa arah perjalanan. Kita bekerja keras agar kehidupan menjadi lebih baik, tetapi tanpa sadar kehilangan waktu untuk menikmati hidup yang sedang diperjuangkan. Kita mencari nafkah untuk keluarga, tetapi terlalu sibuk hingga tidak sempat duduk bersama mereka. Kita ingin membahagiakan anak-anak, tetapi sering melewatkan cerita-cerita kecil yang ingin mereka sampaikan.

Kita membangun rumah yang besar, tetapi lupa menciptakan suasana yang membuat penghuninya ingin segera pulang. Kita menyediakan banyak hal untuk orang-orang yang dicintai, tetapi tidak selalu menyediakan waktu untuk hadir di samping mereka. Mungkin itulah sebabnya kita perlu berhenti sejenak. Bukan untuk meninggalkan tanggung jawab, melainkan untuk mengingat kembali alasan mengapa kita menjalaninya.

Dalam kehidupan seorang Muslim, berhenti sebenarnya bukan sesuatu yang asing. Lima kali dalam sehari, kita diminta meninggalkan kesibukan. Pekerjaan dihentikan, telepon genggam diletakkan, dan percakapan ditunda. Kita berdiri menghadap Allah. Salat seperti jeda yang diletakkan Tuhan di tengah kesibukan manusia agar kita tidak terlalu jauh terseret oleh dunia dan agar langkah yang mulai kehilangan arah dapat kembali menemukan jalannya.

Bahkan setelah selesai menunaikan salat, kita tidak selalu langsung berdiri dan pergi. Kita duduk sebentar, berzikir, berdoa, dan menenangkan hati. Seakan-akan Allah sedang mengajarkan bahwa manusia membutuhkan waktu untuk menata kembali batinnya. Barangkali hidup juga demikian. Sesudah sibuk memenuhi berbagai panggilan dunia, kita memerlukan waktu untuk kembali mendengarkan panggilan hati.

Tidak perlu menunggu datangnya liburan panjang. Tidak harus pergi ke tempat yang jauh. Tidak selalu membutuhkan hotel mahal atau perjalanan ke luar kota. Kadang-kadang, yang kita perlukan hanyalah sebuah kursi kayu tua di teras rumah, secangkir teh hangat, pohon rambutan yang telah lama berdiri di halaman, dan keberanian untuk meletakkan telepon genggam selama beberapa menit.

Duduklah. Tarik napas perlahan. Pandanglah langit. Dengarkan suara angin yang menyentuh dedaunan. Perhatikan cahaya matahari yang jatuh di halaman. Barangkali dunia tidak pernah benar-benar kehilangan keindahannya. Kita saja yang terlalu sibuk sehingga tidak sempat melihatnya.

Biarkan hati mengatakan apa yang selama ini tidak sempat ia katakan. Mungkin ia sedang lelah. Mungkin ia sedang kecewa. Mungkin ia sedang takut menghadapi hari esok. Mungkin pula ia hanya ingin didengarkan tanpa segera diberi nasihat. Sebab hati yang didengarkan akan lebih mudah diajak melanjutkan perjalanan. Sebaliknya, hati yang terus dipaksa berjalan lambat laun akan kehilangan arah. Ia mungkin tetap bergerak, tetapi tidak lagi memahami apa yang sedang dikejar.

Lelaki di teras rumah itu akhirnya menghabiskan tegukan terakhir tehnya. Matahari mulai meninggi. Suara kendaraan mulai terdengar dari kejauhan. Kehidupan kembali memanggilnya. Sebentar lagi ia akan berdiri dari kursi kayu itu, kembali bekerja, menyelesaikan urusan, menjawab pesan, dan menghadapi berbagai persoalan yang belum selesai.

Namun pagi itu, ia tidak bangkit sebagai orang yang sama. Tubuhnya mungkin masih memikul tanggung jawab yang serupa. Masalahnya belum hilang dan pekerjaannya belum selesai. Akan tetapi, hatinya terasa lebih lapang. Ia telah berhenti sejenak, bukan untuk mengakhiri perjalanan, melainkan untuk mengingat kembali mengapa perjalanan itu harus diteruskan.[]

⇒Berita Seputar Pesantren. Kunjungi dan Follow Kami di ⇒ GOOGLE NEWS ⇐

You Might Also Like

Peningkatan Kompetensi Santri melalui Pelatihan Manajemen dan Kepemimpinan

 Memegang Agama Terasa seperti Menggenggam Bara Api

Bersama Berbeda Menuju Indonesia Emas

1926: Ketika NU dan Gontor Menjawab Zaman

Dulu Santri Panutan, Sekarang Lupa Jalan

Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Telegram Email Print
Jasa pembuatan website SEO

Follow US

Yuk Join Sosial Media
FacebookLike
InstagramFollow
YoutubeSubscribe
TelegramFollow

10 Berita Pilihan

Seputar Pesantren
wisata halal eropa barat

Inilah 10 Tips Liburan Wisata Halal ke Eropa Barat Biar Berkesan

Suara Pesantren Suara Pesantren 30/09/2026
Ibadah Umroh Bersama Khadim Wisata, Travel Resmi di Bogor
Prabowo Gaungkan ‘Free Palestina’ di Kesyukuran 100 Tahun Pondok Gontor
Prabowo Apresiasi Nilai-nilai Pendidikan Pondok Modern Gontor
KKN-T Universitas Alma Ata Bekali Siswa SMA Ma’arif 1 Srumbung Cara Hindari Scam Digital
Inspirasi Gamis Muslimah Syar’i dengan Detail Feminin 
7 Alasan Menarik Mengapa Kuliah Kedokteran di Luar Negeri Jadi Pilihan Terbaik! 
Menghafal Al-Qur’an di Luar Pesantren: Apa yang Membuatnya Bertahan
Panduan Memilih Travel Umroh Resmi untuk Wilayah Bogor
Beasiswa Santri BAZNAS 2026: Pesantren Wajib Siapkan Dokumen Kelembagaan Sebelum 14 September

Jasa Blogroll & Publikasi

  • Suara Muslim
  • Seputar Masjid
  • Seputar Halal
  • Seputar Kuliner
  • Seputar Kesehatan
  • Promo UKM
  • Wisata Indonesia
  • Inilah Kita
  • Beasiswa Kampus
  • Indonesia Sentris
  • Seputar Rumah
  • Seputar Keamanan
  • Kota Surabaya
  • Info Nasional
  • Info Perkotaan
  • Info Bekasi
  • Market Daily
  • Berita Santai
  • Berita Tekno
  • Portal Mahasiswa
  • Media Outsourcing
  • Kirim Artikel
  • Pendidikan
  • Bisnis Daily

‎اَلسَلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَات ‎اَلسَلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ 

Salam Fathan Mubina, Salam Kemenangan…!
Kepada Ayah Bunda, yang Disayangi Allah SWT

Sebagai wujud kecintaan dan dukungan dakwah pendidikan melalui *Pesantren Ciawi Bogor Fathan Mubina*…
Kami dari Panitia Penerimaan Santri Baru ingin menyampaikan informasi ini sebagai pengingat dalam penyebaran informasi pendaftaran lembaga pendidikan yang berada dibawah asuhan Yayasan Pembangunan Umat Fathan Mubina. Terima Kasih 

Wassalamualaikum Wr. Wb.

@pesantrenfathanmubina @fathanmubinatv #santribaru
Follow on Instagram

FACEBOOK

Artikel Lainnya

saiful falah
OPINI

Bogor Barat Butuh Keragaman Sarjana

06/08/2026
OPINI

Penerapan Manajemen Risiko di Lingkungan Perusahaan

28/04/2026
OPINI

Tasawuf Ki Bagoes Hadikoesoemo dan HAMKA, Tasawuf dalam dzikir, dzikir dalam bertasawuf

27/04/2026
deni hidaytuallah
OPINI

Menakar Standarisasi vs. Keunikan Lokal Pesantren, di Tengah Penyeragaman Kurikulum Negara

15/08/2026
OPINI

Peran Model B2B2C dalam Meningkatkan Kualitas Layanan di Era Digital

27/04/2026
bahasa hukum
OPINI

Urgensi Kejelasan, Konsistensi, dan Objektivitas Bahasa Hukum

15/02/2026
OPINI

Penerapan Manajemen Risiko dalam Operasional Bisnis Online Skala Kecil

27/04/2026
  • Tentang SP
  • Redaksi
  • Jasa Publikasi
  • Disclaimer
  • Pedoman Siber
  • Kirim Artikel
logo suara pesantren logo suara pesantren

Suara Pesantren, media informasi seputar pesantren di Indonesia.
Yuk, support pengembangan website Suara Pesantren agar menjadi lebih baik. Untuk kerjasama, hubungi kami. Terima kasih. Jazakumullah.

© Suara Pesantren | Digital Media Labs
suara pesantren
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?