Suara Pesantren | Depok–Dari benih kecil yang disemai dengan telaten, kini tumbuh sayuran hijau yang siap dipanen. Green House Madinatul Qur’an (MQ) Depok memasuki pengalaman baru melalui panen perdana tanaman pakcoy pada pekan terakhir Oktober 2026. Lebih dari sekadar memanen sayuran, kegiatan ini menjadi bagian dari proses pembelajaran santri dalam mengenal dunia pertanian secara langsung.
Green House yang dikelola Unit Sarana dan Prasarana (Sarpras) MQ tersebut mulai menanam sekitar 600 bibit pakcoy pada awal September 2026. Setelah melalui proses perawatan selama kurang lebih 45 hari, tanaman yang dibudidayakan dengan sistem hidroponik itu akhirnya siap dipanen.
Penanaman pakcoy dipilih karena tanaman ini dinilai memiliki tampilan yang menarik, relatif mudah dirawat, dan cocok dibudidayakan di dalam Green House.
Penanggung Jawab (PJ) Green House MQ, Ustadz Supriyanto, S.I.Kom., mengatakan bahwa panen kali ini merupakan siklus pertama pada tahun ajaran ini. Proses penanaman dan perawatannya dilakukan dengan melibatkan tim Sarpras bersama santri kelas XI SMA TQT MQ.
Menanam Pakcoy Butuh Ilmu, Kesabaran, dan Ketelatenan
Di balik hasil panen yang terlihat segar, ada proses panjang yang harus dilalui. Mulai dari penyemaian benih, pemantauan pertumbuhan, pengaturan nutrisi, hingga memastikan aliran air tetap berjalan dengan baik.
Ustadz Supriyanto, yang akrab disapa Pak Anto, menegaskan bahwa keberhasilan menanam pakcoy tidak hanya bergantung pada ketersediaan bibit dan peralatan, tetapi juga kesabaran serta ketelatenan dalam merawatnya. “Syarat menanam pakcoy supaya berhasil harus sabar dan telaten,” ungkapnya.
Menurut Pak Anto, pengetahuan tentang teknik budidaya juga menjadi modal penting. Ilmu menanam dapat dipelajari melalui berbagai sumber, seperti jurnal pertanian maupun video tutorial di YouTube. Setelah itu, proses penyemaian benih harus dilakukan dengan benar, disertai pemantauan nutrisi dan aliran air secara rutin. “Jangan sampai kering, sebab ada juga bibit yang enggak tumbuh,” jelasnya.
Faktor lain yang tidak kalah penting adalah kecukupan sinar matahari. Tanaman yang memperoleh paparan sinar matahari cukup cenderung tumbuh lebih besar, sedangkan tanaman yang kurang mendapatkan cahaya menghasilkan ukuran yang lebih kecil.
Dari proses tersebut, para santri belajar bahwa bercocok tanam bukan sekadar memasukkan benih ke media tanam dan menunggu hasilnya. Ada pengetahuan, keterampilan, kedisiplinan, dan perhatian berkelanjutan yang harus diterapkan.
Hasil Panen Dibagikan kepada Keluarga Besar Pesantren
Panen perdana ini tidak hanya menjadi kebanggaan tim pengelola Green House, tetapi juga menghadirkan manfaat langsung bagi keluarga besar MQ.
Sebagian besar hasil panen pakcoy didistribusikan secara gratis kepada keluarga besar pesantren, meskipun belum seluruhnya mendapatkan bagian. Sementara itu, sebagian hasil panen lainnya dibeli oleh para wali santri.
Meski sudah menghasilkan panen dan mulai ada pemasukan, Pak Anto mengakui bahwa pengelolaan Green House belum mencapai titik balik modal. “Belum balik modal,” ujarnya sambil tertawa.
Untuk satu kali penanaman, biaya yang dibutuhkan diperkirakan mencapai Rp1.400.000. Anggaran tersebut digunakan untuk memulai kembali proses budidaya, termasuk membeli sejumlah peralatan yang rusak dan perlu diganti.
Pengalaman ini menjadi pelajaran tersendiri bahwa kegiatan budidaya tanaman juga membutuhkan perencanaan biaya, pengelolaan sarana, serta perhitungan hasil produksi agar ke depannya dapat berkembang secara lebih berkelanjutan.
Setelah Pakcoy, Bersiap Menanam Kangkung
Tidak berhenti pada panen pakcoy, Green House MQ telah menyiapkan rencana untuk mencoba membudidayakan jenis sayuran lain, yakni kangkung.
Menurut Pak Anto, penanaman kangkung direncanakan mulai pertengahan November 2026, dengan mempertimbangkan kesiapan modal dan kebutuhan sarana pendukung. “Insyaallah pertengahan November mulai, nunggu modalnya dulu,” cetusnya tersenyum.
Rencana tersebut menunjukkan bahwa Green House MQ diarahkan untuk terus berkembang melalui siklus penanaman yang berkelanjutan. Dengan mencoba berbagai jenis sayuran, para santri diharapkan memperoleh pengalaman yang lebih beragam dalam mengenal teknik budidaya tanaman.
Green House sebagai Laboratorium Praktik dan Kewirausahaan Santri
Lebih jauh, Pak Anto berharap Green House MQ tidak hanya menjadi tempat menanam dan memanen sayuran, tetapi juga berkembang menjadi sarana pembelajaran praktik bagi para santri.
Melalui keterlibatan langsung, santri dapat mempelajari seluruh tahapan kegiatan pertanian, mulai dari menyiapkan bibit, menyemai, merawat tanaman, memanen, mengemas hasil, hingga memasarkannya.
Dengan demikian, pembelajaran tidak berhenti pada aspek teknis bercocok tanam. Para santri juga berkesempatan mengenal dasar-dasar kewirausahaan, pengelolaan modal, proses produksi, dan pemasaran hasil pertanian.
Menariknya, Green House MQ saat ini juga dilengkapi kolam ikan lele Sangkuriang yang dikelola melalui kolaborasi antara Unit Sarpras dan santri kelas XI SMA TQT MQ. Keberadaan kolam tersebut membuka peluang pembelajaran lain, khususnya dalam bidang budidaya perikanan.
Kolaborasi antara pengelola dan santri ini diharapkan menjadi bekal keterampilan praktis yang bermanfaat bagi kehidupan mereka kelak.
Dari Benih Menjadi Kemandirian
Panen perdana pakcoy di Green House MQ Depok mungkin belum menghasilkan keuntungan secara finansial. Bahkan, pengelola masih perlu memperhitungkan kembali biaya operasional dan pengadaan peralatan. Namun, ada hasil lain yang tidak kalah penting: pengalaman, pengetahuan, keterampilan, dan tumbuhnya semangat belajar para santri.
Dari 600 bibit yang ditanam, para santri belajar tentang proses dan tanggung jawab. Dari tanaman yang tumbuh tidak seragam, mereka mengenal pentingnya ketelitian dan kecukupan nutrisi. Sementara dari hasil panen yang dibagikan dan dipasarkan, mereka mulai memahami bahwa sebuah kegiatan produktif juga memiliki nilai ekonomi dan sosial.
Green House MQ diharapkan tumbuh bukan sekadar menjadi tempat menghasilkan sayuran, melainkan ruang belajar untuk menumbuhkan keterampilan, kreativitas, jiwa kewirausahaan, dan kemandirian santri. Sebab, pendidikan yang baik bukan hanya membekali santri dengan ilmu pengetahuan, tetapi juga kemampuan untuk mempraktikkan ilmu dan menghasilkan karya nyata. (Dorifi)

