Suara Pesantren — Media Pesantren IndonesiaSuara Pesantren — Media Pesantren IndonesiaSuara Pesantren — Media Pesantren Indonesia
Notification Show More
Font ResizerAa
  • Home
  • Kirim Artikel
  • Nasional
    • 100 Th Gontor
    • Wejangan
    • Tuntunan
    • Muamalah
    • Regulasi
    • Kesehatan
  • Kilas Pesantren
  • Review Pesantren
  • Jejak Ulama
  • Kiai-Ustadz
  • Santri-Alumni
  • Pendidikan Islam
    • Beasiswa
Reading: KH Abdul Wahid Hasyim, Ulama yang Jadi Menteri Agama di Tiga Kabinet
Share
Font ResizerAa
Suara Pesantren — Media Pesantren IndonesiaSuara Pesantren — Media Pesantren Indonesia
  • Home
  • Kirim Artikel
  • Nasional
  • Kilas Pesantren
  • Review Pesantren
  • Jejak Ulama
  • Kiai-Ustadz
  • Santri-Alumni
  • Pendidikan Islam
Search
  • Home
  • Kirim Artikel
  • Nasional
    • 100 Th Gontor
    • Wejangan
    • Tuntunan
    • Muamalah
    • Regulasi
    • Kesehatan
  • Kilas Pesantren
  • Review Pesantren
  • Jejak Ulama
  • Kiai-Ustadz
  • Santri-Alumni
  • Pendidikan Islam
    • Beasiswa
Have an existing account? Sign In
Suara Pesantren — Media Pesantren Indonesia > Blog > JEJAK ULAMA > KH Abdul Wahid Hasyim, Ulama yang Jadi Menteri Agama di Tiga Kabinet
JEJAK ULAMA

KH Abdul Wahid Hasyim, Ulama yang Jadi Menteri Agama di Tiga Kabinet

Suara Pesantren
Suara Pesantren Published 02/08/2023 7 Min Read
Share
KH Wahid Hasyim

SUARA PESANTREN | Jakarta– KH Abdul Wahid Hasyim merupakan putra pasangan KH Hasyim Asy’ari dengan Nyai Nafiqah binti Kiai Ilyas. Ia lahir di Jombang, Jawa Timur pada Jumat 1 Juni 1914. Saat kelahirannya, di rumahnya sedang ramai pengajian.

- Advertisement -
jasa sosialisasi pesantren

Kiai Wahid Hasyim adalah satu dari sepuluh keturunan langsung KH Hasyim Asy’ari. Silsilah dari jalur ayah ini bersambung hingga Joko Tingkir, tokoh yang kemudian lebih dikenal dengan Sultan Sutawijaya yang berasal dari Kerajaan Demak.

Sedangkan dari pihak ibu, silsilah itu berawal dari Sultan Brawijaya V yang menjadi salah satu raja Kerajaan Mataram. Sultan Brawijaya V ini juga dikenal dengan sebutan Lembu Peteng.

KH Wahid Hasyim

Kesepuluh anak Kiai Hasyim Asy’ari itu adalah Hannah, Khairiyah, Aisyah, Izzah, Abdul Wahid Hasyim, Abdul Khaliq, Abdul Karim, Ubaidillah, Masrurah, dan Muhammad Yusuf. Sementara dengan Nyai Masrurah, KH Hasyim Asy’ari dikaruniai empat anak yakni Abdul Kadir, Fatimah, Khodijah, dan Ya’kub.

Pada usia 12 tahun, selesai dari madrasah, ia membantu ayahnya mengajar. Sebagai anak tokoh terkemuka, Kiai Wahid Hasyim tidak pernah mengenyam pendidikan di bangku sekolah Pemerintah Hindia Belanda.

Kiai Wahid Hasyim banyak belajar otodidak, mempelajari kitab-kitab dan buku berbahasa Arab. Ia mendalami syair-syair berbahasa Arab dan hafal di luar kepala serta menguasai maknanya dengan baik.

Usia 13 tahun, ia dikirim ke Pondok Siwalan, Panji, sebuah pesantren tua di Sidoarjo. Ternyata di sana ia hanya bertahan sebulan. Dari Siwalan, beliau pindah ke Pondok Pesantren Lirboyo di Kediri.

Di pesantren ini ia mondok dalam waktu yang sangat singkat, hanya beberapa hari. Dengan berpindah-pindah pondok dan nyantri hanya dalam hitungan hari itu, seolah-olah yang diperlukan KH Wahid Hasyim hanyalah keberkahan dari sang guru.

Sepulang dari Lirboyo, ia tidak meneruskan belajarnya di pesantren lain, tetapi memilih tinggal di rumah. Selama berada di rumah semangat belajarnya tidak pernah padam, terutama belajar secara otodidak.

Usia 15 tahun, ia sudah mengenal huruf latin dan menguasai bahasa Inggris serta Belanda. Kedua bahasa asing itu dipelajari dengan membaca majalah yang diperoleh dari dalam negeri atau kiriman dari luar negeri.

Dalam masa pengembangan pesantren pada tahun 1916, Kiai Ma’sum, menantu Kiai Hasyim Asy’ari, dengan dukungan Kiai Wahid Hasyim, mulai memasukkan sistem madrasah ke dalam sistem pendidikan pesantren.

Pembaruan pendidikan Pesantren Tebuireng yang dilakukan Kiai Hasyim Asy’ari, berikut murid dan putranya, bukan tanpa halangan. Pembaruan pendidikan yang digagasnya menimbulkan reaksi cukup hebat dari masyarakat dan kalangan pesantren, sehingga banyak juga orangtua santri memindahkan anak-anaknya ke pesantren lain, karena dengan pembaruan tersebut Pesantren Tebuireng dipandang sudah terlalu modern. Reaksi itu tidak menyurutkan proses pembaruan Pesantren Tebuireng.

Hal tersebut terus berlangsung dan dilanjutkan oleh Kiai Wahid Hasyim dengan mendirikan madrasah modern di lingkungan pesantren.

Pada tahun 1932, usia 18 tahun, ia dikirim ke Makkah selama dua tahun, di samping untuk menunaikan rukun Islam kelima yakni berhaji, ia juga ingin mendalami berbagai cabang ilmu agama. Kepergiannya ke Makkah ditemani saudara sepupunya Kiai Muhammad Ilyas yang kelak menjadi Menteri Agama.

Di usia 24 tahun (1938), KH Wahid Hasyim mulai terjun ke dunia politik. Bersama kawan-kawannya, ia gencar dalam memberikan pendidikan politik, pembaruan pemikiran dan pengarahan tentang perlunya melawan penjajah.

Baginya pembaruan hanya mungkin efektif apabila bangsa Indonesia terbebas dari penjajah. Menikah pada usia 25 tahun, Kiai Wahid Hasyim mempersunting gadis bernama Solichah, putri KH Bisri Syansuri, yang pada waktu itu baru berusia 15 tahun.

Sepulang dari Makkah, banyak permintaan dari kawan-kawannya agar Kiai Wahid Hasyim aktif di himpunan atau organisasi, diantaranya tawaran juga datang dari Nahdlatul Ulama (NU). Ternyata tidak satu pun tawaran itu yang diterima, termasuk dari NU.

Pada 1936 ia justru mendirikan Ikatan Pelajar Islam (IKPI). Pendirian organisasi ini bertujuan mengorganisir para pemuda yang secara langsung ia sendiri menjadi pemimpinnya. Usaha ikatan ini antara lain mendirikan taman baca. Pada tahun 1938 Kiai Wahid Hasyim mulai mencurahkan waktunya untuk kegiatan-kegiatan NU.

Ia ditunjuk sebagai Sekretaris pengurus Ranting Tebuireng, lalu menjadi anggota pengurus Cabang Jombang. Kemudian untuk selanjutnya Kiai Wahid Hasyim dipilih sebagai anggota Pengurus Besar NU di wilayah Surabaya. Dari sini kariernya terus meningkat sampai hingga tahun 1938.

Dalam kabinet pertama yang dibentuk Presiden Soekarno pada September 1945, Kiai Wahid Hasyim ditunjuk menjadi Menteri Negara. Demikian juga dalam Kabinet Syahrir pada tahun 1946. Pada tahun ini juga, ketika KNIP dibentuk, Kiai Abdul Wahid Hasyim menjadi salah seorang anggotanya mewakili Masyumi dan meningkat menjadi anggota BPKNIP.

Karier Kiai Wahid Hasyim di pentas politik nasional terus meningkat. Pada usianya yang masih muda, beberapa jabatan ia sandang. Di antaranya ketika Jepang membentuk Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI).

Ia merupakan salah satu anggota termuda setelah BPH. Bintoro dari 62 orang yang ada. Waktu itu Kiai Wahid Hasyim berusia 33 tahun, sementara Bintoro 27 tahun. Kiai Wahid Hasyim juga tergabung dalam keanggotaan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI).

Memiliki kemampuan intelektual dan kecakapannya dalam berorganisasi mengantarkan dirinya menduduki jabatan sebagai Menteri Agama hingga tiga kabinet, yakni Kabinet M Hatta, M Natsir, dan Kabinet Sukiman.

Kiai Wahid Hasyim wafat pada 19 april 1953 di usia 39 tahun akibat kecelakaan mobil di Kota Cimahi, Jawa Barat. Atas jasa-jasanya kepada bangsa dan negara, Kiai Wahid Hasyim ditetapkan sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional berdasarkan Surat Keputusan Presiden (Keppres) Republik Indonesia Nomor 206 tahun 1964 tertanggal 24 Agustus 1964. Namanya kini juga diabadikan sebagai nama salah satu jalan di bilangan Jakarta Pusat. [Fathurroji]

Sumber: Biografi singkat KH Abdul Wahid Hasyim disarikan dari Buku “99 Kiai Kharismatik Indonesia” karya Kiai A. Aziz Masyhuri, terbitan Kutub, Yogyakarta. [fank]

⇒Berita Seputar Pesantren. Kunjungi dan Follow Kami di ⇒ GOOGLE NEWS ⇐

You Might Also Like

Buya Hamka Lahirkan Kitab Tafsir Al-Azhar di Balik Jeruji

KH. Muhammad Yusuf Hasyim, Jenderal Sejati dari Pesantren

[REVIEW] +7 Pondok Pesantren Modern Terbaik Unggulan di Jawa Tengah

Pengasuh Pesantren Tremas KH Hamid Dimyati Diusulkan jadi Pahlawan Nasional

Pesantren di Pinggir Hutan, Warisan Sunan Bonang yang Tinggal Reruntuhan

TAGGED:jejak ulamakh wahid hasyimmenteri tiga kabinetreview pesantren terbaikreview ulamaulama nu
Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Telegram Email Print
Leave a comment

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Anda harus masuk untuk berkomentar.

Jasa pembuatan website SEO

Follow US

Yuk Join Sosial Media
FacebookLike
InstagramFollow
YoutubeSubscribe
TelegramFollow

10 Berita Pilihan

Seputar Pesantren
memegang bara api

 Memegang Agama Terasa seperti Menggenggam Bara Api

Suara Pesantren Suara Pesantren 08/10/2026
Dulu Santri Panutan, Sekarang Lupa Jalan
Inilah 10 Tips Liburan Wisata Halal ke Eropa Barat Biar Berkesan
Ibadah Umroh Bersama Khadim Wisata, Travel Resmi di Bogor
Prabowo Gaungkan ‘Free Palestina’ di Kesyukuran 100 Tahun Pondok Gontor
Prabowo Apresiasi Nilai-nilai Pendidikan Pondok Modern Gontor
KKN-T Universitas Alma Ata Bekali Siswa SMA Ma’arif 1 Srumbung Cara Hindari Scam Digital
Inspirasi Gamis Muslimah Syar’i dengan Detail Feminin 
7 Alasan Menarik Mengapa Kuliah Kedokteran di Luar Negeri Jadi Pilihan Terbaik! 
1926: Ketika NU dan Gontor Menjawab Zaman

Jasa Blogroll & Publikasi

  • Suara Muslim
  • Seputar Masjid
  • Seputar Halal
  • Seputar Kuliner
  • Seputar Kesehatan
  • Promo UKM
  • Wisata Indonesia
  • Inilah Kita
  • Beasiswa Kampus
  • Indonesia Sentris
  • Seputar Rumah
  • Seputar Keamanan
  • Kota Surabaya
  • Info Nasional
  • Info Perkotaan
  • Info Bekasi
  • Market Daily
  • Berita Santai
  • Berita Tekno
  • Portal Mahasiswa
  • Media Outsourcing
  • Kirim Artikel
  • Pendidikan
  • Bisnis Daily

‎اَلسَلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَات ‎اَلسَلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ 

Salam Fathan Mubina, Salam Kemenangan…!
Kepada Ayah Bunda, yang Disayangi Allah SWT

Sebagai wujud kecintaan dan dukungan dakwah pendidikan melalui *Pesantren Ciawi Bogor Fathan Mubina*…
Kami dari Panitia Penerimaan Santri Baru ingin menyampaikan informasi ini sebagai pengingat dalam penyebaran informasi pendaftaran lembaga pendidikan yang berada dibawah asuhan Yayasan Pembangunan Umat Fathan Mubina. Terima Kasih 

Wassalamualaikum Wr. Wb.

@pesantrenfathanmubina @fathanmubinatv #santribaru
Follow on Instagram

FACEBOOK

Artikel Lainnya

pesantren emas
NASIONAL

Pesantren EMAS, Cara PWNU DI Yogyakarta Atasi Sampah di Pesantren

02/08/2023
JEJAK ULAMA

Mbah Ma’shum, Kiai Kharismatik asal Lasem Rembang

03/07/2020
kiai idris jauhari
JEJAK ULAMA

Mengenang Perjuangan KH. Muhammad Idris Jauhari, Sang Mujahid Pendidikan Islam dari Madura

28/06/2024
JEJAK ULAMA

Kiprah Perjuangan KH. M. Tidjani Djauhari MA untuk Muslim Dunia

08/03/2021
JEJAK ULAMA

Almarhum Anton Medan Dimakamkan di Area Pesantren At Taibin

15/03/2021
JEJAK ULAMA

Syekh Nawawi Banten, Bapak Kitab Kuning Indonesia

10/07/2020
KH Bisri Syansuri
JEJAK ULAMA

KH. Bisri Syansuri Perintis Pesantren Mambaul Ma’arif Denanyar Jombang

20/07/2024
KH yusuf muhammad (gus yus)
JEJAK ULAMA

KH. Yusuf Muhammad, Ulama Cendekia dan Politisi Andal

20/05/2023
Previous Next
  • Tentang SP
  • Redaksi
  • Jasa Publikasi
  • Disclaimer
  • Pedoman Siber
  • Kirim Artikel
logo suara pesantren logo suara pesantren

Suara Pesantren, media informasi seputar pesantren di Indonesia.
Yuk, support pengembangan website Suara Pesantren agar menjadi lebih baik. Untuk kerjasama, hubungi kami. Terima kasih. Jazakumullah.

© Suara Pesantren | Digital Media Labs
suara pesantren
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?