Suara Pesantren — Media Pesantren IndonesiaSuara Pesantren — Media Pesantren IndonesiaSuara Pesantren — Media Pesantren Indonesia
Notification Show More
Font ResizerAa
  • Home
  • Kirim Artikel
  • Nasional
    • 100 Th Gontor
    • Wejangan
    • Tuntunan
    • Muamalah
    • Regulasi
    • Kesehatan
  • Kilas Pesantren
  • Review Pesantren
  • Jejak Ulama
  • Kiai-Ustadz
  • Santri-Alumni
  • Pendidikan Islam
    • Beasiswa
Reading: Kiprah Perjuangan KH. M. Tidjani Djauhari MA untuk Muslim Dunia
Share
Font ResizerAa
Suara Pesantren — Media Pesantren IndonesiaSuara Pesantren — Media Pesantren Indonesia
  • Home
  • Kirim Artikel
  • Nasional
  • Kilas Pesantren
  • Review Pesantren
  • Jejak Ulama
  • Kiai-Ustadz
  • Santri-Alumni
  • Pendidikan Islam
Search
  • Home
  • Kirim Artikel
  • Nasional
    • 100 Th Gontor
    • Wejangan
    • Tuntunan
    • Muamalah
    • Regulasi
    • Kesehatan
  • Kilas Pesantren
  • Review Pesantren
  • Jejak Ulama
  • Kiai-Ustadz
  • Santri-Alumni
  • Pendidikan Islam
    • Beasiswa
Have an existing account? Sign In
Suara Pesantren — Media Pesantren Indonesia > Blog > JEJAK ULAMA > Kiprah Perjuangan KH. M. Tidjani Djauhari MA untuk Muslim Dunia
JEJAK ULAMA

Kiprah Perjuangan KH. M. Tidjani Djauhari MA untuk Muslim Dunia

Suara Pesantren
Suara Pesantren Published 08/03/2021 6 Min Read
Share

SUARA PESANTREN | Jakarta– KH Mohammad Tidjani Djauhari adalah pengasuh Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan, sebuah pondok yang telah didirikan oleh sang ayahanda tercinta KH Djauhari Chotib. Sebelum menjadi pengasuh Ponpes Al-Amien, KH Tidjani sempat melejitkan kariernya di Rabithah Alam Islami. Berbagai pengalaman besar pun banyak ditemuinya kala itu.

- Advertisement -
jasa sosialisasi pesantren

Kisah ini bermula ketika M Natsir (dai, ulama, politisi, ketua Partai Masyumi) yang kala itu tercatat sebagai anggota Rabithah Alam Islami dan Muktamar Alam Islam merekomendasikan Tidjani untuk diterima bekerja di Rabithah Alam Islami. Hal itu dikarenakan M Natsir mengetahui bahwa Tidjani adalah putra Indonesia yang meraih predikat terbaik di Jamiah Malik Abdul Aziz, Mekkah pada tahun 1974.

Sejak tahun itulah, Tidjani resmi berkarier di Rabithah Alam Islami dengan jabatan pertama sebagai muharrir (koresponden) yang tugasnya mengurusi surat-menyurat yang datang dari berbagai penjuru dunia. “Pak Natsir minta saya agar tidak pulang ke Indonesia dan belajar dulu di Rabithah. Saya menerima nasihat tersebut,” kenang Tidjani.

Kariernya di Rabithah melesat cepat. Beberapa jabatan penting pernah direngkuhnya, antara lain: Anggota Bidang Riset (1974-1977), Sekretaris Departemen Konferensi dan Dewan Konstitusi (1977-1979), Direktur Bagian Penelitian Kristenisasi dan Aliran-aliran Modern yang Menyimpang (1979-1981), Direktur Bagian Keagamaan dan Aliran-aliran yang Menyimpang (1983-1987), dan Direktur Bagian Riset dan Studi (1987-1988).

Keaktifannya di Rabithah Alam Islami ini mengantarkannya menjelajahi berbagai negara di belahan dunia, Eropa, Afrika, Amerika, dan Asia. Di antaranya, tahun1976, Tidjani mengikuti Konferensi Islam di kota Dakkar, Senegal. Pada tahun yang sama, hadir dalam Konferensi Islam Internasional di Mauritania, Afrika. Tahun 1977, Tidjani mengikuti Seminar Hukum Islam di Chou University, Tokyo, Jepang. Sementara pada tahun 1978, Tidjani mengikuti Pertemuan Lintas Agama di Velenova University, Philadelpia dan Dallas, Texas, Amerika Serikat.

Antara tahun 1978-1982, Tidjani terpilih sebagai salah satu wakil Rabithah yang dikirim sebagai tim rekonsiliasi untuk menuntaskan masalah Muslim Mindanao, Filipina. Pada tahun 1983, ia juga dikirim sebagai tim rekonsiliasi masalah politisasi agama di Burma, konflik di Bosnia, serta mengikuti Pertemuan Lintas Agama di Birmingham dan Leeds University, Inggris.

Berlabuh di Pondok Al-Amien Prenduan

Di tengah puncak kariernya, Tidjani lantas memutuskan untuk pulang ke kampung halaman Indonesia, setelah kurang lebih 23 tahun lamanya bermukim di Tanah Suci, Mekkah. Bersama kedua adiknya, KH Idris Jauhari dan Maktum Jauhari, mereka bertiga bersinergi dengan cakap dalam memimpin pondok dan melakukan pembenahan juga penyegaran di berbagai lini.

Hasilnya di antaranya adalah pembangunan Masjid Jami’ Al-Amien tahun 1989, membuka Ma’had Tahfidzil Qur’an (MTA) tahun 1991, mengembangkan status Sekolah Tinggi Agama Islam menjadi Institut Dirasah Islamiyah Al-Amien (IDIA), dan pendirian Pusat Studi Islam/Pusdilam (2003). Dalam kurun waktu 18 tahun (1989-2007), Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan telah menjelma sebagai pondok yang representatif, disegani, dan berwibawa.

Pondok Al-Amien juga telah menjadi tempat pencetak kader-kader pemimpin umat yang kompeten dan mumpuni. Ribuan santri dari berbagai penjuru Tanah Air dan negara-negara tetangga, juga banyak yang telah belajar dan menempa diri di Ponpes Al-Amien Prenduan.

Kecendekiawanan dan ketokohannya memantik apresiasi positif dari berbagai pihak. Namun, kiprah sang ulama legendaris KH Mohammad Tidjani tersebut kemudian harus berakhir setelah kepergiannya menghadap Sang Khaliq pada Kamis, 27 September 2007, dini hari sekitar pukul 02.00 WIB di kediamannya. “Almarhum wafat akibat penyakit jantung,” terang Dr KH Fauzi Tidjani, putra almarhum, kepada Gontornews.com.

Biografi Tokoh

Mohammad Tidjani dilahirkan pada 23 Oktober 1945 di Prenduan, sebuah desa kecil 22 km sebelah timur kota Pamekasan dan 30 km sebelah barat kota Sumenep. Tidjani adalah putera keempat dari tujuh bersaudara.

Ayahnya, KH Djauhari Chotib, adalah seorang ulama besar, murid kesayangan KH Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdhatul Ulama. KH Djauhari juga tokoh Masyumi, dan pendiri Ponpes Al-Amien Prenduan. Kepemimpinan KH Djauhari di Hizbullah, berpengaruh besar terhadap pembentukan karakter dan mental kepemimpinan Tidjani di masa mendatang.

Ditilik dari silsilah ayahnya, ada darah keturunan KH As’ad Syamsul Arifin, ulama kharismatik pendiri Ponpes Salafiyah Syafi’iyah, Situbondo, yang mengalir di jiwanya. “Almarhum Kiai As’ad Syamsul Arifin adalah sepupu dari nenek saya. Jadi masih keluarga sendiri,” tukas KH Tidjani suatu ketika. Sedangkan dari pihak ibunya, Nyai Maryam, ia  keturunan Syaikh Abdullah Mandurah, salah satu muthowif di Mekkah asal Sampang, Madura, yang banyak melayani jamaah haji Indonesia.

Sejak kecil, Tidjani tumbuh berkembang dalam ranah pendidikan Islam yang sangat kental. Mengetahui minat dan bakat intelektual yang terpendam, maka pada tahun 1958, Kiai Djauhari mengirimnya untuk nyantri di Pondok Modern Darussalam Gontor. Hingga akhirnya pada bulan Januari 1964, Tidjani tamat dari KMI Gontor dan melanjutkan ke Perguruan Tinggi Darussalam (PTD)  Gontor –sekarang, UNIDA Gontor — sekaligus menjadi guru KMI Gontor.

Sebagaimana banyak dianut umat Muslim ahlussunah wal jamaah di Nusantara khususnya di Pulau Madura ajaran tasawuf/spiritual dan tarekat selalu melekat pada ulama-ulama sebelumnya. KH Djauhari Chotib merupakan mursyid/muqaddam yang ada di Jawa Timur. Ia menerima ajaran Tarekat Tijani dari gurunya semasa menuntut ilmu di Mekkah.

Setelah KH Djauhari wafat, maka kepemimpinan tarekat/muqaddam diserahterimakan kepada putranya, KH Mohammad Tidjani Djauhari. Pada tahun 1967 saat masih kuliah di Universitas Madinah al-Munawwarah KH Tidjani telah diangkat sebagai muqaddam Tarekat Tijani secara tertulis.

Selain dari ayahnya, KH Tidjani juga mendapat ijazah dari Syekh Muhammad Yasin bin Isa al-Fadani, karena KH Tidjani sering menjadi kurir dan perantara antara Syekh Muhammad Yasin Mekkah dan Syekh Muhammad Hafidz at-Tijani dari Mesir, dikarenakan sama-sama mendalami bidang takhassus Hadits al-Nabawi. [rojink]

Sumber: Gontornews

⇒Berita Seputar Pesantren. Kunjungi dan Follow Kami di ⇒ GOOGLE NEWS ⇐

You Might Also Like

KH. MA. Sahal Mahfudz, Usia 24 Tahun Mengarang Kitab Ushul Fiqih 600 Halaman

Anak Ingin Belajar di Pesantren? Perhatikan 5 Rukun dan 7 Ruhnya Ini

KH Zulfa Musthofa: Pondok Pesantren Berperan Penting Membangun Manusia

Unusa Bersama YDSF Gagas Pesantren Bersemi. Apa Itu?

Tunjangan Guru Non PNS di Pesantren Rp18 Juta Perorang Sudah Bisa Diambil

TAGGED:alamien prenduankh tidjani djauharipesantren madurapesantren modern
Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Telegram Email Print
Leave a comment

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Anda harus masuk untuk berkomentar.

Jasa pembuatan website SEO

Follow US

Yuk Join Sosial Media
FacebookLike
InstagramFollow
YoutubeSubscribe
TelegramFollow

10 Berita Pilihan

Seputar Pesantren
memegang bara api

 Memegang Agama Terasa seperti Menggenggam Bara Api

Suara Pesantren Suara Pesantren 08/10/2026
Dulu Santri Panutan, Sekarang Lupa Jalan
Inilah 10 Tips Liburan Wisata Halal ke Eropa Barat Biar Berkesan
Ibadah Umroh Bersama Khadim Wisata, Travel Resmi di Bogor
Prabowo Gaungkan ‘Free Palestina’ di Kesyukuran 100 Tahun Pondok Gontor
Prabowo Apresiasi Nilai-nilai Pendidikan Pondok Modern Gontor
KKN-T Universitas Alma Ata Bekali Siswa SMA Ma’arif 1 Srumbung Cara Hindari Scam Digital
Inspirasi Gamis Muslimah Syar’i dengan Detail Feminin 
7 Alasan Menarik Mengapa Kuliah Kedokteran di Luar Negeri Jadi Pilihan Terbaik! 
1926: Ketika NU dan Gontor Menjawab Zaman

Jasa Blogroll & Publikasi

  • Suara Muslim
  • Seputar Masjid
  • Seputar Halal
  • Seputar Kuliner
  • Seputar Kesehatan
  • Promo UKM
  • Wisata Indonesia
  • Inilah Kita
  • Beasiswa Kampus
  • Indonesia Sentris
  • Seputar Rumah
  • Seputar Keamanan
  • Kota Surabaya
  • Info Nasional
  • Info Perkotaan
  • Info Bekasi
  • Market Daily
  • Berita Santai
  • Berita Tekno
  • Portal Mahasiswa
  • Media Outsourcing
  • Kirim Artikel
  • Pendidikan
  • Bisnis Daily

‎اَلسَلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَات ‎اَلسَلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ 

Salam Fathan Mubina, Salam Kemenangan…!
Kepada Ayah Bunda, yang Disayangi Allah SWT

Sebagai wujud kecintaan dan dukungan dakwah pendidikan melalui *Pesantren Ciawi Bogor Fathan Mubina*…
Kami dari Panitia Penerimaan Santri Baru ingin menyampaikan informasi ini sebagai pengingat dalam penyebaran informasi pendaftaran lembaga pendidikan yang berada dibawah asuhan Yayasan Pembangunan Umat Fathan Mubina. Terima Kasih 

Wassalamualaikum Wr. Wb.

@pesantrenfathanmubina @fathanmubinatv #santribaru
Follow on Instagram

FACEBOOK

Artikel Lainnya

KILAS PESANTREN

Pesantren Nuu Waar AFKN Bekasi Luluskan 6.000 Santri, Mayoritas dari Indonesia Timur

29/01/2024
KH Bisri Syansuri
JEJAK ULAMA

KH. Bisri Syansuri Perintis Pesantren Mambaul Ma’arif Denanyar Jombang

20/07/2024
NASIONAL

Dosen Sekolah Vokasi IPB Bantu Pesantren Penyediaan Air Bersih

13/12/2023
mahasantri lirboyo
KILAS PESANTREN

Pesantren Lirboyo Melepas 266 Mahasantri Mengabdi ke Ratusan Lembaga

18/05/2023
kemandirian pesantren
NASIONAL

Stafsus Wapres Lukman Hakim: Arus Baru Ekonomi Berbasis Pesantren

16/05/2023
gerbang utama pesantren fathan mubina ciawi
REVIEW PESANTREN

[REVIEW] Fathan Mubina, Pesantren Modern Nuansa Asri di Ciawi Bogor

12/06/2023
waryono abdul ghafur
NASIONAL

Perbedaan antara Ma’had Aly dan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam

03/06/2023
KILAS PESANTREN

Santri Menulis, TMI Al-Amien Buka Program Menulis untuk Santri selama Sepekan

12/01/2024
Previous Next
  • Tentang SP
  • Redaksi
  • Jasa Publikasi
  • Disclaimer
  • Pedoman Siber
  • Kirim Artikel
logo suara pesantren logo suara pesantren

Suara Pesantren, media informasi seputar pesantren di Indonesia.
Yuk, support pengembangan website Suara Pesantren agar menjadi lebih baik. Untuk kerjasama, hubungi kami. Terima kasih. Jazakumullah.

© Suara Pesantren | Digital Media Labs
suara pesantren
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?