PESANTREN | Jakarta. Kurang lebih seperti itu kritik Dr. Nurcholish Madjid (yang akrab dipanggil “Cak Nur”) dalam bukunya Bilik-Bilik Pesantren. Walaupun banyak kritikan beliau yang saya tidak sependapat, namun, nampaknya dalam poin ini saya sependapat dengan beliau.
Memang satu sisi pondok Pesantren sejak dahulu telah dikenal sebagai lembaga tradisional Islam dalam mentransfer ilmu-ilmu keislamanan, begitu juga sebagai pencetak generasi ulama yang mumpuni serta toleran. Namun di sisi yang lain, dalam menjawab tantangan zaman digital 4.0, banyak pihak yang meragukan pondok pesantren. Khususnya dalam kurikulummya yang tidak menyentuh soal modernitas.
Sehingga, ada kepentingan-kepentingan yang lebih mendesak untuk diberikan sebagai kurikulum di tingkat pesantren. Pondok pesantren perlu menambahkan program kurikulumnya yang berfokus pada skill. Skill tersebut sebagai medium dalam memperkuat segi dakwah Islam para lulusan pondok pesantren agar lebih siap untuk terjun di masyarakat. Sekaligus sebagai jawaban kepada mereka yang meragukan eksistensi pondok pesantren. Ada beberapa skill yang saya tawarkan yang sepertinya layak untuk dipertimbangkan.

