Suarapesantren.com | Forum Pesantren Alumni Gontor (NEW-FPAG) mulai dibentuk kembali pada tahun 2018 di Pondok Pesantren Daar el Qolam, bertepatan dengan peringatan 50 tahun pondok tersebut. Momentum ini menjadi ikhtiar kolektif para pimpinan pesantren alumni Pondok Modern Darussalam Gontor untuk menjaga ukhuwah, menyatukan langkah, serta merawat kesinambungan nilai-nilai kepesantrenan Gontor di tengah dinamika zaman.
Sejak awal, FPAG tidak dimaksudkan sebagai organisasi struktural yang kaku, melainkan sebagai forum yang fleksibel dalam menjaga nilai-nilai Gontor, akhlāqul karīmah, serta tradisi musyawarah.
Pembentukan FPAG dilandasi kesadaran bahwa pesantren alumni Gontor tumbuh dan berkembang di berbagai daerah di Indonesia, bahkan hingga luar negeri, dengan konteks sosial yang beragam. Meski demikian, semuanya memiliki jiwa yang sama, ditandai oleh Panca Jiwa, Panca Jangka, Moto Pondok, Hymne Oh Pondokku, dan tradisi pendidikan yang serumpun.
Tanpa ruang silaturahim dan konsolidasi dalam FPAG, potensi besar tersebut berisiko berjalan sendiri-sendiri. Karena itu, FPAG hadir sebagai rumah bersama untuk saling belajar, saling menguatkan, serta menjaga arah perjuangan dan ukhuwah Islamiyah.
Delapan tahun perjalanan FPAG menunjukkan dinamika yang indah, penuh keberkahan, dan bermakna tinggi sebagai sebuah forum yang dibangun di atas keikhlasan dan pengorbanan. Komunikasi antarpesantren terbangun, silaturahim terjaga, ukhuwah Islamiyah terajut, serta kesadaran kolektif akan pentingnya sinergi dan kerja sama terus menguat dan menggeliat. FPAG menjadi ruang temu nilai, bukan arena kompetisi.
Namun demikian, harus diakui bahwa tantangan juga hadir. Keterbatasan waktu para pimpinan pesantren, belum optimalnya program bersama yang berkelanjutan, serta perlunya perumusan arah strategis jangka menengah dan jangka panjang menjadi pekerjaan rumah yang perlu disikapi dengan bijak dan realistis.
Dalam dinamika tersebut, FPAG dipimpin oleh pasangan kepemimpinan yang menonjolkan keikhlasan, pengorbanan, dedikasi tinggi dan kebersamaan, yaitu Kholfah Dr. KH. Zulkifli Muhadli, BA, SH, MH sebagai Ketua Umum dan KH. Anang Rikza Masyhadi, MA, Ph.D- sebagai Sekretaris Jenderal, dibantu oleh puluhan kiai pesantren alumni Gontor dari berbagai daerah di Indonesia.
Keduanya menjalankan amanah dengan pendekatan yang saling melengkapi: kepemimpinan yang inklusif, menjaga silaturahim dan musyawarah, serta konsistensi dalam merawat komunikasi dan kesinambungan forum, termasuk dengan Ketua Umum IKPM Pusat dan para Masyayikh pimpinan Gontor, lembaga Filantropi Asfa foundation, Universitas dalam dan luar negeri, beasiswa santri dll.
Atas nama keluarga besar pesantren alumni Gontor, patut disampaikan ucapan terima kasih dan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada pasangan Kholifah dan Sekretaris Jenderal FPAG. Keduanya bagaikan dua sisi mata uang, atau dua tangan kanan dan kiri dengan satu ruh perjuangan.
Di tengah keterbatasan struktur dan padatnya kesibukan masing-masing, kinerja dan keteladanan mereka telah menjaga FPAG tetap hidup, tetap rukun, tetap berada pada rel nilai pesantren, serta terus bergerak dinamis—sayyarah murtafi‘ah. Kepemimpinan yang tenang, teduh, ikhlas, dan mengedepankan ukhuwah merupakan modal yang mahal, langka, dan tidak mudah ditemukan.
Karena itu, pasangan kepemimpinan ini layak diberikan apresiasi setinggi-tingginya sebagai penjaga stabilitas, kesinambungan, dan marwah FPAG.
Ke depan, FPAG perlu melangkah secara bertahap dan realistis. Peneguhan jati diri sebagai forum ukhuwah dan pengabdian harus tetap menjadi jiwa dasarnya. Pada saat yang sama, perlu dirintis langkah-langkah strategis yang sederhana namun berdampak, seperti forum ilmiah kepesantrenan, pelatihan bersama pimpinan dan guru pesantren, sinergi ekonomi dan wakaf produktif, pembelaan bantuan hukum terhadap ponpes yang bermasalah, pemanfaatan teknologi sebagai sarana komunikasi dan dokumentasi bersama, serta program pertukaran santri antarpesantren. Tak kalah pentingnya adalah mengaktifkan forum komunikasi Gawagis (para gus) sebagai kader utama dan aset masa depan.
Regenerasi perlu dipersiapkan dengan bijak dan tidak tergesa-gesa sebagai manifestasi dari Panca Jangka. Kader muda pesantren alumni perlu dilibatkan secara bertahap dalam ruang-ruang organisasi dan tanggung jawab, dengan tetap berada dalam bimbingan para senior. Dengan demikian, kesinambungan nilai dan kepemimpinan dapat terjaga tanpa kehilangan jiwa dan karakter pesantren.
Akhirnya, FPAG akan tetap relevan selama setia pada jati dirinya: forum yang dibangun di atas keikhlasan, akhlak, nilai-nilai Gontor, dan kebersamaan. Refleksi delapan tahun ini semoga menjadi pijakan untuk melangkah lebih mantap, lebih terarah, dan lebih memberi manfaat bagi pesantren, umat, dan bangsa, dalam rangka menyongsong Indonesia Emas 2045 yang berkeadaban.
(Sebuah catatan ringan dalam rangka Seminar Nasional,Munas dan Rakernas FPAG di MTA Karanganyar, Solo- 23 sd 25 Januari 2026)

