Suarapesantren.com | Rangkasbitung– Pondok Pesantren Modern (PPM) Darel Azhar Rangkasbitung, Banten, kembali mencatatkan prestasi luar biasa di kancah internasional. Para santrinya berhasil menyabet predikat Grand Champion dalam ajang bergengsi International Muslim Pencak Silat Championship (IMPSC) 2025 yang digelar di Tangerang. Capaian ini menjadi bukti nyata konsistensi pesantren dalam menjadikan Pramuka dan Pencak Silat sebagai sarana pendidikan karakter yang tak terpisahkan dari kehidupan santri.
Pimpinan Pondok Modern Darel Azhar, KH Ikhwan Hadiyyin, menegaskan bahwa keberhasilan ini merupakan buah dari tradisi panjang yang dibangun pesantren sejak awal berdiri. “Alhamdulillāh, prestasi ini adalah karunia Allah sekaligus amanah besar. Santri kami tidak hanya belajar jurus dan strategi bertanding, tetapi juga dibekali akhlak, sportivitas, dan etika. Itulah yang membuat Pencak Silat di Darel Azhar melahirkan pesilat-pesilat tangguh sekaligus berjiwa ksatria,” ujarnya.
Pramuka dan Silat: Tradisi Wajib di Darel Azhar
Sejak awal berdiri, Darel Azhar menetapkan dua ekstrakurikuler unggulan sebagai Muatan Lokal Wajib, yakni Pramuka dan Pencak Silat.
- Pramuka diwajibkan bagi seluruh santri sepanjang masa pendidikan.
- Pencak Silat diwajibkan minimal dua tahun pertama, meski mayoritas santri memilih melanjutkan hingga lulus.

Kedua kegiatan ini bukan sekadar tambahan, tetapi sudah menjadi identitas pendidikan khas Darel Azhar.
Menurut KH Ikhwan, Pramuka di Darel Azhar bukan hanya tentang baris-berbaris atau kemping. “Pramuka adalah laboratorium kepemimpinan. Di sana santri belajar disiplin, kemandirian, kerja sama, dan daya juang. Santri ditempa menjadi pribadi yang siap menghadapi tantangan hidup,” jelasnya.
Keseriusan itu dibuktikan dengan keikutsertaan Darel Azhar dalam Jambore Dunia Pramuka Muslim di Cibubur baru-baru ini. Pesantren mengirim ustadz dan santri sebagai panitia, pembina, sekaligus enam regu terbaik untuk tampil di kancah internasional.
Sementara itu, Pencak Silat menjadi sarana pembentukan mental sekaligus wadah prestasi. Banyak santri yang terus melanjutkan latihan hingga berhasil mencapai sabuk biru (kader) di tahun-tahun akhir. Bagi mereka, silat bukan hanya bela diri, tetapi juga jalan untuk meningkatkan kepercayaan diri dan meraih kesempatan emas di dunia akademik.
“Banyak alumni kami yang diterima di universitas ternama lewat jalur prestasi bela diri. Ini membuktikan bahwa silat membuka pintu masa depan, selain membentuk karakter yang kuat,” tambah KH Ikhwan.
Prestasi di Arena Dunia
Hampir tiga dekade konsisten membina Pramuka dan Silat telah melahirkan generasi santri berprestasi. Dua tahun lalu, santri Darel Azhar bernama Fatih dan Maul berhasil menjadi juara dunia dan menerima medali langsung dari Presiden Persilat Dunia, Jenderal Prabowo Subianto.
Puncaknya, dalam IMPSC 2025 yang diikuti lebih dari 3.500 atlet dari 11 negara dengan dukungan 500 wasit, juri, pelatih, dan volunteer, tim Darel Azhar kembali menorehkan sejarah dengan keluar sebagai Grand Champion.
Perolehan Medali Darel Azhar di IMPSC 2025
- 38 medali emas
- 50 medali perak
- 101 medali perunggu
Pencapaian ini bukan sekadar angka. Bagi santri, kemenangan di IMPSC menjadi momen spiritual sekaligus historis karena berlangsung bertepatan dengan 100 Tahun Gontor, pondok “IBU” yang menjadi sumber inspirasi bagi lahirnya Darel Azhar.
“Kami menganggap kemenangan ini bukan hanya milik Darel Azhar, tetapi juga hadiah untuk Gontor yang menjadi ibu dan teladan bagi pesantren modern di seluruh Nusantara,” ungkap KH Ikhwan.
Kisah Heroik Ustadz Reza Hakiki
Di balik kemenangan besar itu, ada kisah istimewa dari Ustadz Reza Hakiki. Sepuluh tahun lalu, ketika masih duduk di kelas V KMI Darel Azhar, ia dinobatkan sebagai pesilat terbaik tingkat remaja dalam Tasyakkuran 90 Tahun Gontor. Kini, dalam IMPSC 2025, sejarah kembali berulang: Reza meraih gelar Pesilat Terbaik tingkat dewasa.
Meski sempat mengalami cedera bibir saat semifinal melawan atlet TNI-AD, Reza tetap sabar dan konsisten. Di partai final, ia menghadapi pesilat tangguh dari UIN Jakarta dalam laga yang disaksikan ribuan penonton. Dengan ketenangan dan teknik matang, ia berhasil menang mutlak.
“Ustadz Reza adalah bukti nyata bahwa ketekunan dan kesabaran akan membuahkan hasil. Santri kami belajar dari beliau, bahwa kemenangan bukan hanya soal fisik, tetapi juga soal jiwa yang bersih dan hati yang ikhlas,” ujar KH Ikhwan.
Selain Reza, nama-nama lain seperti Ustadz Encep dan Ustadz Dhany juga dikenang kiprahnya. Keduanya sudah tampil di gelanggang silat dalam peringatan 90 Tahun Gontor, saat jumlah arena hanya dua. Kini, mereka menjadi saksi estafet kejayaan Darel Azhar yang terus berlanjut.
Pendidikan Karakter: Sportivitas dan Akhlak
Menariknya, meski ribuan santri berlatih jurus-jurus silat, hampir tidak pernah terjadi insiden negatif. Hal ini berkat bimbingan para asatidz yang selalu menanamkan nilai sportivitas, akhlak, dan etika.
KH Ikhwan menegaskan bahwa inilah kunci utama keberhasilan Darel Azhar. “Kekuatan fisik tanpa akhlak bisa menjerumuskan. Karena itu, kami selalu menekankan bahwa iman dan akhlak adalah fondasi. Dengan iman dan akhlak, santri akan menjadi kuat. Tanpa keduanya, semua latihan akan sia-sia,” tegasnya.
Pernyataan tersebut senada dengan motto Tapak Suci: “Dengan Iman dan Akhlak saya menjadi kuat, tanpa Iman dan Akhlak saya menjadi lemah.”
Landasan Filosofis
Tradisi Pramuka dan Silat di Darel Azhar sesungguhnya berakar pada ajaran para pendiri Pondok Modern Gontor. KH Ikhwan mengutip pesan Kiai Sahal muda, salah satu Trimurti Gontor, yang menyatakan:
“Pendidikan itu harus menyiapkan kader yang strong in body, pure in soul, and broad in mind (kuat jasmaninya, bersih jiwanya, dan luas pandangannya).”
Bagi KH Ikhwan, pesan itu menjadi landasan filosofis pendidikan Darel Azhar. “Kami ingin mencetak kader Muslim yang sehat jasmani, matang ruhani, cerdas akal, dan berwawasan global. Karena santri bukan hanya calon ulama, tetapi juga calon pemimpin bangsa,” jelasnya.
Harapan dan Doa
Meski meraih Grand Champion, KH Ikhwan mengingatkan bahwa kemenangan bukan alasan untuk jumawa. “Prestasi ini jangan membuat kita larut dalam kebanggaan berlebihan. Sebaliknya, harus menjadi momentum untuk semakin bersyukur, rendah hati, dan terus berbenah,” tuturnya.
Ia berharap, prestasi ini menjadi pijakan lahirnya generasi tangguh yang berjiwa ksatria, rendah hati, dan siap mengabdi.
“Semoga Allah Subhānahu wa Ta‘ālā menjadikan para atlet ini pejuang sekaligus pemimpin masa depan, yang akan turut mengukir kejayaan Indonesia Emas 2045,” pungkas KH Ikhwan.
Kehidupan santri di Darel Azhar membuktikan bahwa pendidikan tidak hanya berlangsung di ruang kelas. Melalui Pramuka dan Pencak Silat, santri ditempa menjadi pribadi yang kuat, mandiri, dan berakhlak mulia. Kemenangan di IMPSC 2025 hanyalah salah satu hasil dari proses panjang itu.
Di balik gemerlap medali emas, perak, dan perunggu, ada nilai-nilai luhur yang selalu dijaga: iman, akhlak, dan kesungguhan. Itulah yang membuat Darel Azhar bukan hanya melahirkan juara di gelanggang, tetapi juga juara kehidupan.[]

