Suara Pesantren — Media Pesantren IndonesiaSuara Pesantren — Media Pesantren IndonesiaSuara Pesantren — Media Pesantren Indonesia
Notification Show More
Font ResizerAa
  • Home
  • Kirim Artikel
  • Nasional
    • 100 Th Gontor
    • Wejangan
    • Tuntunan
    • Muamalah
    • Regulasi
    • Kesehatan
  • Kilas Pesantren
  • Review Pesantren
  • Jejak Ulama
  • Kiai-Ustadz
  • Santri-Alumni
  • Pendidikan Islam
    • Beasiswa
Reading: Perayaan Identitas
Share
Font ResizerAa
Suara Pesantren — Media Pesantren IndonesiaSuara Pesantren — Media Pesantren Indonesia
  • Home
  • Kirim Artikel
  • Nasional
  • Kilas Pesantren
  • Review Pesantren
  • Jejak Ulama
  • Kiai-Ustadz
  • Santri-Alumni
  • Pendidikan Islam
Search
  • Home
  • Kirim Artikel
  • Nasional
    • 100 Th Gontor
    • Wejangan
    • Tuntunan
    • Muamalah
    • Regulasi
    • Kesehatan
  • Kilas Pesantren
  • Review Pesantren
  • Jejak Ulama
  • Kiai-Ustadz
  • Santri-Alumni
  • Pendidikan Islam
    • Beasiswa
Have an existing account? Sign In
Suara Pesantren — Media Pesantren Indonesia > Blog > SEABAD GONTOR > Perayaan Identitas
SEABAD GONTOR

Perayaan Identitas

Catatan Cak AT - Ahmadie Thaha

Suara Pesantren
Suara Pesantren Published 14/09/2025 8 Min Read
Share
jambore muslim dunia 2025

Suarapesantren.com | Pak Kyai Sofwan Manaf menatap jam miliknya. Angka menunjuk pukul 12.29 dini hari. Sudah masuk Ahad. Dengan gesit, jarinya bergerak di layar ponsel, mengirim pesan ke grup WA FPAG: “Seumur hidup baru (kali ini) ikut konser sampai dini malam.” Kyai Anang Rizka meladeni: “Sama Yai, baru kali ini lihat konser, makanya bela-belain sampai selesai… hahahaha.”

- Advertisement -
jasa sosialisasi pesantren

Lho, konser? Dan ini bukan kabar bohong ala broadcast keluarga yang biasanya diakhiri dengan kalimat, “Sebarkan agar tidak kena musibah.” Malam itu, di tribun utama Bumi Perkemahan Cibubur, dua pengasuh Pondok Pesantren Darunnajah dan Tazakka tadi duduk berjejer dengan para kiai pengasuh pesantren lain.

Di lantai dua tribun expo, pemandangan tampak sama: para kiai, ustadz, dan tokoh pesantren larut dalam dentuman musik World Muslim Scout Jamboree (WMSJ) 2025, disingkat Jamdun. Kalau dulu kita kenalnya “Konser Amal Palestina,” kini “Konser Akbar Pramuka Muslim Dunia” menampilkan Iwan Fals hingga Band Wali.

Dibanding konser pada umumnya, pesta musik kali ini tiketnya gratis, meskipun macetnya tetap sama. Sejak pagi jalan menuju arena sudah macet. Sopir-sopir pesantren terpaksa memarkir mobil di bahu jalan luar arena. Saya sendiri memilih jalur rakyat jelata: naik LRT, turun di Harjamukti, lalu sambung ojek dua kilometer. Praktis, murah, dan hijau secara karbon.

Inilah yang saya sebut macet filosofis: manusia modern itu kalau berkumpul demi sesuatu yang dianggap penting, jalan pasti mampet. Bedanya, kalau macet konser Coldplay disebut keren, macet jambore pramuka muslim disebut “kurang koordinasi.” Padahal secara teori transportasi, keduanya sama: suplai jalan terbatas, demand kendaraan tak terbatas.

Siang hingga sore, para kiai tak hanya duduk manis. Mereka menghadiri Tajammuk FPAG. Dr. KH. Ahmad Fahmi Zarkasyi, M.Phil. dengan gaya akademisnya menjelaskan bahwa World Muslim Scout Jamboree (WMSJ) 2025 adalah jambore dunia (jamdun) pramuka muslim pertama di dunia. Jika yang perdana saja bisa sukses, maka jamdun-jamdun berikutnya lebih baik lagi.

Bayangkan, peserta WMSJ 2025 mencapai 15.333 orang dari 18 negara. Sebuah angka yang kalau diolah pakai metode statistik, sudah cukup meyakinkan bahwa umat Islam bisa bersatu, setidaknya di bawah tenda pramuka. Ada yang usul, bagaimana jika capaian unik ini didaftarkan ke museum rekor?

Apalagi, negara peserta membentang lengkap dari Asia Tenggara sampai Afrika Utara: Indonesia, Malaysia, Oman, Mauritius, Qatar, Brunei Darussalam, Saudi Arabia, Maldives, Uzbekistan, Azerbaijan, Kuwait, Aljazair, Inggris, Mesir, Tunisia, Mali, Turki, dan Kamboja. Semangat jambore ini salah satunya untuk menyuarakan perdamaian antar-bangsa.

Tema besar WMSJ 2025 memang: “We are Muslim, Civilized, United, and Peaceful.” Keren dan penuh makna. Meskipun agak panjang, tapi ini masih lebih singkat daripada judul skripsi mahasiswa yang sering berbunyi: “Analisis Komparatif Persepsi Santri Pondok A terhadap Santri Pondok B dalam Implementasi Manajemen Zikir Kolektif (Studi di Pondok C).”

Tema ini serius: jambore bukan sekadar tidur di tenda dan masak mie instan, tapi wadah membentuk pemimpin muda. Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, yang menutup perhelatan WMSJ 2025, bahkan menjanjikan: kalau ada jambore lagi, Jakarta siap jadi tuan rumah kembali. Wah, semoga tidak jadi seperti janji kampanye: manis di awal, hilang di tengah, pahit di akhir.

KH Hasan Abdullah Sahal, pengasuh Pondok Modern Darussalam Gontor, sampai terharu. Menurutnya, kegiatan seperti ini langka, mahal, dan tidak bisa dinilai dengan uang. Gontor memang punya modal itu: tradisi mendidik santri agar bisa mengurus apa saja —dari bikin kopi buat kyai sampai bikin jambore dunia.

Dr. Fahmi menambahkan, prinsip Gontor jelas: “Segala yang ada di pondok adalah pendidikan.” Artinya, kalau santri disuruh jaga parkir, ya itu pendidikan. Kalau disuruh ngurus panggung artis, ya itu juga pendidikan. Bahkan kalau disuruh ikut konser sampai dini hari? Ya… mungkin itu juga pendidikan.

Yang bikin suasana makin hidup WMSJ 2025 adalah kehadiran Iwan Fals. Dengan suara seraknya yang khas, ia membawakan lagu baru yang khusus diciptakan untuk seratus tahun Gontor. Lagu itu terdengar sederhana, tapi terasa seperti doa panjang yang dinyanyikan dalam nada, sebuah refleksi seabad perjalanan pesantren yang telah melahirkan ribuan pemimpin umat.

Setelahnya, pada hari terakhir Sabtu (13/9/2025), panggung disambung oleh band Wali. Bedanya, mereka bukan sekadar grup musik papan atas, melainkan para alumni pesantren, bahkan ada di antaranya yang kini menjadi pengasuh pondok. Maka jadilah konser malam itu bukan sekadar hiburan, melainkan perayaan identitas.

Kalau ada yang sinis, “Lho, kok pesantren malah pakai konser?” jawabannya gampang: musik di pesantren itu biasa saja. Coba renungkan, melagukan al-Qur’an tidakkah juga sebuah bentuk musik? Rebana, rebab, hingga marawis sudah ratusan tahun mewarnai acara maulidan. Anak-anak santri sudah biasa memainkan gitar.

Di Gontor sendiri, santri-santrinya mendirikan band dengan aneka genre, dari dangdut sampai pop, dan itu dianggap lumrah. Teater pesantren pun mengasah olah vokal, beriringan dengan kelompok sastra yang melatih diksi dan rasa.

Jadi jangan kaget kalau malam jambore Cibubur mendadak berubah jadi panggung lintas generasi. Itulah wajah pesantren: bisa serius dalam rapat, bisa khusyuk dalam doa, dan bisa santai dalam musik, semuanya tanpa kehilangan marwah.

Yang lebih mengesankan, ribuan tenaga lapangan bekerja tanpa honor. Mereka terbiasa bekerja ikhlas, seperti di pondok. Dari ngatur panggung, bazar, sampai undang artis, semua diurus. Bayangkan, pondok sudah terbiasa menyiapkan makan bagi ribuan santri setiap hari.

Kalau ada yang tanya, “Apakah ini tidak rawan eksploitasi tenaga santri?” Jawabannya: tidak, karena ini tradisi. Santri dididik untuk tidak menghitung-hitung, melainkan menjalani. Di luar pondok mungkin disebut “volunteerism.” Di pondok disebut “ikhlas lillahi ta‘ala.”

Filosofi itu sebenarnya berakar dari Pancajiwa Pondok Modern Darussalam Gontor: keikhlasan, kesederhanaan, berdikari, ukhuwah Islamiyah, dan kebebasan. Pancajiwa inilah yang membuat santri terbiasa kerja kolosal tanpa pamrih.

Mereka tidak hanya belajar teori di kelas, tetapi ditempa lewat praktik nyata, dari mengatur apel tahunan sampai mengelola jambore dunia.

Maka WMSJ 2025 di Cibubur sejatinya adalah perpanjangan tangan dari tradisi pondok: memupuk solidaritas, melatih kemandirian, memperkuat ukhuwah lintas bangsa, dan meneguhkan kebebasan berpikir yang kreatif, tanpa kehilangan keikhlasan dan kesederhanaan.

WMSJ 2025 bukan sekadar jambore, melainkan laboratorium sosial-politik. Di sinilah terlihat bagaimana pendidikan pesantren terbukti melahirkan alumni yang bisa mengelola event global.

Kehadiran wakil dari 18 negara membuktikan, solidaritas antar-negara Muslim masih ada, meski kadang baru muncul dalam bentuk tenda, bukan traktat internasional.

Sementara macet yang terjadi di jalan-jalan sekitar, dan tribun atas yang terhalang atap tribun utama, itu adalah pelajaran kecil bahwa desain teknis juga penting.

Di tengah dunia yang sering menuduh Islam sebagai sumber konflik, jambore ini menjadi kontra-narasi. Bahwa Islam juga bisa tampil ceria, damai, dan ikut konser sampai jam setengah satu pagi.

Kalau kiai-kiai saja sudah mulai nyaman duduk di tribun ikut konser jambore, mungkin ini pertanda baik. Dakwah ke depan harus semakin kreatif. Tidak melulu khutbah di mimbar, tapi juga bisa dalam bentuk panggung terbuka, tenda pramuka, bahkan dentuman musik.

Ma’had Tadabbur al-Qur’an, 14/9/2025

⇒Berita Seputar Pesantren. Kunjungi dan Follow Kami di ⇒ GOOGLE NEWS ⇐

You Might Also Like

Evan Dimas dan Timnas All Star Ramaikan Pembukaan Supercoppa 100 tahun Gontor

100 Tahun Gontor, Pimpinan PMDG Resmikan Penulisan Mushaf Al-Qur’an Gontor

KH. Hasan Abdullah Sahal: 100 Doktor untuk 100 Tahun Gontor di Universitas Darussalam

100 Tahun Gontor: Dukungan Sekjen OKI untuk Jambore Muslim Dunia

Jejak Satu Abad Gontor, dari Tegalsari hingga Menjadi Pesantren Modern

TAGGED:jambore duniajambore pramuka muslim
Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Telegram Email Print
Jasa pembuatan website SEO

Follow US

Yuk Join Sosial Media
FacebookLike
InstagramFollow
YoutubeSubscribe
TelegramFollow

10 Berita Pilihan

Seputar Pesantren
memegang bara api

 Memegang Agama Terasa seperti Menggenggam Bara Api

Suara Pesantren Suara Pesantren 08/10/2026
Dulu Santri Panutan, Sekarang Lupa Jalan
Inilah 10 Tips Liburan Wisata Halal ke Eropa Barat Biar Berkesan
Ibadah Umroh Bersama Khadim Wisata, Travel Resmi di Bogor
Prabowo Gaungkan ‘Free Palestina’ di Kesyukuran 100 Tahun Pondok Gontor
Prabowo Apresiasi Nilai-nilai Pendidikan Pondok Modern Gontor
KKN-T Universitas Alma Ata Bekali Siswa SMA Ma’arif 1 Srumbung Cara Hindari Scam Digital
Inspirasi Gamis Muslimah Syar’i dengan Detail Feminin 
7 Alasan Menarik Mengapa Kuliah Kedokteran di Luar Negeri Jadi Pilihan Terbaik! 
1926: Ketika NU dan Gontor Menjawab Zaman

Jasa Blogroll & Publikasi

  • Suara Muslim
  • Seputar Masjid
  • Seputar Halal
  • Seputar Kuliner
  • Seputar Kesehatan
  • Promo UKM
  • Wisata Indonesia
  • Inilah Kita
  • Beasiswa Kampus
  • Indonesia Sentris
  • Seputar Rumah
  • Seputar Keamanan
  • Kota Surabaya
  • Info Nasional
  • Info Perkotaan
  • Info Bekasi
  • Market Daily
  • Berita Santai
  • Berita Tekno
  • Portal Mahasiswa
  • Media Outsourcing
  • Kirim Artikel
  • Pendidikan
  • Bisnis Daily

‎اَلسَلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَات ‎اَلسَلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ 

Salam Fathan Mubina, Salam Kemenangan…!
Kepada Ayah Bunda, yang Disayangi Allah SWT

Sebagai wujud kecintaan dan dukungan dakwah pendidikan melalui *Pesantren Ciawi Bogor Fathan Mubina*…
Kami dari Panitia Penerimaan Santri Baru ingin menyampaikan informasi ini sebagai pengingat dalam penyebaran informasi pendaftaran lembaga pendidikan yang berada dibawah asuhan Yayasan Pembangunan Umat Fathan Mubina. Terima Kasih 

Wassalamualaikum Wr. Wb.

@pesantrenfathanmubina @fathanmubinatv #santribaru
Follow on Instagram

FACEBOOK

Artikel Lainnya

100 tahun pondok gontor
SEABAD GONTOR

100 Tahun Gontor, Lintas Marhalah akan Gelar Nobar Film Jejak Langkah 2 Ulama

15/09/2023
100 tahun gontor
SEABAD GONTOR

100 Tahun Gontor, Tepat Hari Santri, 10.000 Alumni Gontor akan Gelar Jalan Sehat di Monas

20/10/2023
100-tahun-gontor
SEABAD GONTOR

100 Tahun Gontor, Alumni Gontor Putra 2005 Gelar Silatnas di Cibubur

29/08/2023
menag
SEABAD GONTOR

Menag Soroti Ketangguhan Gontor di Usia Satu Abad, Tetap Relevan Menghadapi Zaman

24/09/2026
SEABAD GONTOR

100 Tahun Gontor, IKPM Pakistan Kibarkan Bendera di Pegunungan Himalaya

27/10/2023
100 tahun gontor
SEABAD GONTOR

100 Tahun Gontor, Sebuah Renungan Mengenang 18 Tahun Lalu Cak Nur Wafat

29/08/2023
wmsj 2025
SEABAD GONTOR

WMSJ 2025, Syiar 100 Tahun Gontor Mendapat Dukungan Scout Internasional

06/02/2025
SEABAD GONTOR

Badan Wakaf PMDG Menggelar Sidang ke-93, Bahas Program Jelang 100 Tahun

10/06/2024
Previous Next
  • Tentang SP
  • Redaksi
  • Jasa Publikasi
  • Disclaimer
  • Pedoman Siber
  • Kirim Artikel
logo suara pesantren logo suara pesantren

Suara Pesantren, media informasi seputar pesantren di Indonesia.
Yuk, support pengembangan website Suara Pesantren agar menjadi lebih baik. Untuk kerjasama, hubungi kami. Terima kasih. Jazakumullah.

© Suara Pesantren | Digital Media Labs
suara pesantren
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?