Suarapesantren.com – Peringatan 100 tahun Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) menjadi momentum istimewa bagi keluarga besar pesantren, termasuk para alumninya. Presiden Prabowo Subianto turut hadir dalam acara peringatan satu abad Gontor pada Sabtu, 19 September 2026, sebagai bentuk dukungan terhadap pengembangan pendidikan pesantren dan sumber daya manusia.
Presiden bersama sejumlah menteri Kabinet Merah Putih dan kepala daerah dijadwalkan tiba di Jawa Timur melalui Lanud Iswahjudi Magetan menggunakan pesawat. Dari sana, rombongan melanjutkan perjalanan dengan helikopter menuju kampus Universitas Darussalam (Unida) Gontor.
Setelah meresmikan Fakultas Kedokteran, Presiden kemudian menuju Pondok Modern Darussalam Gontor untuk mengikuti resepsi kesyukuran satu abad lembaga pendidikan Islam yang berdiri sejak 1926 tersebut.
Sambutan Penuh Humor hingga Seruan “Free Palestine”
Dalam resepsi tersebut, Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor KH Hasan Abdullah Sahal menyampaikan sambutan selamat datang kepada Presiden dan para tamu undangan.
Sambutan Kiyai Hasan yang berlangsung selama 20 menit menjadi perhatian karena disampaikan dengan gaya ceplas-ceplos dan penuh humor, namun tetap sarat makna.
Selain itu, Wakil Grand Syaikh Al Azhar Mesir Mohamed Abdelrahman Eldeweny turut memberikan sambutan. Ia menyoroti hubungan pendidikan dan keilmuan antara Gontor dan Mesir yang telah terjalin selama puluhan tahun.
Presiden Prabowo kemudian menyampaikan pidato di hadapan anggota Badan Wakaf Pondok Modern Gontor, dewan guru, santri, alumnus, serta tamu undangan dari berbagai daerah di Indonesia dan luar negeri.
Salah satu momen yang menarik perhatian terjadi ketika Presiden meneriakkan “Free Palestine”. Seruan tersebut disambut Duta Besar Palestina yang maju ke panggung dan mengenakan kafiyeh kepada Presiden.
Rangkaian kegiatan Presiden di Gontor kemudian ditutup dengan sesi foto bersama dewan guru dan santri sebelum ia kembali ke Jakarta.
Alumni Algodam Hadir dari Berbagai Daerah
Peringatan satu abad Gontor juga menjadi kesempatan bagi para alumni untuk kembali berkumpul. Komunitas alumni Pondok Modern Gontor tahun 1984-1985, Algodam, turut berpartisipasi dalam momentum tersebut.
Komunitas ini diinisiasi oleh ketuanya, Fathur Rohman. Karena anggota Algodam tersebar di berbagai wilayah Nusantara, rombongan yang berangkat bersama sebagian besar berasal dari Jabodetabek. Sementara alumni dari daerah lain berangkat secara mandiri dengan koordinasi Ustaz Kholisudin dan Daddy Taufick.
Perjalanan juga diwarnai cerita tersendiri. Karena terlambat berangkat selama 2 jam, salah satu peserta harus menyusul bersama Ahmad Najib dan baru bergabung dengan rombongan di Rest Area 456 Semarang.
Sementara itu, Ustaz Zubaidi yang kini menjadi dosen di Universiti Islam Antar Bangsa Malaysia berangkat langsung dari Kuala Lumpur. Alumni lain dari Malaysia, Ustaz Rahmat Abu Seman dari Ipoh, tidak dapat hadir dan mengikuti acara melalui live streaming.
Basecamp Jadi Tempat Menyambung Cerita Lama
Kekompakan alumni Algodam semakin terlihat ketika Ustaz Farid Sulistiyo, pengajar Ilmu Tarbiyah, menyediakan rumahnya sebagai basecamp.
Alumni yang datang dari berbagai daerah, seperti Makassar, Lombok, Palembang, Banten dan wilayah lainnya, menjadikan tempat tersebut sebagai ruang untuk melepas lelah sekaligus bernostalgia.
Obrolan dan kenangan masa lalu berlangsung hingga pukul 02.00. Namun pada Sabtu dini hari, sekitar pukul 04.00, para alumni sudah kembali bangun, melaksanakan sholat Subuh, dan bersiap menuju lokasi acara.
Pengamanan di sekitar lokasi berlangsung ketat dengan melibatkan Paspampres dan polisi, serta didukung seksi keamanan Pondok Modern Gontor. Persiapan administrasi yang dilakukan Ustaz Kholisudin membuat perjalanan rombongan berjalan lancar.
Alumni Gontor Lahirkan Pesantren di Berbagai Daerah
Satu abad perjalanan Gontor juga tercermin dari kiprah para alumninya. Sebagai institusi pendidikan, Gontor telah melahirkan alumni yang kemudian membangun dan mengembangkan pesantren di berbagai daerah Indonesia.
Di lingkungan Algodam, misalnya, terdapat sejumlah alumni yang mendirikan pesantren dengan jumlah santri mencapai ratusan hingga ribuan. Beberapa di antaranya juga kemudian dikenal sebagai kiai.
Nama-nama tersebut antara lain K.H. Sulaiman Effendi dari Ponpes Manahijussadat, Lebak, Banten; K.H.M. Masrur Syamhari dari Pesantren Tahfidzul Qur’an & Bahasa Arab Bina Madani, Ciawi, Bogor; Tgk. Hasanain Juwaini dari Ponpes Nurul Haramain di Narmada, NTB; KH DR Sobahussurur, pendiri pesantren besar di Lamongan, Jawa Timur; KH Muttaqin Said, pendiri pesantren di Bone, Sulawesi Selatan; Hadi Muhlison di Blitar; Rosyidin Bina di Sumatera Utara; Abdul Fattah Tusiran dan Syamsul Hadi Muslim di Blitar; Kiyai Ohan Suhana di Tasikmalaya; serta K.H. Mahmud Farid dari Pesantren Riyadhul Ulum Condong, Tasikmalaya, dan sejumlah alumni lainnya.
Jejak tersebut menunjukkan bahwa pengaruh pendidikan Gontor tidak berhenti ketika santri meninggalkan kompleks pesantren. Nilai dan pengalaman yang diperoleh selama belajar kemudian dibawa untuk membangun lembaga pendidikan dan aktivitas sosial di berbagai daerah.
Dari Jalur Pendidikan hingga Dunia Usaha
Di antara alumni Algodam juga terdapat Ahmad Zainudin, salah satu cucu pendiri Pondok Modern Gontor KH Abdulah Sahal. Setelah lulus kelas eksperimen 6B, ia melalui Sipenmaru diterima di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia bersama teman seangkatannya, Haziq Mansyur.
Di Gontor sendiri terdapat dua jalur pendidikan. Jalur pertama merupakan kelas biasa dari kelas 1 hingga 6 yang setara SMP dan SMA atau SMU saat ini, bagi siswa yang masuk sebagai lulusan SD/ibtidaiyah/setara.
Selain itu, terdapat kelas eksperimen bagi siswa yang masuk dengan ijazah SMP/SMA. Jalur ini ditempuh melalui kelas 1 exp, 3 exp dan 5 exp sebelum melanjutkan ke kelas 6.
Pendidikan di Gontor juga tidak hanya diarahkan untuk melahirkan pendidik. Para santri didorong untuk berkembang di berbagai bidang, termasuk menulis dan dunia usaha.
Salah satu alumninya adalah DR Saifudin Umar, yang kini menjadi dosen S2 program doktorat STAI Ar Rasyid, Surabaya. Di bidang usaha, terdapat pula alumni seperti Thohir Maksudi, pengusaha rotan dari Cirebon, serta alumni lain yang menekuni bisnis travel umrah, rumah makan, dan berbagai usaha lainnya.
Nostalgia Band dan Pertemuan dengan Sahabat Lama
Bagi para alumni, kembali ke Gontor setelah puluhan tahun bukan sekadar menghadiri perayaan satu abad. Ada kenangan lama yang kembali muncul dan mempertemukan mereka dengan sahabat seperjuangan.
Akbar, anggota Algodam yang kini berprofesi sebagai pengacara, mengenang masa belajarnya di Gontor pada 1978-79, termasuk pengalaman bermusik bersama KH Hasan Abdullah Sahal.
“Paling berkesan saat di Gontor adalah saat latihan Band bersama Kiyai Hasan Abdullah Sahal. Kadang saya main bersama grup SIDASA ( Siswa Darussalam) kadang saya juga main bersama Mahadasa ( Mahasiswa Darussalam) yaitu yang anggotanya para guru/ustadz. Saya senang sekali saat bertemu teman seband di acara tasyakuran 100 tahun Gontor, pas duduk sebelah saya, yaitu Harun Nurdani.” dilansir dari hariansentana.com
Pertemuan dengan orang-orang dari masa lalu juga menjadi bagian dari cerita dalam peringatan satu abad tersebut. Salah satunya ketika bertemu Helmy Hidayat, yang pernah menjadi senior di Gontor sekaligus senior di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia.
Pertemuan lain juga terjadi dengan Haji Baharuddin, pensiunan Krakatau Steel (KS), yang sebelumnya pernah menjadi rekanan perusahaan tersebut.
Peringatan 100 tahun Gontor akhirnya bukan hanya menjadi perayaan perjalanan sebuah lembaga pendidikan sejak 1926. Bagi para alumninya, momentum tersebut juga menjadi ruang untuk melihat kembali jejak pengabdian, pendidikan, persahabatan, dan kontribusi yang telah mereka bangun selama bertahun-tahun di berbagai penjuru Indonesia.

