Suarapesantren.com |- Pemerintah Provinsi Jawa Timur kembali menunjukkan komitmennya dalam memperkuat kualitas sumber daya manusia (SDM) berbasis pesantren melalui peluncuran Program Beasiswa Lembaga Pengembangan Pesantren dan Diniyah (LPPD) Jawa Timur Tahun 2026. Program yang telah berjalan selama bertahun-tahun ini tidak hanya menjadi bentuk dukungan terhadap pendidikan pesantren, tetapi juga menjadi strategi jangka panjang dalam mencetak generasi unggul yang mampu bersaing di tingkat nasional maupun global.
Tahun 2026 menjadi momentum penting karena Pemprov Jawa Timur menghadirkan terobosan baru berupa jalur beasiswa Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) bagi para santri. Langkah ini dinilai sebagai upaya adaptif dalam menjawab tantangan zaman yang semakin dipengaruhi oleh perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Dengan hadirnya jalur STEM, santri kini memiliki kesempatan lebih luas untuk mengembangkan kompetensi di bidang sains dan teknologi tanpa harus meninggalkan identitas serta nilai-nilai pesantren yang selama ini menjadi fondasi pendidikan mereka.
Inovasi Baru untuk Santri Jawa Timur
Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, menegaskan bahwa program beasiswa ini merupakan bagian dari investasi jangka panjang dalam pembangunan SDM yang berkualitas.
Menurutnya, penguatan kapasitas santri tidak hanya dilakukan melalui pendidikan keagamaan, tetapi juga perlu diperluas ke berbagai bidang strategis yang dibutuhkan pada masa depan.
“Tahun ini yang baru lagi adalah santri-santri dari berbagai pondok pesantren sudah mendapat kesempatan untuk bisa masuk pada program dalam payung STEM. Program ini diharapkan bisa menguatkan diversifikasi profesi yang berbasis pesantren,” kata Khofifah, Rabu (10/6/2026). Ujarnya Seperti Dilansir kanalsatu.com
Kehadiran program STEM membuka peluang baru bagi para santri untuk meniti karier di berbagai sektor profesional, mulai dari teknologi, rekayasa, penelitian, hingga industri berbasis inovasi.
Pendidikan Pesantren dan Sains Harus Berjalan Beriringan
Khofifah menjelaskan bahwa pengembangan pendidikan pesantren melalui jalur pendidikan tinggi telah menjadi agenda penting Pemerintah Provinsi Jawa Timur selama hampir dua dekade terakhir.
Pada awal pelaksanaannya, program beasiswa hanya berfokus pada jenjang sarjana. Namun seiring perkembangan kebutuhan masyarakat, cakupan program terus diperluas hingga mencakup pendidikan magister, doktoral, bahkan studi ke luar negeri.
Menurutnya, integrasi antara pendidikan pesantren dan penguasaan ilmu pengetahuan modern merupakan kebutuhan yang tidak bisa ditunda.
Pesantren selama ini dikenal sebagai lembaga pendidikan yang kuat dalam membentuk karakter, moral, dan spiritualitas. Namun di era transformasi digital, para santri juga perlu dibekali kemampuan akademik dan keterampilan teknis agar mampu berkompetisi dalam dunia yang terus berubah.
Khofifah menilai bahwa perpaduan antara nilai-nilai keislaman dan penguasaan teknologi akan melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki integritas yang kuat.
Menyambut Pergeseran Peradaban Global
Dalam pemaparannya, Khofifah juga menyinggung pandangan ilmuwan dan diplomat internasional Kishore Mahbubani yang memprediksi bahwa pusat peradaban dunia akan semakin bergeser ke kawasan Asia.
Menurutnya, prediksi tersebut harus disikapi dengan mempersiapkan generasi muda yang memiliki daya saing global sekaligus tetap berakar pada budaya dan nilai kebangsaan.
“Adaptasi dengan ilmu-ilmu STEM dan dunia pesantren memang sudah harus dilakukan sebagai proses afirmasi. Ini menjadi bagian dari upaya percepatan untuk menyiapkan generasi yang mampu menjawab tantangan masa depan,” ujarnya.
Melalui program beasiswa ini, Pemprov Jawa Timur berharap para santri mampu menjadi bagian dari generasi yang berkontribusi dalam pembangunan nasional sekaligus mampu berkiprah di tingkat internasional.
Menyiapkan SDM yang Bermanfaat bagi Masyarakat
Bagi Khofifah, keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari capaian akademik semata. Lebih dari itu, pendidikan harus mampu melahirkan individu yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Karena itu, program beasiswa pesantren dirancang untuk mencetak lulusan yang tidak hanya memiliki kompetensi akademik tinggi, tetapi juga memiliki kepedulian sosial, kemampuan kepemimpinan, serta semangat pengabdian kepada masyarakat.
Ia mengajak seluruh elemen, mulai dari pemerintah, perguruan tinggi, pesantren, hingga masyarakat, untuk terus memperkuat kolaborasi dalam membangun ekosistem pendidikan yang berkualitas.
Ribuan Kuota Beasiswa Disiapkan Tahun 2026
Pada Tahun Anggaran 2026, Pemprov Jawa Timur melalui LPPD menyediakan total 1.100 kuota beasiswa yang diperuntukkan bagi mahasiswa dan mahasantri.
Kuota tersebut terdiri dari berbagai jenjang pendidikan, yaitu:
- 60 mahasiswa Program Marhalah Ula (M1) Ma’had Aly
- 45 mahasiswa Program Marhalah Tsaniyah (M2) Ma’had Aly
- 540 mahasiswa program Sarjana (S1) PTKIS
- 285 mahasiswa program Magister (S2) PTKIS
- 80 mahasiswa program Doktor (S3) PTKIN maupun PTKIS
Selain itu, terdapat kuota khusus untuk program STEM yang meliputi:
- 40 mahasiswa program Sarjana (S1) STEM di perguruan tinggi negeri
- 20 mahasiswa program Magister (S2) STEM
- 30 mahasiswa program Magister (S2) di Universitas Al-Azhar
Para penerima beasiswa nantinya dapat menempuh pendidikan di 64 perguruan tinggi mitra yang tersebar di Jawa Timur maupun di Universitas Al-Azhar Mesir yang selama ini menjadi salah satu tujuan utama studi para santri Indonesia.
Ribuan Alumni Telah Merasakan Manfaat Program
Program Beasiswa LPPD Jawa Timur terbukti memberikan dampak nyata terhadap peningkatan kualitas pendidikan masyarakat pesantren.
Selama enam tahun terakhir, program ini telah menjangkau sebanyak 7.976 mahasiswa dan mahasantri yang berasal dari berbagai kabupaten dan kota di Jawa Timur.
Dari jumlah tersebut, tercatat:
- 2.580 orang telah lulus program sarjana
- 1.325 orang menyelesaikan pendidikan magister
- 64 orang berhasil meraih gelar doktor
Angka tersebut menunjukkan bahwa program beasiswa pesantren tidak hanya membuka akses pendidikan, tetapi juga mampu mendorong lahirnya SDM berkualitas yang berkontribusi di berbagai sektor pembangunan.
Bahkan hingga tahun 2029 mendatang, Jawa Timur diproyeksikan memiliki tambahan sekitar 250 doktor yang lahir dari program beasiswa pesantren.
“Ini adalah investasi jangka panjang yang manfaatnya akan dirasakan masyarakat Jawa Timur. Semakin banyak SDM unggul yang lahir dari pesantren, semakin besar kontribusinya terhadap pembangunan daerah, bangsa, dan negara,” tutur Khofifah.
Komitmen Bersama Menuju Indonesia Emas 2045
Sementara itu, Ketua LPPD Jawa Timur, Abd. Halim Soebahar, menyampaikan apresiasi atas konsistensi Pemerintah Provinsi Jawa Timur dalam mendukung pendidikan pesantren melalui berbagai inovasi program beasiswa.
Sebagai bentuk penguatan program, dalam kesempatan tersebut juga dilakukan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara LPPD Jawa Timur dan 63 perguruan tinggi mitra.
Kerja sama tersebut menjadi simbol komitmen bersama dalam menyiapkan generasi unggul berbasis pesantren yang mampu menjawab tantangan masa depan dan mendukung terwujudnya visi Indonesia Emas 2045.
Dengan hadirnya jalur STEM dalam Program Beasiswa LPPD 2026, pesantren kini semakin menunjukkan perannya sebagai pusat lahirnya generasi yang religius, berkarakter, sekaligus menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Langkah ini menjadi bukti bahwa pendidikan pesantren mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan jati dirinya sebagai lembaga pembentuk karakter bangsa.

