Suarapesantren.com |- Pondok Modern Darussalam Gontor memasuki usia satu abad pada 2026. Momentum tersebut menjadi penanda panjang perjalanan Gontor sebagai lembaga pendidikan Islam yang tidak hanya mempertahankan tradisi pesantren, tetapi juga terus berhadapan dengan perubahan zaman dan perkembangan teknologi.
Wakil Ketua MPR RI sekaligus Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR RI, Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas), turut menghadiri Resepsi Kesyukuran 100 Tahun Gontor di Ponorogo. Dalam kesempatan tersebut, Ibas menyampaikan pesan mengenai pentingnya menjaga nilai-nilai pendidikan pesantren di tengah perubahan dunia yang semakin cepat.
Menurut Ibas, peringatan satu abad Gontor tidak semata-mata menjadi perayaan usia sebuah lembaga. Lebih dari itu, perjalanan selama 100 tahun merupakan rangkaian proses pendidikan yang berorientasi pada pembentukan manusia sekaligus penanaman nilai-nilai Islam.
Satu Abad Bukan Sekadar Angka
Ibas memandang perjalanan Gontor selama satu abad sebagai bagian dari sejarah panjang pendidikan Islam. Keberadaan pesantren tidak hanya dapat dilihat dari lamanya lembaga tersebut berdiri, tetapi juga dari nilai yang diwariskan kepada para santri dan alumni.
“Kita tidak sekadar merayakan 100 tahun berdirinya Gontor. Kita merayakan 100 tahun perjalanan menghadirkan nilai-nilai Islam dan membangun manusia,” ujar politisi yang akrab disapa EBY tersebut.
Pesan tersebut menempatkan pendidikan sebagai bagian penting dalam membangun kualitas manusia. Bagi Ibas, perkembangan zaman perlu diiringi kemampuan untuk menjaga prinsip dan karakter agar kemajuan tidak hanya menghasilkan kecakapan teknologi, tetapi juga manusia yang memiliki tanggung jawab moral.
Teknologi Maju, Adab Tetap Menjadi Pegangan
Perubahan teknologi menjadi salah satu tantangan yang disoroti Ibas. Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence telah membuka berbagai peluang baru dalam pendidikan, pekerjaan, maupun kehidupan sehari-hari.
Namun, kemajuan teknologi juga dinilai perlu berjalan beriringan dengan penguatan karakter. Kemampuan menguasai teknologi, menurut pesan yang disampaikannya, tidak cukup apabila tidak dibarengi dengan adab dan kebijaksanaan dalam menggunakannya.
“Semakin canggih teknologi, semakin kita membutuhkan adab. Semakin cepat informasi, semakin kita membutuhkan hikmah. Dan semakin pintar artificial intelligence, semakin kita membutuhkan manusia yang berkarakter,” tegasnya di hadapan para santri.
Pesan tersebut menjadi relevan bagi generasi muda yang tumbuh di tengah derasnya arus informasi. Santri dan pelajar tidak hanya dituntut untuk mampu mengikuti perkembangan teknologi, tetapi juga memahami batas, tanggung jawab, serta nilai dalam memanfaatkannya.
Nilai Pesantren untuk Menjawab Abad Kedua
Memasuki abad kedua, Ibas mengajak para santri dan alumni Gontor untuk tetap menjadikan nilai-nilai pesantren sebagai bekal dalam menghadapi tantangan globalisasi. Pendidikan yang diterima selama berada di lingkungan pesantren diharapkan tidak berhenti sebagai pengalaman akademik, tetapi menjadi bagian dari karakter dalam kehidupan bermasyarakat.
Gontor sendiri memasuki usia satu abad pada 2026 dan momentum tersebut menjadi refleksi atas perjalanan pendidikan Islam sekaligus tantangan untuk menyiapkan generasi berikutnya.
Bagi para santri, tantangan masa depan akan semakin beragam. Perubahan teknologi, perkembangan ekonomi, persaingan global, serta derasnya arus informasi menuntut kemampuan untuk terus belajar dan beradaptasi.
Di tengah kondisi tersebut, nilai-nilai seperti keimanan, adab, kedisiplinan, dan tanggung jawab menjadi bagian yang tetap dibutuhkan. Karena itu, pesan Ibas tidak hanya ditujukan untuk menghadapi perkembangan teknologi saat ini, tetapi juga sebagai bekal bagi generasi yang akan menjalani abad kedua perjalanan Gontor.
Bermimpi Besar Tanpa Kehilangan Jati Diri
Menutup orasinya, Ibas menyampaikan pesan yang merangkum tantangan sekaligus harapan bagi para santri dan alumni. Ia mendorong generasi muda untuk tidak membatasi cita-cita, terbuka terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, serta berani memanfaatkan teknologi.
Namun, kemajuan tersebut tetap perlu berjalan bersama nilai-nilai yang menjadi fondasi kehidupan pesantren.
“100 tahun pertama adalah sejarah. 100 tahun berikutnya adalah tanggung jawab. Bermimpilah besar. Kuasai dunia. Gunakan teknologi. Tetapi jangan pernah kehilangan adab,” pungkas Wakil Ketua MPR RI tersebut.
Pesan itu menempatkan abad kedua Gontor sebagai fase baru yang memiliki tantangan berbeda. Jika satu abad pertama menjadi bagian dari sejarah perjalanan lembaga, maka generasi berikutnya memiliki ruang untuk melanjutkan nilai tersebut melalui berbagai bidang kehidupan.
Dengan demikian, peringatan 100 tahun Gontor tidak hanya menjadi momentum mengenang perjalanan masa lalu. Perayaan tersebut juga menjadi ruang untuk melihat masa depan pendidikan pesantren, terutama dalam mempersiapkan generasi yang mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa melepaskan nilai-nilai yang menjadi pijakannya.

