Suarapesantren.com |- Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) genap berusia 100 tahun pada 20 September 2026. Satu abad perjalanan tersebut bukan sekadar catatan usia sebuah pesantren, melainkan kisah panjang tentang bagaimana lembaga pendidikan Islam mampu bertahan lintas generasi setelah kepemilikannya ditransformasikan menjadi amanah umat.
Akar sejarah Gontor bahkan jauh lebih tua. Cikal bakalnya dapat ditelusuri hingga Pondok Tegalsari di Ponorogo yang berdiri pada paruh pertama abad ke-18. Dari tradisi keilmuan Tegalsari kemudian lahir Gontor Lama yang sempat mengalami kemunduran sebelum dibangkitkan kembali oleh tiga bersaudara yang dikenal sebagai Trimurti pendiri Gontor.
Tonggak Gontor Baru terjadi pada 20 September 1926 atau 12 Rabiulawal 1345 H, bertepatan dengan peringatan Maulid Nabi. Seabad kemudian, warisan tersebut berkembang menjadi model pendidikan pesantren yang memadukan pendidikan agama, ilmu pengetahuan, bahasa, serta pembentukan karakter dan kepemimpinan.
Dari Tegalsari ke Gontor
Menurut laman resmi Pondok Pesantren Darussalam Gontor, Pondok Tegalsari berada di Desa Tegalsari, sekitar 10 kilometer sebelah selatan Ponorogo. Pada masa kejayaannya, ribuan santri datang dari berbagai wilayah Jawa dan sekitarnya.
Sejumlah tokoh penting tercatat memiliki hubungan dengan pesantren tersebut, antara lain Paku Buana II atau Sunan Kumbul, Raden Ngabehi Ronggowarsito, serta H.O.S. Cokroaminoto.
Ketika Tegalsari mengalami kemunduran, Sulaiman Jamaluddin sebagai salah satu santri kemudian dipercaya mendirikan pesantren di Desa Gontor dengan membawa 40 santri. Saat itu, Gontor masih berupa kawasan hutan yang dikenal sebagai tempat persembunyian berbagai kelompok kriminal dan pelaku maksiat.
Gontor Lama kemudian berkembang di bawah kepemimpinan Kyai Archam Anom Besari. Namun, pesantren kembali mengalami kemunduran pada generasi ketiga di bawah Kyai Santoso Anom Besari. Persoalan kaderisasi membuat jumlah santri menyusut hingga akhirnya pondok praktis kehilangan penerus dari keluarga.
Trimurti Bangkitkan Gontor
Nyai Santoso kemudian mengirim tiga putranya, Ahmad Sahal, Zainuddin Fanani, dan Imam Zarkasyi, untuk menuntut ilmu. Ketiganya kelak dikenal sebagai Trimurti pendiri Gontor.
Dalam membangun kembali pesantren, mereka mempelajari berbagai model pendidikan, antara lain dari Universitas Al-Azhar di Mesir, Pondok Syanggit di Mauritania, Universitas Muslim Aligarh di India, dan Santiniketan yang didirikan Rabindranath Tagore.
Gagasan tersebut kemudian diwujudkan melalui Kulliyatu-l Mu’allimin al-Islamiyah (KMI), yang didirikan KH Imam Zarkasyi pada 19 Desember 1936. KMI memadukan ilmu agama dan pengetahuan umum dengan bahasa Arab dan Inggris sebagai bagian penting pendidikan.
Wakaf Jadi Fondasi Keberlanjutan
Salah satu titik balik terpenting terjadi pada 12 Oktober 1958 ketika para pendiri mewakafkan Pondok Modern Darussalam Gontor kepada umat Islam.
Keputusan ini mengubah Gontor dari lembaga yang berakar pada keluarga pendiri menjadi institusi yang diarahkan untuk kepentingan umat. Pengelolaannya kemudian diamanahkan kepada Badan Wakaf PMDG yang diwakili 15 anggota Ikatan Keluarga Pondok Modern (IKPM).
Ketika KH Imam Zarkasyi wafat pada 21 April 1985, Badan Wakaf menetapkan tiga pimpinan baru, yakni KH Shoiman Luqmanul Hakim, KH Abdullah Syukri Zarkasyi, dan KH Hasan Abdullah Sahal. Gontor pun terus berjalan melewati pergantian generasi.
Memasuki Abad Kedua
Perguruan Tinggi Darussalam yang berdiri pada 17 November 1963 menjadi tonggak pengembangan pendidikan Gontor ke jenjang perguruan tinggi dan kemudian berkembang menjadi Institut Studi Islam Darussalam (ISID).
Kini, setelah satu abad, transformasi terbesar Gontor bukan sekadar perubahan dari pesantren kecil menjadi lembaga pendidikan besar. Perubahan yang lebih mendasar terjadi ketika warisan keluarga ditransformasikan menjadi amanah umat.
Dari Tegalsari, Gontor Lama, kebangkitan Trimurti, hingga wakaf pada 1958, sejarah Gontor menunjukkan bahwa keberlanjutan membutuhkan visi yang diterjemahkan menjadi sistem.
Setelah 100 tahun, warisan Gontor tidak hanya berupa bangunan atau nama pesantren, tetapi juga ekosistem pendidikan dan kaderisasi yang terus hidup. Gontor memasuki abad kedua dengan fondasi bahwa ilmu dapat diwariskan melalui sistem dan perjuangan dapat bertahan ketika kepentingan pribadi ditempatkan di bawah kemaslahatan umat.

