Suarapesantren.com |- Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menghadiri Resepsi Kesyukuran 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) di Ponorogo, Jawa Timur, Sabtu (19/9/2026). Kehadiran tersebut menjadi bagian dari puncak rangkaian peringatan satu abad perjalanan Gontor yang berlangsung pada 18–20 September 2026.
Sebelum menghadiri resepsi, Prabowo terlebih dahulu meresmikan Fakultas Kedokteran Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor. Ia kemudian menghadiri resepsi di Balai Pertemuan Pondok Modern (BPPM), Kampus Pusat Gontor. Dalam agenda tersebut, Presiden juga menandatangani prasasti peresmian renovasi Aula BPPM dan Fakultas Kedokteran UNIDA Gontor.
Soroti Nilai-Nilai Panca Jiwa Gontor
Dalam sambutannya, Prabowo menyoroti nilai-nilai yang selama ini menjadi bagian dari pendidikan Gontor. Ia menyebut lima nilai dalam Panca Jiwa Gontor, yakni keikhlasan, kesederhanaan, berdikari, ukhuwah Islamiyah, dan kebebasan.
Menurut Prabowo, nilai tersebut memiliki keterkaitan dengan upaya membangun Indonesia yang mandiri. Ia menyinggung pentingnya sikap ikhlas, hidup sederhana, serta kemampuan bangsa untuk berdiri di atas kaki sendiri.
“Saya selalu ingin ikhlas. Saya selalu ingin sederhana. Saya ingin bangsa kita berdiri di atas kaki kita sendiri,” kata Prabowo.
Pesan mengenai kemandirian juga menjadi bagian dari perhatian Presiden dalam pidatonya. Dalam kesempatan tersebut, ia menekankan pentingnya kemampuan bangsa memenuhi kebutuhan rakyat dan membangun kekuatan dari dalam negeri.
Mendorong Santri Melanjutkan Perjuangan
Di hadapan keluarga besar Gontor, Prabowo juga menyampaikan pesan kepada para santri dan santriwati agar meneruskan perjuangan membangun bangsa.
“Kalianlah yang akan mengambil alih. Kalian yang akan meneruskan perjuangan kita,” ujarnya.
Pesan tersebut disampaikan dalam konteks keberlanjutan peran generasi muda. Pendidikan pesantren dipandang memiliki peran dalam membentuk generasi yang memiliki pengetahuan sekaligus karakter.
Peringatan 100 tahun Gontor sendiri menjadi momentum bagi lembaga tersebut untuk melihat kembali perjalanan pendidikan dan pengabdiannya sekaligus mempersiapkan langkah memasuki abad kedua.
Gontor dan Politik Praktis
Dalam sambutannya, Prabowo juga menyinggung posisi Gontor dalam kehidupan berbangsa. Ia mengingatkan agar Gontor tidak terlibat dalam politik praktis, namun tetap memiliki pemahaman terhadap persoalan politik.
“Gontor harus di atas segala golongan politik. Gontor tidak boleh ke mana-mana, tapi harus ada di mana-mana,” kata Prabowo.
Pernyataan tersebut menempatkan nilai dan pendidikan Gontor dalam konteks kehidupan masyarakat yang lebih luas. Dalam berbagai kesempatan pada resepsi tersebut, peran pendidikan dalam membentuk generasi yang mampu berkontribusi bagi bangsa juga menjadi salah satu perhatian.
Fakultas Kedokteran Jadi Bagian dari Legasi
Peresmian Fakultas Kedokteran UNIDA Gontor menjadi salah satu agenda penting dalam peringatan satu abad Gontor. Kehadiran fakultas tersebut menandai pengembangan bidang pendidikan Gontor ke ranah keilmuan yang lebih luas.
Selain Fakultas Kedokteran, pada acara puncak tersebut Presiden turut menandatangani prasasti renovasi Balai Pertemuan Pondok Modern. Dua peresmian tersebut menjadi bagian dari berbagai legasi yang dipersiapkan Gontor dalam memasuki abad kedua.
Dalam resepsi, Presiden juga menerima sejumlah cenderamata dari keluarga besar Gontor, termasuk buku Gontor untuk Indonesia dan Mushaf Al-Qur’an yang ditulis santri dan guru PMDG. Buku tersebut merekam perjalanan serta kiprah alumni Gontor dalam berbagai bidang pengabdian kepada bangsa dan negara.
Ribuan Tamu Hadiri Resepsi 100 Tahun
Resepsi Kesyukuran 100 Tahun Gontor dihadiri lebih dari 5.000 tamu. Mereka berasal dari berbagai kalangan, termasuk pejabat negara, menteri, pimpinan TNI-Polri, gubernur, duta besar negara sahabat, tokoh masyarakat, akademisi, alumni, dan keluarga besar Gontor.
Rangkaian peringatan satu abad tersebut menjadi penanda berakhirnya satu fase panjang perjalanan Gontor sekaligus dimulainya babak baru. Berbagai agenda yang digelar tidak hanya berisi perayaan, tetapi juga memperlihatkan sejumlah legasi pendidikan dan arah pengembangan lembaga untuk memasuki abad kedua.
Kehadiran Presiden Prabowo dalam momentum tersebut turut menjadi bagian dari rangkaian kegiatan yang mempertemukan unsur pemerintah, pesantren, akademisi, alumni, dan masyarakat dalam peringatan satu abad perjalanan Gontor.

