Suarapesantren.com – Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) terus mempercepat pengoperasian Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di berbagai daerah sebagai bagian dari dukungan terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG). Langkah terbaru ditandai dengan peresmian sejumlah unit SPPG di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri.
Peresmian ini dilakukan langsung oleh Ketua Umum PBNU, Yahya Cholil Staquf, sebagai bagian dari upaya besar memperkuat ketahanan pangan dan gizi nasional yang dikoordinasikan bersama Badan Gizi Nasional (BGN).
Lebih dari 250 SPPG Telah Beroperasi
Dalam keterangannya, Gus Yahya menyebutkan bahwa jumlah SPPG yang telah beroperasi terus bertambah secara signifikan. Hingga saat ini, tercatat lebih dari 250 unit telah aktif di berbagai wilayah Indonesia.
“Hari ini kita meresmikan 27 SPPG. Sebelumnya di NTT sudah ada 36 titik dan di Batam ada 29 titik. Alhamdulillah sekarang total sudah ada lebih dari 250 SPPG yang sudah beroperasi,” ujarnya. dilansir dari nu.or.id
Angka tersebut menunjukkan percepatan implementasi program gizi nasional yang tidak hanya menyasar kota besar, tetapi juga menjangkau berbagai daerah.
Lirboyo Butuh Tambahan Fasilitas Gizi
Khusus di lingkungan Pondok Pesantren Lirboyo, kebutuhan SPPG dinilai masih jauh dari ideal. Dengan jumlah santri mencapai 52.000 orang yang tersebar di berbagai kompleks, fasilitas yang ada saat ini belum mencukupi.
Saat ini, baru tersedia dua unit SPPG yang telah beroperasi. Berdasarkan perhitungan PBNU, setidaknya dibutuhkan 15 hingga 20 unit SPPG agar layanan pemenuhan gizi dapat berjalan optimal.
“Tadi kita bicara dengan Wakil Kepala BGN, dia bilang kita coba dorong akselerasi. Minimal bisa tambah enam unit lagi dalam waktu dekat,” ucanya.
Bukan Sekadar Penyedia Makanan
Gus Yahya menegaskan bahwa keberadaan SPPG tidak hanya berfungsi sebagai tempat penyedia makanan bergizi. Lebih dari itu, program ini diharapkan menjadi simbol kemandirian dan ketahanan masyarakat yang digerakkan oleh komunitas pesantren.
Konsep ini turut diperkuat oleh Wakil Ketua BGN, Sony Sanjaya, yang menilai model pengembangan di Lirboyo memiliki keunggulan tersendiri.
“Yang terjadi di Lirboyo melampaui sekedar distribusi makanan, karena telah memadukan elemen pemberdayaan ekonomi atau business match,” ujarnya.
Dorong Ekonomi Lokal Berbasis Pesantren
Menurut Sony, integrasi antara program gizi dengan pemberdayaan ekonomi lokal menjadi nilai tambah yang signifikan. Produk-produk masyarakat sekitar kini memiliki pembeli tetap (offtaker), yaitu SPPG, yang didukung oleh pembiayaan dari sektor perbankan.
“Nah, ini yang dibutuhkan. Jadi bukan hanya memberikan makanan, tapi bagaimana kegiatan-kegiatan masyarakat yang mengakibatkan perekonomian semakin meningkat,” bebernya.
Model ini dinilai mampu menciptakan ekosistem ekonomi yang berkelanjutan, sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sekitar pesantren.
Jadi Contoh Nasional
Kolaborasi antara PBNU dan BGN diharapkan dapat menjadi model percontohan bagi wilayah lain di Indonesia. Program ini tidak hanya berfokus pada peningkatan kualitas gizi masyarakat, tetapi juga berperan sebagai penggerak ekonomi berbasis komunitas.
“akan tetapi juga menjadi motor penggerak ekonomi kerakyatan di tingkat akar rumput,” tutupnya.
Dengan sinergi yang terus diperkuat, program SPPG diharapkan mampu menjawab dua tantangan sekaligus yakni pemenuhan gizi nasional dan pemberdayaan ekonomi masyarakat secara berkelanjutan.

