Suarapesantren.com – Pesantren selama ini dikenal sebagai tempat untuk menimba ilmu agama dan membentuk karakter. Namun, perannya dinilai dapat berkembang lebih jauh, yakni menjadi ruang pemberdayaan yang membantu santri dan masyarakat mengasah keterampilan, mengenali potensi, hingga menciptakan peluang ekonomi.
Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat Abdul Muhaimin Iskandar mendorong pesantren agar tidak hanya berfokus pada pendidikan, tetapi juga mampu menjadi pusat pengembangan kapasitas manusia dan potensi lokal.
Pesantren Tak Sekadar Tempat Belajar
“Pesantren tidak hanya menjadi tempat belajar. Pesantren bisa menjadi ruang untuk membangun manusia yang punya karakter, keterampilan, kemampuan melihat peluang, dan pada akhirnya mampu mandiri,” ujarnya di Jakarta, Selasa. dilansir dari jatim.antaranews.com
Pernyataan tersebut disampaikan Muhaimin saat mengunjungi pesantren atau Sekolah Rimba Indonesia yang dikembangkan Yayasan Pemuda Hijrah di Kabupaten Bandung, Jawa Barat.
Menurutnya, model pendidikan yang memadukan pembentukan karakter, keterampilan hidup, kepedulian terhadap lingkungan, serta pengembangan potensi lokal menjadi gambaran bahwa pemberdayaan dapat tumbuh dari lingkungan pendidikan.
Bagi Muhaimin, proses pemberdayaan seharusnya dimulai dari peningkatan kapasitas manusia. Pendidikan tidak cukup hanya membuat peserta didik memahami teori, tetapi juga perlu memberi kesempatan untuk mengenali minat, mengembangkan kemampuan, mencoba berbagai hal, hingga mampu melihat peluang yang ada di lingkungan sekitar.
Belajar dari Kelas hingga Lahan Pertanian
Model tersebut terlihat dalam kegiatan pendidikan di pesantren yang menggabungkan kurikulum nasional, pendidikan Al Quran, permakultur, dan pembelajaran berbasis keterampilan hidup.
Aktivitas santri pun tidak hanya berlangsung di ruang kelas. Mereka dilibatkan dalam berbagai kegiatan, mulai dari pertanian, peternakan, pengolahan limbah, pengembangan kopi, pembuatan produk santri, hingga wisata edukasi.
Keterlibatan tersebut membuat proses belajar menjadi lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Santri tidak hanya mendapatkan pengetahuan, tetapi juga pengalaman untuk mengelola sumber daya dan memahami bagaimana sebuah potensi dapat dikembangkan menjadi sesuatu yang bernilai.
“Yang penting dalam pemberdayaan adalah bagaimana anak-anak ini tidak hanya disiapkan untuk mencari pekerjaan, tetapi juga memiliki kemampuan untuk menciptakan peluang dan mengembangkan potensi yang ada di sekitarnya,” katanya.
Kopi Jadi Potensi Ekonomi Lokal
Salah satu potensi yang dikembangkan di lingkungan pesantren adalah komoditas kopi. Perkebunan kopi Arabika seluas sekitar 12,7 hektare, ditambah 2 hektare lahan baru, dikelola bersama Kelompok Tani Putra Manglayang yang beranggotakan 31 orang.
Pada 2026, produksi kopi mencapai sekitar 50 ton. Dari jumlah tersebut, sekitar 14 ton telah diserap untuk diolah menjadi berbagai produk, sedangkan 36 ton lainnya masih dijual dalam bentuk bahan mentah.
Data tersebut menunjukkan masih terbukanya peluang untuk meningkatkan nilai ekonomi kopi. Pemberdayaan dapat diarahkan pada peningkatan kemampuan pasca-panen, pengolahan, pengemasan, hingga perluasan akses pasar.
Dengan begitu, masyarakat tidak hanya berperan sebagai penghasil bahan mentah, tetapi juga dapat menikmati nilai tambah dari produk yang mereka hasilkan.
“Di sini kita melihat bagaimana potensi lokal bisa menjadi sumber pemberdayaan. Bukan hanya menghasilkan komoditas, tetapi bagaimana masyarakat memiliki kemampuan untuk mengolah, meningkatkan nilai tambah, dan mendapatkan manfaat yang lebih besar,” ujar Muhaimin Iskandar.

