Suarapesantren.com – Pendidikan pesantren tidak hanya berfokus pada penguasaan ilmu agama, tetapi juga membentuk karakter, kedisiplinan, dan kemandirian santri. Salah satu upaya untuk menanamkan nilai-nilai tersebut dilakukan melalui kegiatan kepramukaan yang terstruktur dan berkelanjutan.
Hal itu menjadi salah satu fokus silaturahmi dan diskusi kepramukaan antara Pondok Pesantren Nurul Jadid dan Pondok Modern Darussalam Gontor di Ponorogo, Kamis (08/10/2026). Kegiatan yang berlangsung di Gontor 1 dan Gontor 3 tersebut menjadi ruang berbagi pengalaman mengenai sistem pendidikan pesantren, pengelolaan kepramukaan, hingga kaderisasi pembina.
Rombongan Nurul Jadid disambut Ustaz Prof. Dr. H. Nur Hadi Ihsan, MIRKH, dan Ustazah Mutmainnah Cholby, S.Ag., dari UNIDA Putri Kampus Mantingan. Pertemuan tersebut juga dihadiri KH. Abdurrahman Wafie, Ny. Hj. Nur Diana Kholidah, Ny. Muthmainnah Waqid, Ny. Nurul Fajriyah, Ny. Hj. Wardah, serta pengurus bagian kepramukaan Nurul Jadid putra dan putri.
Kepramukaan Jadi Bagian dari Pendidikan Karakter
Dalam diskusi tersebut, Ustaz Ahmad Fajaruddin, M.A., memaparkan sejumlah pendekatan yang diterapkan dalam pendidikan dan pembinaan santri di Gontor Putri.
Ia menjelaskan bahwa santri datang dengan latar belakang keluarga, kemampuan, serta karakter yang beragam. Karena itu, pendidikan pesantren tidak cukup hanya menyampaikan ilmu pengetahuan, tetapi juga perlu membentuk kepribadian dan menanamkan nilai-nilai yang menjadi bekal ketika santri kembali ke tengah masyarakat.
Pembentukan karakter dilakukan melalui pembiasaan dalam kehidupan sehari-hari. Aturan, kedisiplinan, penggunaan bahasa Arab dan Inggris, serta kegiatan kepramukaan menjadi bagian dari lingkungan pendidikan yang melatih santri mengatur diri dan bertanggung jawab.
Dalam konteks tersebut, Pramuka memiliki peran penting karena memberikan pengalaman belajar melalui praktik, bukan hanya melalui penjelasan atau nasihat.
“Pramuka bukan sekadar kegiatan baris-berbaris atau keterampilan lapangan, melainkan bagian dari proses pendidikan yang membentuk kedisiplinan, kemandirian, dan ketangguhan santri,” demikian salah satu pokok bahasan dalam diskusi tersebut. dilansir dari nuruljadid.net
Melalui kegiatan kepramukaan, santri dilatih menghadapi tantangan, bekerja sama, mengembangkan kreativitas, serta membangun ketahanan mental. Aktivitas yang awalnya terasa berat atau kurang diminati dapat berkembang menjadi kebiasaan positif ketika dijalankan secara konsisten.
Dengan cara ini, pendidikan karakter tidak berhenti sebagai nilai yang disampaikan di dalam kelas, tetapi diwujudkan dalam kebiasaan dan perilaku sehari-hari.
Kaderisasi Pembina Perlu Dirancang Berkelanjutan
Selain pembinaan santri, diskusi turut menyoroti pentingnya peningkatan kapasitas pembina dan pelatih Pramuka. Jumlah santri yang besar membutuhkan sistem pendampingan yang terencana, ketersediaan tenaga pembina yang memadai, serta mekanisme regenerasi yang berkelanjutan.
Kursus Mahir Dasar (KMD) dan Kursus Mahir Lanjutan (KML) menjadi salah satu jalur pengembangan kompetensi bagi calon pembina maupun pembina yang ingin memperdalam kemampuannya.
Meski demikian, pengembangan kepramukaan tidak berarti setiap santri harus menekuninya pada tingkat yang sama. Minat, kemampuan, kesiapan, serta persyaratan pelatihan tetap menjadi pertimbangan dalam proses kaderisasi. Sementara itu, nilai-nilai dasar Pramuka tetap dapat ditanamkan kepada seluruh santri sebagai bagian dari pendidikan karakter.
Pendekatan tersebut memungkinkan pesantren mengembangkan kader yang kompeten tanpa mengabaikan tujuan utama kepramukaan sebagai sarana pembentukan karakter.
Koordinasi, Sarana, dan Anggaran Jadi Perhatian
Pengelolaan kegiatan kepramukaan juga membutuhkan dukungan kelembagaan yang kuat. Dalam diskusi tersebut, kedua pihak membahas pentingnya koordinasi dengan kwartir agar penyelenggaraan pelatihan berjalan sesuai mekanisme kepramukaan.
Pembahasan turut mencakup koordinasi dengan Kwartir Cabang Ngawi dan kwartir pada tingkat yang lebih tinggi, termasuk kebutuhan pembina, pengaturan waktu, penyediaan sarana, serta perencanaan anggaran.
Seluruh aspek tersebut perlu dikelola secara matang agar kegiatan kepramukaan dapat berjalan konsisten dan tidak bergantung pada pelaksanaan agenda tertentu saja.
Selain itu, pengelolaan unit usaha juga menjadi bagian dari pembahasan. Hasil usaha yang dikelola dengan baik dapat kembali digunakan untuk mendukung kebutuhan pondok dan keberlangsungan program pendidikan.
Kemandirian pengelolaan yang ditopang tata kelola yang tertata dinilai dapat membantu pesantren menjaga kesinambungan berbagai program pembinaan, termasuk kegiatan kepramukaan.
Keberhasilan Pramuka Tak Hanya Diukur dari Prestasi
Pengalaman yang dibagikan dalam pertemuan tersebut menjadi bahan pembelajaran bagi Pondok Pesantren Nurul Jadid untuk memperkuat sistem pembinaan kepramukaan.
Penguatan itu mencakup kaderisasi pembina, evaluasi kegiatan, peningkatan koordinasi, serta pembiasaan nilai-nilai karakter dalam kehidupan santri.
Keberhasilan Pramuka tidak semata-mata diukur dari banyaknya agenda yang terlaksana atau prestasi yang diperoleh. Lebih dari itu, keberhasilan juga terlihat dari tumbuhnya kedisiplinan, tanggung jawab, kreativitas, dan kemandirian santri dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Melalui silaturahmi dan diskusi bersama Gontor, Nurul Jadid diharapkan dapat mengembangkan sistem kepramukaan pesantren yang lebih terarah dan berkelanjutan.
Pertemuan tersebut sekaligus memperkuat pandangan bahwa Pramuka bukan sekadar kegiatan ekstrakurikuler, melainkan bagian dari proses pendidikan yang dapat membantu menyiapkan generasi berkarakter, siap menghadapi tantangan, dan mampu berkhidmah kepada masyarakat.

