SUARA PESANTREN | Sumbawa–Tak ada kata menyerah dalam belajar. Sebesar apa pun rintangan yang ada, harus dihadapi. Bagaimana pun kesulitan yang ada harus diselesaikan. Begitulah optimisme santri-santri Pesantren Dea Malela Sumbawa pimpinan Prof Dr Din Syamsuddin menghadapi tantangan kelanjutan belajar mereka di masa yang akan datang.
Sebagian siswa optimistis dapat melanjutkan studi ke perguruan tinggi di luar negeri. Ada yang sudah apply mendaftar studi ke Yale University, Fathoni University, Universitas Dakwah di Tripoli Libya, dan sejumlah perguruan tinggi lainnya.
“Lanjutkan studi kalian ke jenjang yang lebih tinggi. Terus sampai ada yang meraih gelar profesor di usia muda,” kata Ketua Umum PP Muhammadiyah 2005-2015 dalam sambutannya dilansir Republika, Senin (15/5/2023).
Ada 15 santri dan 11 santriwati yang akan terjun ke masyarakat. Mereka menempuh studi selama tiga hingga enam tahun di SMA pesantren yang menginduk kepada Muadalah KMI Pondok Modern Darussalam Gontor tersebut.
Nilai tertinggi lulusan kali ini mencapai 94,5. Peraihnya adalah Muhammad Adrian Firdaus dari Sumbawa.
Hafalan Alquran terbanyak mencapai 7 juz. Penghafalnya adalah Dienul Hakim dari Sumbawa. Berikutnya ada M Farid Jihadil Akbar dari lombok yang hafal 4 juz Alquran.
Adapun santriwati berprestasi tahun ini adalah sebagai berikut. Qariah terbaik adalah Naila Listi Rafifah dari Sumbawa. Santriwati peserta yudisium terbaik berdasarkan akumulasi nilai akademik, nilai praktik, adab, serta ekstrakurikuler adalah Siti Aisyah Barokah dari sumbawa dan Siti Aisyah Nurfika dari Jakarta.
Profil pesantren
Berlokasi di Jalan Bukit Kembar, Pemangong, Lenangguar, Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, Pesantren Internasional Dea Malela mendidik ratusan santri dari dalam dan luar negeri. Di pesantren yang berhawa sejuk itu, mereka digembleng dengan ilmu dan hikmah. Dengan begitu, karakter mereka terbentuk menjadi mulia: menghormati orang tua, cepat dan tangkat mengerjakan tugas, berbadan sehat, dan memiliki bekal rasa ingin tahu untuk melakuan riset dan karya akademik.
Bekal riset akademik ini dipersiapkan melalui penulisan karya ilmiah sebelum kelulusan. Kategori ilmiah ini terlihat dari adanya sistematika latar belakang, rumusan masalah, studi sebelumnya, dan beberapa elemen yang menjadi syarat ilmiah.
Karya ilmiah yang mereka susun dibimbing langsung oleh Prof Din Syamsuddin yang terbiasa menguji desertasi, thesis, dan skripsi di berabagai kampus perguruan tinggi nasional dan internasional.
Para santri juga diharuskan mempresentasikan karya akademik mereka di hadapan dewan guru yang dipimpin langsung Prof Din. Masing-masing siswa dipanggil dan menjelaskan apa yang mereka tulis selama 30 menit dalam Bahasa Arab atau Inggris.
Dalam keseharian, mereka dibiasakan berkomunikasi dengan Bahasa Arab dan Inggris. Pembimbing mereka adalah ustaz bergelar sarjana yang bertugas sebagai pendidik. Tak sekadar transfer ilmu, mereka harus menjadi teladan dalam bertutur kata dan bertindak, sehingga kelak para santri nanti meniru keteladanan tersebut saat berdakwah di masyarakat. [froj]

