Suarapesantren.com – tengah keterbatasan fasilitas di Pulau Enggano, Kabupaten Bengkulu Utara, Pondok Pesantren As Salam Al Azhar terus berkomitmen mencetak generasi yang berakhlak mulia dan memiliki bekal ilmu agama yang kuat. Berlokasi di Desa Kaana, pesantren ini menjadi salah satu pusat pendidikan Islam yang hadir untuk menjawab kebutuhan masyarakat di wilayah terluar Provinsi Bengkulu.
Perjalanan pesantren bermula sekitar delapan tahun lalu ketika Ustaz Zaki Almukarom, putra asli Enggano, memutuskan pulang ke kampung halaman setelah menimba ilmu agama di luar pulau. Keputusan tersebut didasarkan pada keinginan untuk membangun pendidikan di daerah asalnya agar anak-anak Enggano memiliki kesempatan belajar yang setara.
“Saya ingin membangun sekolah di daerah sendiri, mencerdaskan anak bangsa dan mencetak generasi yang berakhlak. Walaupun berada di pulau, kami tidak ingin tertinggal dalam pendidikan agama,” katanya dalam wawancara bersama RRI, Jumat (31/7/2026). dilansir dari rri.co.id
Paukan Pendidikan Agama dan Umum
Selain mengajarkan berbagai disiplin ilmu keislaman seperti nahwu, shorof, tafsir, akidah akhlak, dan materi keagamaan lainnya, Ponpes As Salam Al Azhar juga memberikan pendidikan umum sesuai kurikulum Kementerian Agama.
Mata pelajaran seperti matematika dan Bahasa Indonesia tetap diajarkan agar para santri memiliki bekal akademik yang setara dengan peserta didik di sekolah formal lainnya.
“Pelajaran umum tetap kami ajarkan agar anak-anak tidak tertinggal. Kami mengikuti kurikulum yang ditetapkan Kementerian Agama,” kata dia.
Seluruh santri di pesantren ini juga memperoleh pendidikan secara gratis. Operasional pondok, termasuk kebutuhan makan para santri, selama ini ditopang oleh dukungan para donatur dari berbagai daerah di Indonesia hingga luar negeri.
“Alhamdulillah semua santri gratis, kebutuhan makan dan operasional banyak dibantu para donatur, ada yang dari Jakarta hingga Sydney. Kami bersyukur masih banyak yang peduli,” tuturnya.
Saat ini, Ponpes As Salam Al Azhar telah memiliki izin operasional, terdaftar di Kementerian Agama, serta mengantongi akreditasi sehingga para lulusan dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya.
Sampaikan Aspirasi Saat Kunjungan DPD RI
Momentum kunjungan kerja Anggota DPD RI/MPR RI, Apt. Hj. Destita Khairilisani, S.Farm., MSM, pada Sabtu (25/7/2026), dimanfaatkan Ustaz Zaki untuk menyampaikan berbagai kebutuhan yang masih dihadapi pesantren.
Salah satu persoalan utama adalah seluruh tenaga pengajar yang hingga kini masih berstatus honorer. Ustaz Zaki berharap guru swasta memiliki kesempatan yang sama dengan guru negeri untuk mengikuti seleksi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK).
“Harapan kami jangan sampai ada perbedaan antara guru negeri dan swasta. Guru-guru swasta juga seharusnya memiliki kesempatan yang sama mengikuti PPPK,” katanya.
Selain itu, pesantren masih kekurangan fasilitas pembelajaran berbasis teknologi. Hingga kini, proses belajar mengajar belum didukung perangkat komputer maupun sarana pembelajaran modern.
“Sampai sekarang kami belum memiliki komputer dan alat pendukung mengajar. Kami berharap ada bantuan agar anak-anak santri tidak ketinggalan mengikuti perkembangan teknologi,” ujarnya.
Butuh Kendaraan Operasional dan Perbaikan Ruang Belajar
Keterbatasan lain yang menghadap pesantren belum tersedianya kendaraan operasional. Setiap mengikuti kegiatan di luar, seperti pramuka, pengajian, maupun penampilan marawis, pihak pondok harus menyewa kendaraan dengan biaya sekitar Rp400 ribu setiap kali perjalanan.
“Kalau ada kegiatan di luar kami selalu menyewa mobil. Sekali sewa bisa sekitar Rp400 ribu, itu menjadi beban bagi pondok,” ungkapnya.
Di sisi lain, kondisi ruang belajar juga memerlukan perhatian karena sebagian atap seng mengalami kebocoran.
“Semoga ada bantuan untuk memperbaiki ruang kelas yang atapnya sudah bocor. Mudah-mudahan ada pihak yang tergerak membantu demi kenyamanan anak-anak santri belajar,” kata Ustaz Zaki.
Meski dihadapkan pada berbagai keterbatasan, ia menegaskan komitmennya untuk terus mendidik anak-anak Pulau Enggano agar mampu bersaing tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman.
“Selama kami masih diberi kesehatan, insya Allah kami akan terus mendidik anak-anak Pulau Enggano agar mereka tidak tertinggal, baik dalam ilmu agama maupun ilmu pengetahuan,” tutur Ustaz Zaki.
DPD RI Siap Perjuangkan Aspirasi Pesantren
Menangapi berbagai aspirasi tersebut, Senator DPD RI asal Bengkulu, Apt. Hj. Destita Khairilisani, S.Farm., MSM, menyatakan komitmennya untuk memperjuangkan kebutuhan Ponpes As Salam Al Azhar melalui kewenangan yang dimiliki di DPD RI.
Menurutnya, masyarakat yang tinggal di wilayah terluar seperti Pulau Enggano berhak memperoleh akses pendidikan dan fasilitas yang setara dengan daerah lain di Indonesia.
“Aspirasi yang disampaikan Ustaz Zaki, para dewan guru, dan santri akan kami bawa dan kami perjuangkan. Pendidikan di Pulau Enggano sebagai wilayah terluar tidak boleh tertinggal dan kami ingin anak-anak di sana mendapatkan kesempatan dan fasilitas yang sama dengan daerah lain,” kata Anggota Komite III itu.

