Suara Pesantren | Sumenep – Rangkaian Idul Khotmi Nasional Tarekat Tijaniyah ke-234 resmi dimulai pada Jumat (17/7/2026) di Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur. Sejak sore hari, puluhan ribu jamaah dari berbagai provinsi di Indonesia serta sejumlah negara memadati kawasan pesantren untuk mengikuti rangkaian ibadah pembuka yang berlangsung khusyuk.
Hari pertama diawali dengan pelaksanaan shalat Ashar berjamaah di venue utama Idul Khotmi yang berlokasi di lapangan Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan. Shalat dipimpin oleh Sayyid As-Syarif Muhammad Al-Habib dari Aljazair. Setelah itu, jamaah mengikuti amaliah Wirid Lazimah, Ijtima’ Wadhifah, dan Hailalah yang dipimpin oleh Habib Idrus Ali Baharun dari Pasuruan, Jawa Timur.
Kegiatan tersebut menjadi pembuka dari rangkaian Idul Khotmi Nasional yang akan berlangsung hingga 19 Juli 2026 dengan agenda utama berupa majelis dzikir, tausiyah para masyayikh dan ulama, doa bersama, serta kegiatan yang mempererat ukhuwah antarsesama jamaah.
Apa Itu Wirid Lazimah, Wadhifah, dan Hailalah dalam Tarekat Tijaniyah?
Pimpinan Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan sekaligus Muqaddam Tarekat Tijaniyah Madura, Dr. KH. Ahmad Fauzi Tijani, M.A., menjelaskan bahwa ketiga amaliah tersebut merupakan fondasi pembinaan spiritual dalam Tarekat Tijaniyah.
Menurutnya, Wirid Lazimah adalah dzikir harian yang diamalkan secara istiqamah sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT. Sementara Ijtima’ Wadhifah merupakan dzikir berjamaah yang bertujuan memperkuat persaudaraan dan kebersamaan antarjamaah. Adapun Hailalah berisi penguatan kalimat tauhid sebagai inti keimanan seorang muslim.
“Hakikat dzikir dalam Tarekat Tijaniyah bukan sekadar melafalkan bacaan wirid, tetapi menghadirkan hati yang senantiasa mengingat Allah SWT. Wirid Lazimah mendidik istiqamah, Wadhifah memperkokoh ukhuwah, sedangkan Hailalah meneguhkan tauhid. Ketiganya membentuk pribadi yang dekat kepada Allah, berakhlak mulia, dan memberi manfaat bagi sesama,” ungkap Kiai Fauzi.

Penjelasan tersebut menunjukkan bahwa dalam tradisi Tarekat Tijaniyah, dzikir tidak hanya dipahami sebagai ritual lisan, tetapi juga sebagai proses pendidikan akhlak yang mendorong lahirnya pribadi yang disiplin beribadah, memiliki kepedulian sosial, serta menjaga hubungan baik dengan sesama manusia.
Dzikir yang Menguatkan Ukhuwah dan Cinta Tanah Air
Putra KH Mohammad Tidjani Djauhari itu menjelaskan bahwa tema Idul Khotmi Nasional tahun ini, “Menguatkan Dzikir, Meneguhkan Ukhuwah, dan Menegakkan Cinta Tanah Air dalam Naungan Tarekat Tijaniyah”, menggambarkan nilai-nilai yang terus diajarkan dalam tarekat.
“Semakin kuat dzikir seseorang, semakin kokoh persaudaraannya, semakin luhur akhlaknya, dan semakin besar kecintaannya kepada tanah air. Spiritualitas yang benar tidak menjauhkan seseorang dari kehidupan bermasyarakat, tetapi justru melahirkan pribadi yang menjaga persatuan serta menghadirkan kemaslahatan bagi umat, bangsa, dan negara,” jelasnya.
Pesan tersebut menegaskan bahwa pendidikan spiritual dalam Islam berjalan seiring dengan tanggung jawab sosial. Dzikir yang benar tidak membuat seseorang menjauh dari kehidupan bermasyarakat, tetapi justru memperkuat kepedulian terhadap persatuan, kerukunan, dan pembangunan bangsa.
Puluhan Ribu Jamaah Ikuti Hari Pertama dengan Tertib
Ketua Panitia Idul Khotmi Nasional Tarekat Tijaniyah ke-234, KH. Junaidi Rasyidi, menyampaikan rasa syukur karena seluruh rangkaian kegiatan pada hari pertama berjalan dengan aman dan lancar.
“Alhamdulillah, hari pertama Idul Khotmi Nasional ke-234 berlangsung dengan aman, tertib, dan penuh kekhusyukan. Jamaah dari berbagai daerah di Indonesia maupun luar negeri dapat mengikuti seluruh rangkaian amaliah dengan baik. Ini menunjukkan bahwa dzikir mampu menyatukan hati, mempererat ukhuwah, dan menghadirkan ketenangan bagi seluruh jamaah,” ungkap Kiai Junaidi.
Menurutnya, keberhasilan tersebut merupakan hasil sinergi berbagai pihak. Panitia bekerja sama dengan pemerintah daerah, TNI, Polri, tenaga kesehatan, serta ratusan relawan untuk memastikan pelayanan, pengamanan, pengaturan lalu lintas, kebersihan, dan kenyamanan jamaah selama kegiatan berlangsung.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah bekerja sama menyukseskan hari pertama Idul Khotmi Nasional ini. Kami juga mengapresiasi seluruh jamaah yang menjaga adab, kebersihan, kedisiplinan, dan ketertiban selama mengikuti kegiatan. Semoga seluruh rangkaian Idul Khotmi hingga penutupan nanti berlangsung lancar dan membawa keberkahan bagi umat, masyarakat, bangsa, dan negara,” tandasnya.
Idul Khotmi sebagai Sarana Memperkuat Syiar Islam yang Damai
Selama tiga hari penyelenggaraan, jamaah akan mengikuti berbagai kegiatan ibadah dan pembinaan spiritual yang bertujuan memperdalam kedekatan kepada Allah SWT sekaligus mempererat hubungan antarsesama muslim.
Kiai Junaidi berharap penyelenggaraan Idul Khotmi Nasional ke-234 mampu memperkuat nilai-nilai dzikir, persaudaraan, dan cinta tanah air di tengah kehidupan masyarakat.
“Kegiatan ini diharapkan menjadi ikhtiar bersama dalam memperkuat syiar Islam yang damai serta membangun Indonesia yang religius, harmonis, dan berkeadaban,” pungkasnya.
Idul Khotmi merupakan salah satu agenda besar Tarekat Tijaniyah yang tidak hanya menjadi forum ibadah berjamaah, tetapi juga wadah pendidikan karakter, penguatan ukhuwah Islamiyah, serta peneguhan nilai-nilai kebangsaan. Melalui amaliah dzikir yang dilakukan secara rutin dan berjamaah, para jamaah diajak membangun keseimbangan antara kedekatan kepada Allah SWT, kepedulian terhadap sesama, serta komitmen menjaga persatuan dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.[]

