Suarapesantren.com – Transformasi digital kini mulai menjadi perhatian serius di lingkungan pesantren. Komisi Pesantren Majelis Ulama Indonesia (MUI) mendorong pondok pesantren di berbagai daerah untuk mulai mengembangkan sistem digitalisasi, mulai dari perpustakaan digital hingga penyimpanan manuskrip karya ulama Nusantara.
Langkah tersebut dinilai penting agar tradisi keilmuan pesantren tetap terjaga sekaligus mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi modern.
Dorongan itu disampaikan Wakil Ketua Komisi Pesantren MUI Pusat, Prof M Noor Harisudin, dalam pemaparannya bertajuk “Dari Perpustakaan Digital Hingga Digitalisasi Manuskrip Pesantren” pada kegiatan Short Course Kurikulum Pesantren di Aula Buya Hamka. dilansir dari mui.or.id
Pesantren Perlu Beradaptasi dengan Perkembangan Zaman
Menurut Prof Haris, pesantren tidak cukup hanya mempertahankan sistem pembelajaran tradisional, tetapi juga perlu melakukan inovasi agar mampu menjawab tantangan era digital.
“Pesantren-pesantren yang sudah berkembang perlu mulai meng-upgrade inovasi pembelajarannya melalui digitalisasi, baik dalam sistem pembelajaran maupun pengelolaan perpustakaan,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa digitalisasi pesantren bukan hanya berkaitan dengan administrasi pendidikan, tetapi juga mencakup penguatan akses literatur keislaman berbasis teknologi.
Melalui sistem digital, kitab kuning, karya ulama, hingga referensi pembelajaran pesantren dapat diakses lebih mudah oleh santri maupun masyarakat luas.
Dorong Pengembangan E-Library Berbasis Pesantren
Salah satu gagasan utama yang disampaikan dalam forum tersebut adalah pentingnya pengembangan e-library atau perpustakaan digital berbasis pesantren.
Menurut Prof Haris, keberadaan perpustakaan digital akan mempermudah penyimpanan dan distribusi karya-karya ulama pesantren dalam bentuk digital.
“Pesantren perlu memiliki e-library berbasis pesantren, sehingga karya-karya ulama dapat diakses melalui e-book maupun jurnal digital,” katanya.
Dengan sistem tersebut, pesantren diharapkan mampu memperluas akses ilmu pengetahuan tanpa harus meninggalkan tradisi belajar khas pesantren yang selama ini telah berjalan turun-temurun.
Manuskrip Ulama Nusantara Perlu Dilestarikan
Selain perpustakaan digital, Prof Haris juga menyoroti pentingnya digitalisasi manuskrip ulama Nusantara yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.
Menurutnya, banyak karya ulama terdahulu yang memiliki nilai sejarah dan keilmuan tinggi, namun belum terdokumentasi dengan baik.
“Ada manuskrip ulama Nusantara yang tersebar dari Aceh sampai Papua. Karya-karya itu perlu dilestarikan melalui digitalisasi agar tetap menjadi sumber belajar generasi mendatang,” ungkapnya.
Digitalisasi manuskrip dinilai menjadi langkah strategis untuk menjaga warisan intelektual Islam Nusantara agar tidak rusak atau hilang dimakan usia.
Menjaga Tradisi Keilmuan di Tengah Era Modern
Prof Haris menegaskan bahwa transformasi digital bukan berarti menghilangkan identitas pesantren. Sebaliknya, teknologi justru dapat digunakan untuk memperkuat sanad keilmuan dan memperluas penyebaran ilmu dari para ulama terdahulu.
Menurutnya, pesantren memiliki potensi besar untuk berkembang menjadi lembaga pendidikan modern yang tetap berakar kuat pada tradisi Islam Nusantara.
Ia berharap pesantren di Indonesia mampu terus berkembang dan sejajar dengan lembaga pendidikan global tanpa kehilangan ciri khas dan nilai tradisional yang selama ini menjadi kekuatan utama pesantren.

