Suara Pesantren — Media Pesantren IndonesiaSuara Pesantren — Media Pesantren IndonesiaSuara Pesantren — Media Pesantren Indonesia
Notification Show More
Font ResizerAa
  • Home
  • Kirim Artikel
  • Nasional
    • 100 Th Gontor
    • Wejangan
    • Tuntunan
    • Muamalah
    • Regulasi
    • Kesehatan
  • Kilas Pesantren
  • Review Pesantren
  • Jejak Ulama
  • Kiai-Ustadz
  • Santri-Alumni
  • Pendidikan Islam
    • Beasiswa
Reading: Lingkaran Setan Izin Muadalah
Share
Font ResizerAa
Suara Pesantren — Media Pesantren IndonesiaSuara Pesantren — Media Pesantren Indonesia
  • Home
  • Kirim Artikel
  • Nasional
  • Kilas Pesantren
  • Review Pesantren
  • Jejak Ulama
  • Kiai-Ustadz
  • Santri-Alumni
  • Pendidikan Islam
Search
  • Home
  • Kirim Artikel
  • Nasional
    • 100 Th Gontor
    • Wejangan
    • Tuntunan
    • Muamalah
    • Regulasi
    • Kesehatan
  • Kilas Pesantren
  • Review Pesantren
  • Jejak Ulama
  • Kiai-Ustadz
  • Santri-Alumni
  • Pendidikan Islam
    • Beasiswa
Have an existing account? Sign In
Suara Pesantren — Media Pesantren Indonesia > Blog > NASIONAL > Lingkaran Setan Izin Muadalah
NASIONAL

Lingkaran Setan Izin Muadalah

Ahamdie Thaha (Kolumnis)

Suara Pesantren
Suara Pesantren Published 26/01/2026 9 Min Read
Share
muadalah fpag

Suarapesantren.com | Pagi di Mojogedang itu tidak ada yang istimewa. Hanya spanduk dan umbul-umbul berkibar pelan. Tidak ada libur merah, tidak ada sirene protokoler, tidak pula karpet tebal ala istana. Namun bagi pesantren, pagi itu terasa berat sekaligus hangat — seperti secangkir kopi yang diminum sambil menahan banyak hal di dada.

- Advertisement -
jasa sosialisasi pesantren

Di halaman Pondok Pesantren MTA (Majlis Tafsir al-Qur’an) Surakarta, para pengasuh pesantren berdatangan dari penjuru negeri. Ada yang rambutnya telah memutih semua, ada yang masih hitam, tetapi wajahnya menyimpan lelah puluhan tahun mengurus santri — dari pelajaran, makanan, hingga urusan kesehatan.

Para pengasuh ratusan pondok pesantren yang didirikan alumni Gontor itu datang bukan membawa rencana muluk-muluk, bukan pula harapan berlebihan. Mereka hadir dengan sesuatu yang lebih mahal: pengalaman. Pengalaman yang sering kali harus dibayar lebih melelahkan dari sekadar kekurangan dana.

Di dalam aula, kursi tersusun rapi. Spanduk besar terbentang: “Silaturahim Nasional Pesantren Muadalah Muallimin dan Musyawarah Nasional FPAG”. Kalimatnya panjang, seolah sengaja dibuat agar sepadan dengan persoalan yang hendak dibicarakan — panjang, berlapis, dan tak bisa diselesaikan dengan satu dua kalimat sambutan.

Ini bukan forum gaduh. Tidak ada tepuk tangan yang dipaksakan. Yang ada hanyalah tatapan sesama pengasuh yang saling memahami tanpa perlu banyak kata. Mereka sama-sama tahu betapa sulitnya menjaga ruh pesantren di tengah zaman yang makin mengagungkan sertifikat, tetapi sering melupakan keteladanan.

Ketika Wakil Menteri Agama, Romo Syafi’i — yang bukan orang pesantren — naik ke podium, suasana tetap tenang. Tidak terasa aura “pejabat datang”. Yang hadir justru suasana seperti ngaji kebijakan: duduk, mendengar, merenung — sambil diam-diam berharap ada sesuatu yang sungguh berubah.

Di tengah pidato itulah muncul satu kalimat yang terdengar sederhana, nyaris datar, namun membuat banyak kepala terangkat pelan:

“Kementerian Agama mendengar dan mencatat berbagai kendala yang dihadapi pesantren muadalah.”

Kalimat Romo itu tidak meledak. Tidak menggelegar. Tidak heroik. Ia hanya sebuah pengakuan terang-benderang dari kementerian yang memang ditugasi mengurus pesantren. Namun bagi pesantren, kalimat itu terdengar seperti bunyi kunci yang diputar perlahan — entah membuka pintu, entah sekadar memastikan pintu itu masih ada.

Sebab selama ini, yang paling sering dirasakan pesantren bukan tidak didengar, melainkan didengar dan dicatat, tetapi tidak kunjung diwujudkan. Seperti azan dari masjid kecil yang suaranya merdu, namun pengerasnya tidak tersambung ke jaringan kebijakan.

Kendala itu bukan hal sepele. Salah satunya menyangkut izin satuan pendidikan muadalah muallimin yang tertulis rapi dalam juknis negara: minimal 120 santri mukim, kewajiban beroperasi tiga tahun “tanpa status”, serta berbagai prosedur yang di atas kertas tampak rasional, tetapi di lapangan berubah menjadi labirin.

Bayangkan. Pesantren diminta memiliki santri dalam jumlah besar untuk memperoleh izin. Namun tanpa izin, tanpa status jelas, wali santri justru ragu menitipkan anaknya. Ketika santri tak kunjung mencapai angka 120, syarat pun tak terpenuhi. Negara lalu berkata dengan tenang, “Belum memenuhi ketentuan.”

Di titik itulah kebijakan berubah menjadi lingkaran setan. Pesantren berputar-putar di tempat yang sama, sambil tetap diminta bersabar untuk mendapatkan status resmi bagi satuan pendidikan yang diselenggarakannya — karena sabar seolah sudah menjadi paket bawaan seorang kiai.

Untuk memperjelas, angka 120 santri itu didasarkan pada asumsi enam kelas, masing-masing berisi dua puluh santri. Di atas kertas tampak masuk akal. Namun di lapangan, ia bekerja seperti teka-teki absurd: pesantren harus besar agar diakui, tetapi harus diakui terlebih dahulu agar bisa menjadi besar.

Logikanya mirip seseorang yang diminta menunjukkan SIM sebelum boleh belajar menyetir. Ketika ia mengaku belum bisa menyetir karena belum punya SIM, negara menjawab bijak, “Nah, makanya cari SIM dulu.” Sebuah filsafat kebijakan yang, jika diterapkan terus-menerus, bisa membuat kiai lebih cepat beruban.

Belum lagi syarat harus beroperasi tiga tahun sebelum bisa mengajukan izin satuan pendidikan muadalah muallimin. Tiga tahun berjalan tanpa kepastian status, tanpa legitimasi negara, tanpa jaminan ijazah. Pesantren diminta tabah seperti pertapa, kuat seperti baja, dan sabar seperti menunggu undangan resepsi.

Bandingkan dengan sekolah dan madrasah pada umumnya. Mereka memperoleh izin operasional sejak awal satuan pendidikan ini berdiri, baru kemudian dievaluasi. Pesantren justru diminta matang dulu, baru diakui. Negara seolah berkata, “Tumbuhlah dengan risiko sendiri. Kalau selamat, nanti kami beri stempel.”

Inilah yang oleh Romo Syafi’i disebut secara jujur sebagai arsitektur kebijakan yang bermasalah. Ia memahaminya setelah memperoleh aduan masyarakat. Bukan karena pesantrennya kurang bermutu, melainkan karena desain rumah hukumnya membuat pintu masuk lebih sempit daripada pintu keluar.

Di sinilah arti penting kalimat “mendengar dan mencatat” yang diucapkan dengan tegas tadi. Sebab mendengar tanpa mengubah kebijakan yang tak adil dan cenderung diskriminatif itu hanyalah seni mendengarkan yang sopan. Dan mencatat tanpa keberanian menindaklanjuti tak lebih dari arsip yang rapi.

Romo Syafi’i paham betul bahwa pesantren muadalah tidak meminta standar diturunkan. Mereka hanya berharap tahapan perizinan dibuat lebih manusiawi dan setara dengan sekolah dan madrasah pada umumnya. Mutu tetap dijaga, tetapi jalannya jangan seperti lomba lari sambil memikul karung regulasi di kaki.

Negara, sebagaimana disampaikan dalam pidato itu, tidak cukup hadir sebagai penguji akhir. Negara harus hadir sebagai pendamping pertumbuhan. Sebab pesantren bukan pabrik ijazah. Ia adalah ekosistem adab — tumbuh perlahan, organik, dan sering kali berawal dari mushala kecil yang atapnya bocor.

Suasana aula MTA terasa hening bukan karena para peserta tak memahami aturan, melainkan karena mereka terlalu paham dampaknya. Mereka tahu betul bagaimana rasanya mendidik dengan ruh pengabdian, namun dibatasi sistem yang bekerja seperti mesin: lurus, dingin, dan tak mengenal konteks.

Karena itu, ketika disebut bahwa persoalan ini bukan kesalahan pesantren, melainkan kebijakan yang perlu ditata ulang, beberapa wajah mengangguk pelan. Bukan karena gembira, tetapi karena akhirnya ada yang menyebut penyakitnya — bukan sekadar menutup lukanya dengan jargon.

Janji peninjauan ulang, penyederhanaan perizinan, dan kepastian hukum dari Romo Syafi’i sejak awal terdengar menjanjikan. Namun di pesantren, janji tidak pernah diukur dari kalimat, melainkan dari waktu. Sebab mereka terlalu sering menerima harapan yang indah di podium, tetapi terlambat tiba di meja teknis.

Sebut juga rencana pendirian Direktorat Jenderal Pesantren di Kemenag yang dikawal sepenuhnya oleh Romo Syafi’i.

Sejatinya Ditjen Pesantren bukan soal struktur organisasi. Itu simbol pengakuan cara berpikir. Bahwa pesantren bukan anomali dalam sistem pendidikan nasional, melainkan dunia sendiri dengan logika, ritme, dan nilai yang tak bisa dipaksa masuk ke kotak birokrasi seragam.

Namun, menunggu pembentukannya memang terasa lama. Begitu lama. Lama sekali. Barangkali justru di ruang tunggu itulah pesantren kembali diuji: apakah mereka akan berubah menjadi lembaga yang sekadar mengejar pengakuan, atau tetap menjadi lembaga yang menjaga niat.

Dan dari Mojogedang pagi itu, di kampus Pesantren MTA, para pengasuh pulang dengan langkah pelan. Tidak membawa euforia. Tidak pula membawa kekecewaan. Mereka membawa sesuatu yang sejak awal menjadi napas pesantren: harapan yang tidak berisik, tetapi keras kepala.

Sebab bagi pesantren, didengar saja sudah berarti awal. Namun dicatat tanpa diperbaiki hanyalah jeda.

Dan di sanalah bangsa ini sedang diuji: apakah ia cukup dewasa untuk tidak sekadar mendengar suara paling sunyi — suara pesantren — tetapi juga berani menata ulang dirinya demi keadilan yang lebih masuk akal.

 

⇒Berita Seputar Pesantren. Kunjungi dan Follow Kami di ⇒ GOOGLE NEWS ⇐

You Might Also Like

Ada 31 Pesantren Rusak Terdampak Gempa Cianjur

PBNU Minta Pemerintah Perhatikan Pesantren dalam Program Vaksinasi

BKsPPI Ajak Pesantren dan Santri Lemahkan Ekonomi Israel dengan Boikot

250 Pimpinan Pesantren Muhammadiyah Gelar Rakornas di Solo, Bahas Apa?

Api Gontor Terus Menyala

TAGGED:muadalahmuallimienpesantren
Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Telegram Email Print
Jasa pembuatan website SEO

Follow US

Yuk Join Sosial Media
FacebookLike
InstagramFollow
YoutubeSubscribe
TelegramFollow

10 Berita Pilihan

Seputar Pesantren
memegang bara api

 Memegang Agama Terasa seperti Menggenggam Bara Api

Suara Pesantren Suara Pesantren 08/10/2026
Dulu Santri Panutan, Sekarang Lupa Jalan
Inilah 10 Tips Liburan Wisata Halal ke Eropa Barat Biar Berkesan
Ibadah Umroh Bersama Khadim Wisata, Travel Resmi di Bogor
Prabowo Gaungkan ‘Free Palestina’ di Kesyukuran 100 Tahun Pondok Gontor
Prabowo Apresiasi Nilai-nilai Pendidikan Pondok Modern Gontor
KKN-T Universitas Alma Ata Bekali Siswa SMA Ma’arif 1 Srumbung Cara Hindari Scam Digital
Inspirasi Gamis Muslimah Syar’i dengan Detail Feminin 
7 Alasan Menarik Mengapa Kuliah Kedokteran di Luar Negeri Jadi Pilihan Terbaik! 
1926: Ketika NU dan Gontor Menjawab Zaman

Jasa Blogroll & Publikasi

  • Suara Muslim
  • Seputar Masjid
  • Seputar Halal
  • Seputar Kuliner
  • Seputar Kesehatan
  • Promo UKM
  • Wisata Indonesia
  • Inilah Kita
  • Beasiswa Kampus
  • Indonesia Sentris
  • Seputar Rumah
  • Seputar Keamanan
  • Kota Surabaya
  • Info Nasional
  • Info Perkotaan
  • Info Bekasi
  • Market Daily
  • Berita Santai
  • Berita Tekno
  • Portal Mahasiswa
  • Media Outsourcing
  • Kirim Artikel
  • Pendidikan
  • Bisnis Daily

‎اَلسَلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَات ‎اَلسَلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ 

Salam Fathan Mubina, Salam Kemenangan…!
Kepada Ayah Bunda, yang Disayangi Allah SWT

Sebagai wujud kecintaan dan dukungan dakwah pendidikan melalui *Pesantren Ciawi Bogor Fathan Mubina*…
Kami dari Panitia Penerimaan Santri Baru ingin menyampaikan informasi ini sebagai pengingat dalam penyebaran informasi pendaftaran lembaga pendidikan yang berada dibawah asuhan Yayasan Pembangunan Umat Fathan Mubina. Terima Kasih 

Wassalamualaikum Wr. Wb.

@pesantrenfathanmubina @fathanmubinatv #santribaru
Follow on Instagram

FACEBOOK

Artikel Lainnya

NASIONAL

Wakil Gubernur Jabar Dorong Pesantren Punya Legalitas

21/03/2021
NASIONAL

Perda Pesantren di Jabar, Anwar Yasin Ingatkan Alasan Pemerintah harus Bantu Pesantren

22/04/2024
NASIONAL

Ikatan Pesantren Indonesia Kalsel Ajak Pesantren Giatkan OPOP

16/04/2022
KILAS PESANTREN

Wabup Banggai Bersama Ustadz Das’ad Latif Resmikan Pesantren Al Murad

04/10/2023
Mubes forbis-gontor
NASIONAL

FORBIS Gontor akan Gelar Mubes Ke-2 di Kota Surabaya

28/11/2024
NASIONAL

Diakui Pemerintah, Lulusan Ma’had Aly Sandang Gelar Sarjana Agama

04/11/2023
NASIONAL

Kemenag Terus Perjuangkan Pembentukan Direktorat Jenderal Pesantren

17/11/2024
marc klok
KILAS PESANTRENNASIONAL

Marc Klok Bantu Bangun Kembali Pesantren yang Terbakar di Pangalengan

05/09/2026
Previous Next
  • Tentang SP
  • Redaksi
  • Jasa Publikasi
  • Disclaimer
  • Pedoman Siber
  • Kirim Artikel
logo suara pesantren logo suara pesantren

Suara Pesantren, media informasi seputar pesantren di Indonesia.
Yuk, support pengembangan website Suara Pesantren agar menjadi lebih baik. Untuk kerjasama, hubungi kami. Terima kasih. Jazakumullah.

© Suara Pesantren | Digital Media Labs
suara pesantren
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?