“Dengan adanya covid-19 Ini, ada hikmahnya. Yaitu, kita lebih meningkatkan keimanan terhadap qada dan qadar. Tapi keberlangsungan pendidikan harus juga tetap menjadi pemikiran bersama. Karena ini menyangkut penyiapan generasi mendatang,” imbuhnya.
Kekhawatiran terhambatnya keberlangsungan pendidikan akibat Covid-19 ini juga sempat dirasakan pengurus Pondok Pesantren Cipasung yang memiliki sekitar 2.600an santri. “Namun Alhamdulillah panduan protokol yang dikeluarkan Menag ini menjadi solusi,” ungkapnya.
Menanggapi hal tersebut Wamenag Zainut Tauhid Sa’adi mengaku turut senang. “Ketika mengeluarkan protokol tersebut, kami pun berusaha menimbang-nimbang. Namun karena dukungan para Kyai yang meyakinkan bahwa protokol kesehatan bisa diterapkan di pesantren, maka kami keluarkan,” tuturnya.
“Kami berharap santri kita tetap bisa belajar dengan nyaman di pesantren, dan tetap aman dari Covid-19,” sambungnya.
Tampak hadir mendampingi Wamenag dalam silaturahmi tersebut, Kakanwil Kemenag Jawa Barat Adib dan Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Tasikmalaya.[rojink]

