Perjalanan menempuh pendidikan hingga ke luar negeri sering kali berawal dari ketekunan yang dibangun sejak bangku pesantren. Kisah inspiratif tersebut datang dari Khoerotun Ni’mah, lulusan MA Unggulan Bina Insan Mulia Cirebon asal Indramayu yang kini tengah menempuh pendidikan tinggi di Universitas Al-Qurowiyyin, Maroko.
Perjalanan Ni’mah menjadi gambaran bahwa pendidikan pesantren dapat menjadi pijakan kuat untuk melangkah lebih jauh. Tidak hanya membekali ilmu agama, lingkungan pesantren juga membentuk kedisiplinan dan kemandirian yang menjadi modal penting ketika seseorang harus beradaptasi dengan kehidupan di negara lain.
Hafalan Al-Qur’an Jadi Fondasi Pendidikan
Selama menempuh pendidikan di pesantren, Ni’mah berhasil menyelesaikan hafalan Al-Qur’an sebanyak 30 juz bil ghoib. Pencapaian tersebut menjadi salah satu fondasi penting dalam perjalanan pendidikannya sekaligus memperkuat bekal keilmuan yang telah diperoleh selama berada di lingkungan pesantren.
Menjelang akhir kelas 12, Ni’mah kemudian mengambil langkah besar dengan mengikuti seleksi beasiswa perguruan tinggi Timur Tengah. Hasilnya cukup membanggakan. Ia berhasil lolos di dua universitas bergengsi, yakni Universitas Al-Azhar di Mesir dan Universitas Al-Qurowiyyin di Maroko.
Setelah melalui berbagai pertimbangan, Ni’mah akhirnya memilih melanjutkan pendidikan di Maroko melalui jalur beasiswa penuh. Pilihan tersebut sekaligus membuka kesempatan baginya untuk memperluas pengalaman akademik dan mengenal lingkungan pendidikan Islam di luar Indonesia.
Dukungan Pesantren Mengantarkan ke Maroko
Keberhasilan Ni’mah tidak terlepas dari dukungan para pembimbing selama berada di pesantren. Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia Cirebon, K.H. Imam Jazuli, Lc., M.A., bersama Umi Nyai Hj. Malika Lulu, S.Psi., serta jajaran dewan asatidz, terus memberikan bimbingan dan doa restu.
Dukungan tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan Ni’mah hingga mampu menembus pendidikan tinggi internasional. Bimbingan dari lingkungan pesantren tidak hanya berkaitan dengan kemampuan akademik dan keagamaan, tetapi juga membentuk kesiapan mental untuk menghadapi tantangan di luar negeri.
Kini, Ni’mah telah memasuki semester kelima di Universitas Al-Qurowiyyin. Di tengah kesibukannya mempelajari ilmu agama dan peradaban Islam, ia juga mengambil peran dalam memperkenalkan budaya Indonesia di lingkungan internasional.
Kenalkan Budaya Nusantara di Negeri Orang
Kehidupan Ni’mah di Maroko tidak hanya diisi dengan kegiatan akademik. Ia aktif memperkenalkan kekayaan budaya tanah air melalui berbagai ajang kebudayaan di luar negeri.
Sejumlah kesenian Nusantara ditampilkan dengan bangga, mulai dari tarian tradisional hingga pementasan pencak silat kreasi. Aktivitas tersebut menjadi cara Ni’mah memperkenalkan identitas Indonesia kepada masyarakat internasional sekaligus menunjukkan bahwa pendidikan dapat berjalan beriringan dengan pelestarian budaya.
Kehadirannya di berbagai kegiatan kebudayaan juga menjadi pengalaman berharga dalam membangun kemampuan beradaptasi. Hidup di lingkungan yang berbeda membuatnya berhadapan dengan kebiasaan, budaya, serta pola kehidupan baru yang menuntut kemandirian.
Harapan Orang Tua untuk Masa Depan
Kebanggaan juga dirasakan oleh sang ayah, Mohamad Kholid, M.Pd.I., yang menjabat sebagai Kepala MTsN 2 Indramayu. Sebagai orang tua, ia melihat putri pertamanya tumbuh menjadi perempuan muda yang tangguh, mandiri, serta mampu beradaptasi dengan lingkungan global yang dinamis.
”Semoga menjadi pribadi yang mandiri, berpikiran luas, serta memiliki peluang karier global yang lebih baik,” ungkap Mohamad Kholid saat ditemui di ruang kerjanya di Kantor MTsN 2 Indramayu, Kamis Kliwon, 10 September 2026 siang.
Ia menambahkan bahwa pengalaman hidup jauh dari keluarga memberikan pelajaran tersendiri bagi Ni’mah. Terbiasa tinggal di negeri orang membuat putrinya belajar mengurus berbagai kebutuhan sehari-hari sekaligus menghadapi persoalan secara mandiri.
Kisah Khoerotun Ni’mah menunjukkan bahwa perjalanan pendidikan dapat membawa seseorang melampaui batas geografis. Berawal dari pesantren di Cirebon, ia kini menuntut ilmu di salah satu pusat pendidikan Islam bersejarah di Maroko.
Perjalanan tersebut sekaligus menjadi bukti bahwa hafalan Al-Qur’an, pendidikan, dukungan keluarga, serta keberanian mengambil peluang dapat menjadi bekal untuk membuka jalan menuju pengalaman global. Di tengah pendidikan yang dijalaninya, Ni’mah juga membawa identitas Indonesia melalui budaya yang diperkenalkannya kepada masyarakat internasional.

