SUARA PESANTREN | Depok–Pesantren Tahfizh Madinatul Qur’an Depok Kembali menggelar Khotmil Qur’an 30 Juz pada Jumat kemarin lusa, 1 Desember 2023, bertempat di masjid MQ. Kali ini peserta yang mengikuti Khotmil Qur’an 30 Juz adalah 4 santri sekaligus, terdiri dari 2 santri kelas 9 SMP MQ, 1 santri kelas 11 SMA MQ dan 1 santri kelas 12 SMA MQ.
Keempat santri tersebut adalah Umar Abdul Aziz, santri kelas 12 SMA MQ asal Depok; Muhammad Syafiq Atqon, kelas 11 SMA MQ asal Depok; Musthofa Haidar, kelas 9 SMP MQ asal Depok; dan Muhammad haikal Atthar, kelas 9 SMP MQ asal Bogor. Mereka merupakan Hafizh 30 Juz yang ke-33 hingga ke-36, dan berhak menyandang gelar Al-Hafizh.
Mereka berempat mengkhatamkan setoran terakhir di hadapan KH. DR. Rachmat Morado, Lc, MA, Al-Hafizh, selaku Mudir Tahfizh Pesantren Madinatul Qur’an Depok, dan KH. DR. Sholihien Hadzieq, M.HI, selaku Ketua Yayasan Madinatul Qur’an Depok, juga disaksikan para santri dan kedua orang tua mereka.
Sebagaimana pernah dikatakan Ketua LPMT (Lembaga Penjamin Mutu Tahsin & Tahfizh) Pesantren Madinatul Qur’an Depok, Ust Rizqi Ahmadian, S.Pd, rahasia santri mampu menghafal Al-Qur’an 30 juz dalam waktu singkat, karena mereka diberikan motivasi dan target dalam menghafal. Selain itu LPMT juga membuka program Halaqah Takhassus bagi santri yang mempunyai kemampuan menghafal cepat. “Alhamdulillah beberapa santri kami yang selesai 30 juz adalah alumni dari Halaqah Takhassus,” ungkapnya.
DR. Sholihien Hadzieq, M.HI, ketua yayasan MQ dalam sambutannya mengatakan, dari yayasan tidak ada kata lain selain rasa syukur dan bangga, serta mengucapkan terimakasih dan selamat kepada para ananda dan orangtuanya. “Hanii’an lakum!”
Beliau lalu menyetir janji Rasulullah Saw : “Man ta’allama qur’an wa amila bima fihi ulubisa walidau tajan yaumal qiyamah dzauha ahsanu min dzauissyamsi.” Menurut beliau, orang yang anaknya belajar/menghafal (Al-Qur’an) kemudian berusaha mengamalkan (Al-Qur’an), maka bukan hanya mereka yang istimewa di mata Allah, tetapi kedua orangtuanya pun kelak akan dikenakan mahkota yang begitu indah dan begitu bercahaya, lebih terang dari matahari.
Ketika dipakaikan pakaian kemuliaan yang luar biasa itu maka orangtuanya pun kaget, “Ya Allah perasaan saya dulu di dunia biasa-biasa saja kenapa sekarang saya mendapatkan kemuliaan seperti ini?” Lalu dijawab oleh Allah, “Fi akhdi waladika Qur’an.” (Ini karena anak-anak kalian yang memuliakan al-Qur’an). “Makanya orang-orang ahli qur’an itu wakhoshotu ahlullahi ahlul qur’ani wa khoshotu (orang yang dianggap sebagai keluarga Allah dan orang yang sangat khusus),” ucap beliau.
Selanjutnya Kyai Sholihien meminta kepada Mudir Tahfizh Pesantren Madinatul Qur’an Depok KH. DR. Rachmat Morado, Lc, MA, Al-Hafizh untuk memikirkan kelanjutan program bagi para santri yang telah menyelesaikan hafalan 30 juz. Jangan sampai setelah ini mereka mandek. “Ini baru awal, mereka belum selesai, masih ada langkah-langkah berikutnya,” lanjutnya.
“Jangan sampai ittakhadu tilawatahu amalan. Jangan sampai kita beranggapan bahwa mengamalkan al-Qu’an itu hanyalah membaca atau menghafal, tetapi yang lebih dari, yaitu menjaganya, dan memahaminya sampai mengamalkannya. Nanti akan dijelaskan oleh Kyai Rachmat Morado,” ungkapnya.
Sementara itu KH. DR. Rachmat Morado, Lc, MA, Al-Hafizh selaku Mudir Tahfizh Pesantren Madinatul Qur’an Depok mengatakan, bahwa bisa menghafal Al-Qur’an 30 juz itu merupakan suatu nikmat yang sangat besar dari Allah. “Apalagi tadi ada yang baru berusia 14 tahun bisa mengkhatamkan hafalan 30 juz dan masih duduk di bangku SMP…subhanallah,” ucap beliau.
Beliau lalu bercerita tentang pengalamannya dulu,”Saya dulu baru mulai menghafal Al-Qur’an ketika duduk di bangku SMA. Sebelumnya saya belum pernah menghafal. Kalaupun menghafal, hanya surat-surat pilihan saja. Saya menghafal sendiri, tidak ada guru pembimbing. Karena Kyai Irfan, guru saya di MAN PK (Madrasah Aliyah Negeri-Program Khusus), dulu bukan seorang muhafizh.”
Saking penginnya menjadi seorang penghafal Al-Qur’an, Kyai Rachmat Morado sampai nitip beli kaset Syekh Sudais kepada temannya yang mau pergi ke Arab Saudi. Saat itu tahun 1996 dan kasetnya masih dalam format jadul, menggunakan pita. “Harganya pun lumayan mahal untuk ukuran tahun itu,” ungkap beliau.
Dan cara Kyai Irfan memotoring murid-muridnya yang sedang menghafal Al-Qur’an secara mandiri itu dengan cara sholat. Alhasil, di antara para murid MAN PK tersebut kemudian ada yang hafal 25 juz, 26 juz, dan bahkan ada yang 30 juz. “Saya sendiri ketika itu hafal 21 juz, tanpa adanya bimbingan, benar-benar mandiri,” kata Kyai Morado.
“Tapi karena keinginan saya untuk menjadi hafizh al-Qur’an 30 juz selama 3 tahun belum selesai, maka saya setorkan kepada Syekh saat kuliah di Al-Azhar Mesir. Saya baru bisa menamatkan halafan 30 juz itu di tahun 2001. Jadi total saya menghafal selama 5 tahun,” cerita beliau.
“Karena itu antum di sini, di MQ, sangat beruntung, karena digembleng secara khusus, ada program reguler, juga ada program takhassus. Jadi manfaatkanlah waktu di sini, di MQ, sebagai pondok al-Qur’an yang dibangun oleh almarhum (KH. Khairul Muttaqien) dan tim, dan insyAllah dilanjutkan perjuangannya oleh kita, agar kita tetap menjadi pejuang-pejuang Al-Qur’an,” lanjut KH. Morado.
Lebih lanjut KH Rachmat Morado mengemukakan bahwa penghafal qur’an itu disebut juga hamilul qur’an, yang membawa Al-Qur’an. Kenapa demikian? Karena kemana pun penghafal Al-Qur’an berada mereka harus mengingat Al-Qur’an, membawa Al-Qur’an. Sehingga Insya Allah kelak mereka berada pada tahapan Mutqin, karena mereka bisa muraja’ah dimanapun dan kapapun. “Dan itu tidak mungkin didapatkan kecuali dengan usaha yang keras. Maka setelah setoran ini ada tahapan mutqin, bagaimana bisa muraja’ah sehari 5 juz atau 6 juz. Dan saya akan kasih motivasi agar kita bisa benar-benar menjadi hamilul qur’an,” ungkap beliau.
Kyai Morado lalu bercerita, ada seorang Syekh bernama Ahmad Isa al-Ma’tsarawi, beliau ahli qiro’at dan guru besar di Al-Azhar Kairo. Ketika ditanyakan, “Ya Syekh bagaimana cara muraja’ah al-Qur’an?” Kata Syekh, “Aku muraja’ah dengan cara khatam setiap 10 hari. Dan setiap khatam aku khatam dengan satu riwayat.” Kemudian ditanyakan lagi kepada syekh tersebut, “Ya Syekh, apakah saat engkau muraja’ah engkau melihat Al-Qur’an?” Kata Syekh, “Tidak!” Ditanya lagi, “Sejak kapan, engkau muraja’ah tanpa melihat Al-Qur’an?” Kata Syekh, “Sejak 50 tahun.”
“Jadi, harapan saya dan juga tim, para asatidz disini, antum bisa terus menjaga, sampai Al-Qur’an benar-benar melekat di dalam hati antum. Insya Allah antum semua bisa,” kata Kyai Morado. “Dan setelah saya renungi cara Syekh tadi, ternyata saya juga pengin ngikutin, dan Alhamdulillah sekarang sudah jalan 7 tahun, saya bisa muraja’ah tanpa melihat Al-Qur’an,” lanjutnya.
“Intinya, kalau kita ingin jadi hamilul qur’an, maka kita harus membawa Al-Qur’an kapan pun dan dimanapun kita berada. Sering saya posting,’Tidak ada waktu nganggur untuk menghafalkan Al-Qur’an.’ Teruslah muraja’ah, lantunkan Al-Qur’an. Nggak ada waktu lowong. Lagi nunggu apa gitu, bacalah Al-Qur’an. Ngantri di rumah sakit, bacalah Al-Qur’an. Itulah kelebihan penghafal Al-Qur’an, dan pahala akan mengalir. Jadi ini harapan saya, antum semua bisa pada tahap hamilul qur’an. Tentu butuh waktu, untuk sampai antum bisa muraja’ah kapanpun dan dimanapun,” tandas KH Morado.
Selanjutnya, apa kaitannya/korelasinya antara hafalan dan amalan? Kata KH Morado, ketika saya terus muraja’ah atau terus mentadabburi Al-Qur’an, ternyata ada kaitannya. Apa kaitannya? Kalau kita bisa mengulang Al-Qur’an minimal 10 hari, atau sebulan khatam. Syukur-syukur bisa 15 hari khatam Al-Qur’an, atau 10 hari khatam, apalagi bisa 7 hari khatam, bahkan setiap minggu khatam-khatam-khatam-khatam. Maka al-Qur’an itu akan menempel di hati kita.
Apalagi kalau antum pada tahap mempelajari tafsirnya, mempelajari isinya, maka Al-Qur’an itu kayak ngingetin. Mau maksiat tiba-tiba ayat itu hadir: yaa aiyuhalladzina amanu quu anfusakum wa ahlikum naara. Jadi ayat al-Qur’an itu tiba-tiba hadir atau muncul di pikiran kita. Atau saat kita lagi malas, maka hadir ayat: wa jahidu fillahi haqqa jihadih. Nah pada tahap ini jelas ada hubungan atau kaitannya antara hafalan dengan amalan.
“Jelas ya, karena orang yang hafal dan ia mentadabburi dan ia merenungi dan ia punya khotmah/khatam rutin. Itu akan menjadi mengingat antum. atau tiba-tiba antum kesel atau marah dengan orang tua ingat ayat imma yablughonna indakal kibara ahadu huma atau killahuma fala takun lahuma uffin. InsyaAllah antum semua bisa menjadi hamilul qur’an,” kata Kyai Morado.
Beliau mengingatkan, jangan sampai ada perasaan bahwa setelah selesai setoran 30 juz di depan para asatidz dan para wali murid yang lain, maka tugasnya sudah tuntas, lalu Al-Qur’an ditutup. Tidak. ”Dengan hafal Al-Qur’an maka kita ingin terus merawat Al-Qur’an. Karena, seburuk-buruk mantan bukanlah mantan pacar, tetapi mantan hafizhul qur’an. Dulu pernah menghafal 30 juz, tapi tiba-tiba sekarang hafalannya tinggal setengah juz. Ini yang perlu antum camkan. Semoga antum bisa ke tahapan berikutnya, yaitu muraja’ah hafalan Al-Qur’an,“ tandasnya.
Akhirnya beliau berdua, KH Sholihien dan KH Rachmat Morado mengucapkan terimakasih dan ucapan jazakumullah khairan yang sebesar-besarnya kepada Ust Aceng Hayatul Mubarok, M.Pd, M.Ag, selaku kepala unit Tahfizh dan timnya, serta tentu kepada para asatidz semua yang telah mengantarkan anak-anak santri bisa mencapai prestasi tertinggi. “Karena sehebat-hebatnya murid itu pasti berkat bimbingan seorang guru,” ungkap beliau. (dz)

