Suara Pesantren — Media Pesantren IndonesiaSuara Pesantren — Media Pesantren IndonesiaSuara Pesantren — Media Pesantren Indonesia
Notification Show More
Font ResizerAa
  • Home
  • Kirim Artikel
  • Nasional
    • 100 Th Gontor
    • Wejangan
    • Tuntunan
    • Muamalah
    • Regulasi
    • Kesehatan
  • Kilas Pesantren
  • Review Pesantren
  • Jejak Ulama
  • Kiai-Ustadz
  • Santri-Alumni
  • Pendidikan Islam
    • Beasiswa
Reading: Pesantren Al-Kahfi Somalangu, Jejak Islam 600 Tahun Lalu
Share
Font ResizerAa
Suara Pesantren — Media Pesantren IndonesiaSuara Pesantren — Media Pesantren Indonesia
  • Home
  • Kirim Artikel
  • Nasional
  • Kilas Pesantren
  • Review Pesantren
  • Jejak Ulama
  • Kiai-Ustadz
  • Santri-Alumni
  • Pendidikan Islam
Search
  • Home
  • Kirim Artikel
  • Nasional
    • 100 Th Gontor
    • Wejangan
    • Tuntunan
    • Muamalah
    • Regulasi
    • Kesehatan
  • Kilas Pesantren
  • Review Pesantren
  • Jejak Ulama
  • Kiai-Ustadz
  • Santri-Alumni
  • Pendidikan Islam
    • Beasiswa
Have an existing account? Sign In
Suara Pesantren — Media Pesantren Indonesia > Blog > KILAS PESANTREN > Pesantren Al-Kahfi Somalangu, Jejak Islam 600 Tahun Lalu
KILAS PESANTREN

Pesantren Al-Kahfi Somalangu, Jejak Islam 600 Tahun Lalu

Suara Pesantren
Suara Pesantren Published 20/03/2022 9 Min Read
Share

SUARA PESANTREN | Somalangu–Mengkaji penyebaran ajaran Islam dan jaringan ulama di selatan Jawa (sebagian wilayah Mataraman) dipastikan tidak akan bisa lepas dari keberadaan Pondok Pesantren Somalangu (al-Kahfi) di Desa Sumberadi, Kabupaten Kebumen. Pondok pesantren ini sudah berdiri sangat lama. Mengacu pada prasasti yang dipahat di batu zamrud, umur pesantren ini malah lebih tua dua tahun dari Masjid Demak, yakni pada 26 Syaban 879 H (4 Januari 1475 M).

- Advertisement -
jasa sosialisasi pesantren

Pesantren Somalangu didirikan oleh seorang ulama yang mantan pejabat tinggi asal Syihr, Hadramaut, Yaman, yakni Sayid as-Syekh Muhammad ‘Ishom al-Hasani. Sosok ini oleh masyarakat di sana lebih dikenal dengan nama Sayid as-Syekh Abdul Kahfi Awwal mengacu pada nama pemberian gurunya, Sayid Ja’far bin Hasan dari ‘Inath. Gelar “kahfi” dikenakan karena dia dikenal gemar menyendiri di dalam gua untuk beribadah.

Abdul Kahfi datang ke tempat itu setelah Sultan Demak memberikan perintah agar pergi dan tinggal ke pedalaman selatan Jawa itu. “Thama dha’u” (di situ tempatmu),” begitu titah Sultan Demak kepada Syekh Abdul Kahfi ketika memintanya pergi ke selatan Jawa yang saat itu masih jarang penghuni dan penduduknya masih memeluk agama Hindu. Di riwayat lain (Kuntowijoyo) menyebut bahwa yang memerintahkan pergi itu adalah Raja Mataram, Sultan Agung.

“Pondok pesantren kami sudah sangat tua. Tak jauh dari masjid dahulu ada candi dengan lingga-Yoni yang sangat besar. Sebelum pondok berdiri di situ, masyarakatnya menganut agama Hindu yang dipimpin Resi Dara. Nama asli desa itu Alang-Alang Wangi. Para alumni dan santri tersebar ke banyak daerah, apalagi pendiri pondok ini juga punya hubungan darah dengan para ulama Sumatra Timur dan di Kesultanan Bugis, Makassar,” kata Hidayat Aji Pambudi MA, salah seorang pengurus Yayasan Pondok Pesantren al-Kahfi, Somalangu.

Menurut Aji, karena sudah berusia sangat tua, maka wajar bila kemudian para alumninya menyebar ke berbagai wilayah, terutama di wilayah Kedu Selatan, Cilacap, Banyumas, bahkan sejumlah pesantren di Cirebon juga ikut terkait. Temali jaringan ini semakin kuat karena antar para murid yang kemudian mendirikan pesantren, termasuk keluarga pesantren Somalangu, saling melanggengkan hubungan melalui ikatan perkawinan.

Sejak didirikan, pesantren ini telah mengalami pergantian pimpinan secara turun-temurun sebanyak 16 kali. Para alumninya pun telah menjadi tokoh Islam terkenal seperi Kiai Abbas Buntet Cirebon, Kiai Dalhar Watu Congol Muntilan, dan Kiai Dahlan Jampes.

”Kalau hubungan pernikahan keluarga pesantren ini juga menikah dengan banyak kiai berpengaruh di sekitar wilayah Kebumen, Banyumas, dan Cilacap. Sedangkan kalau jaringan santri alumni yang saling melakukan pernikahan sudah tak bisa lagi dilacak karena sudah tersebar luas dalam jangka waktu yang sampai 500-an tahun itu,” ujar Aji.

Jejak dakwah ulama Hadramaut

Fakta bahwa antarulama di selatan Jawa itu sudah lama membentuk jaringan masih bisa terlacak di Pondok Pesantren at-Taujieh al-Islamy didirikan KH Hisyam bin Zuhdy (KH Hisyam Leler), di Kabupaten Banyumas bagian selatan. Para pengasuh pondok pesantren yang berada di perbatasan Banyumas dan Cilacap ini punya hubungan darah melalui perkawinan dengan Somalangu

Selain itu, semenjak dahulu ulama pengasuh pondoknya juga sudah punya hubungan, baik ke ilmuan dan tarikat, dengan para kiai yang ada di Yogyakarta, Cirebon, dan Rembang Jawa Timur. Selain itu pesantren yang berdiri sekitar tahun 1915 juga terkoneksi dengan ulama di Haramain (Makkah).

“Ayah kami, KH Hisyam, memang meneruskan dakwah sang ayah dengan mengurus pesantren. Di tangan generasi kedua, Pesantren Leler mengalami perkembangan cukup signifikan,” kata salah satu putra KH Hisyam, KH Zakiyul Fuad.

Sebelum membina santri, KH Hisyam berguru pada KH Kholil Harun, KH Bisri Mustofa (Rembang), Syaikh Khosin (Bendo Pare, Kediri). “Ayah juga ngaji kitab Bukhari pada Syekh Hasyim Asy’ari (Tebuireng) dan kitab Fathul Wahab pada KH Kholil Lasem,” ujarnya.

Sama dengan Pesantren at-Tauzieh di Leler, pesantren besar lainnya di kawasan selatan Jawa adalah Pesantren Al Ihya Umuluddin di Kesugihan Cilacap. Pesantren yang usianya mendekati satu abad ini juga punya ikatan perkawinan dan jaringan keilmuan dengan pesantren tua yang lain. Salah satu pendirinya pun punya hubungan perkawinan dengan Pesantren Somalangu.

Sedangkan, dari segi keilmuan, mereka terkait dengan pesantren besar di Jawa Timur dan berbagai pesantren lain yang ada di pesisir pantai utara serta selatan Jawa. Tarikat yang dianut adalah tarikat Syatariyah (tarikat yang juga dianut Pangeran Diponegoro dan ulama yang menggerakkan Perang Jawa pada tahun 1825 M). Bila ditarik lagi silsilahnya, para pengurus pesantren ini merupakan keturan Sunan Geseng, Sunan Kalijaga, dan Sunan Giri di Gresik.

“Jaringan ulama kami juga terkait dengan jaringan ulama yang ada di Kesultanan Demak. Di lain pihak kami juga hubungannya dengan jaringan ulama Yaman karena ada darah dengan Syekh Abdul Kahfi Somalangu. Para santri kami sudah menyebar dan mendirikan pesantren di banyak tempat. Salah satu saudara kami, misalnya, mendirikan Pesantren di Kebarongan,Banyumas,” kata KH Nasrullah, salah satu pengurus Pesantren Ihya Umuluddin yang kini tengah mengawali pendirian Institut Agama Islam Imam Ghazali yang letaknya tak begitu jauh dari pesantrennya.

Sedangkan, pengaruh jaringan ulama Cirebon juga terlacak di wilayah itu, terutama di pondok pesantren yang letaknya mulai mendekati arah kawasan pantai utara. Di Pesantren Jombor, yang ada di Cilongok, Kabupaten Banyumas. Pesantren ini didirikan oleh KH Abdussomad. Salah satu cucu Mbah Abudssomad adalah cendekiawan kondang yang menjadi khatib syuriah PBNU KH Masdar Farid Mas’udi.

“Jaringan ulama ini terkait dengan ulama dari Kesultanan Demak dan Cirebon. Dulu wilayah ini masuk Kadipaten Pasir Luhur yang merupakan ‘wilayah yang dalam perlindungan’ Kerajaan Sunda Pajajaran. Islam dibawa ke sini oleh Syekh Mahdum (ulama dari Demak) dan Syekh Abdussomad (ulama dari Cirebon),” kata Ahmad Khoirul Fahmi, penulis buku riwayat ringkas para ulama di Banyumas.

Hal senada juga dinyatakan Mustolih, santri Pondok Pesantren Al Azhari, Karangcengis, Banyumas. Menurut dia pendiri pesantrennya KH Yusuf Azhari itu punya hubungan darah atau kaitan dengan ulama di Cirebon. “Selain itu, jaringan pemikiran kiai kami juga terhubung dengan berbagai pesantren di Jawa lainnya, seperti Pesantren Krapyak di Yogyakarta. Selain itu, Mbah Yusuf juga sempat cukup lama menuntut ilmu di Makkah,” ujarnya.

Melihat fakta itu maka tampaklah bahwa ikatan jaringan ulama di selatan Jawa itu sudah berumur mendekati enam abad. Ini jelas waktu yang sangat lama.

Jaringan pesantren dan Pohon Sawo

Dan salah satu di antara ciri pesantren dan masjid tua adalah adanya tanaman pohon sawo kecik yang ada di setiap halaman pesantren. Hal itu bisa lihat di Masjid Ploso Kuning Yogyakarta yang dibangun oleh kakak Sultan Hamengkubuwono I. Masjid ini sempat menjadi tempat ‘mengaji’ Pangeran Diponegoro.

Hal yang sama bisa juga terjadi di Pesantren Somalangu dan Leler. Di halaman masjid dan di samping masjid tertananam pepohonan sawo yang rimbun. Di Pesantren Somalangu pohon sawo kecik sempat ditebang karena terjadi perluasan dan pengerasan halaman masjid. Sementara itu di Pesantren Leler tampak pohon sawonya berdiri kokoh di depan masjid meski cabang dan daunnya dipangkas.

Sejarawan Ingris Peter Carey menyatakan tanaman pohon sawo yang ada di depan setiap masjid itu menjadi ciri atau isyarat bahwa tempat tersebut adalah merupakan salah satu titik jaringan penyebaran agama Islam. Di zaman perang Diponegoro tanda ini menjadi efektif sebagai isyarat simpul perlawanan dan suplai logistik serta perekrutan prajurit.

”Semua pesantren tua pasti di tanami pohon sawo. Itulah salah satu isyarat jaringan ulama,” kata Peter Carey. Mengapa dipilih ‘sawo kecik’? Jawabnya karena ini menjadi penanda bahwa semua Muslim harus bersikap ‘sarwo becik’ (serba bagus/mulia). Selain itu sebagai isyarat agar umat Muslim berperilaku yang manis seperti manisnya buah sawo itu. [roj]

Sumber: Republika

⇒Berita Seputar Pesantren. Kunjungi dan Follow Kami di ⇒ GOOGLE NEWS ⇐

You Might Also Like

Kepala BNPT Boy Rafli Amar Silaturahmi ke Pesantren Al Mukmin Ngruki

Direktur Pesantren Modern Misbahul Ulum dan Enam Wakil Direktur Dilantik

Ribuan Santri Lirboyo Kediri Kembali ke Pesantren

5 Pesan KH. Chairuman Kamal di Acara Serah Terima Santri Baru Pesantren Fathan Mubina

KH Said Aqil Siradj Resmikan Pendirian Pesantren El-Bayan Berbasis Durian di Cilacap

TAGGED:alkahfi ssomolangupesantren tuapondok
Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Telegram Email Print
Leave a comment

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Anda harus masuk untuk berkomentar.

Jasa pembuatan website SEO

Follow US

Yuk Join Sosial Media
FacebookLike
InstagramFollow
YoutubeSubscribe
TelegramFollow

10 Berita Pilihan

Seputar Pesantren
memegang bara api

 Memegang Agama Terasa seperti Menggenggam Bara Api

Suara Pesantren Suara Pesantren 08/10/2026
Dulu Santri Panutan, Sekarang Lupa Jalan
Inilah 10 Tips Liburan Wisata Halal ke Eropa Barat Biar Berkesan
Ibadah Umroh Bersama Khadim Wisata, Travel Resmi di Bogor
Prabowo Gaungkan ‘Free Palestina’ di Kesyukuran 100 Tahun Pondok Gontor
Prabowo Apresiasi Nilai-nilai Pendidikan Pondok Modern Gontor
KKN-T Universitas Alma Ata Bekali Siswa SMA Ma’arif 1 Srumbung Cara Hindari Scam Digital
Inspirasi Gamis Muslimah Syar’i dengan Detail Feminin 
7 Alasan Menarik Mengapa Kuliah Kedokteran di Luar Negeri Jadi Pilihan Terbaik! 
1926: Ketika NU dan Gontor Menjawab Zaman

Jasa Blogroll & Publikasi

  • Suara Muslim
  • Seputar Masjid
  • Seputar Halal
  • Seputar Kuliner
  • Seputar Kesehatan
  • Promo UKM
  • Wisata Indonesia
  • Inilah Kita
  • Beasiswa Kampus
  • Indonesia Sentris
  • Seputar Rumah
  • Seputar Keamanan
  • Kota Surabaya
  • Info Nasional
  • Info Perkotaan
  • Info Bekasi
  • Market Daily
  • Berita Santai
  • Berita Tekno
  • Portal Mahasiswa
  • Media Outsourcing
  • Kirim Artikel
  • Pendidikan
  • Bisnis Daily

‎اَلسَلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَات ‎اَلسَلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ 

Salam Fathan Mubina, Salam Kemenangan…!
Kepada Ayah Bunda, yang Disayangi Allah SWT

Sebagai wujud kecintaan dan dukungan dakwah pendidikan melalui *Pesantren Ciawi Bogor Fathan Mubina*…
Kami dari Panitia Penerimaan Santri Baru ingin menyampaikan informasi ini sebagai pengingat dalam penyebaran informasi pendaftaran lembaga pendidikan yang berada dibawah asuhan Yayasan Pembangunan Umat Fathan Mubina. Terima Kasih 

Wassalamualaikum Wr. Wb.

@pesantrenfathanmubina @fathanmubinatv #santribaru
Follow on Instagram

FACEBOOK

Artikel Lainnya

NASIONAL

BSI Dukung Tumbuhnya MuslimPreneur dari Pesantren dan Masjid

21/01/2022
santri baru al-amien
KILAS PESANTREN

TMI AL-Amien Prenduan Buka Pendaftaran Santri Baru

05/06/2024
NASIONAL

Kemenag Akui Bantuan ke Pesantren Masih Minim saat Pandemi

21/01/2022
madinatul quran depok
KILAS PESANTREN

Madinatul Qur’an Depok Jajaki Kerjasama dengan Universitas Yordania

07/05/2024
KILAS PESANTREN

Pesantren Al Mashduqiah Kraksaan Gelar Resepsi Tasyakuran Milad Ke-25 Tahun

02/01/2024
NASIONAL

MUI Minta BNPT Terbuka Soal Pesantren Terafiliasi Terorisme

29/01/2022
KILAS PESANTREN

Santri Pesantren Babul Khaer Ikuti BRUS Oleh KUA

04/09/2024
KILAS PESANTREN

Sebanyak 381 Santri Pesantren Madinatul Qur’an Depok Ikuti Super Camp 9 di Sukabumi

23/10/2023
Previous Next
  • Tentang SP
  • Redaksi
  • Jasa Publikasi
  • Disclaimer
  • Pedoman Siber
  • Kirim Artikel
logo suara pesantren logo suara pesantren

Suara Pesantren, media informasi seputar pesantren di Indonesia.
Yuk, support pengembangan website Suara Pesantren agar menjadi lebih baik. Untuk kerjasama, hubungi kami. Terima kasih. Jazakumullah.

© Suara Pesantren | Digital Media Labs
suara pesantren
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?