SUARA PESANTREN | Banten–Provinsi Banten terkenal akan banyaknya pondok pesantren (Ponpes) salafi dan modern, yang tersebar di berbagai daerah. Tidak heran bila selain berjukuk “Tanah Jawara”, Banten juga memilik julukan “Bumi Seribu Kiai Sejuta Santri”.
Salah satu pondok pesantren yang cukup populer di Banten adalah Ponpes Daar El-Qolam, Gintung. Pesantren ini merupakan pesantren terbesar Banten, dan termasuk salah satu yang terbesar di Indonesia.
Berlokasi di Desa Pasir Gintung, Kecamatan Jayanti, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten, pesantren ini didirikan pada tanggal 20 Januari 1968. Lembaga pendidikan Islam ini adalah model integrasi antara sistem pendidikan pondok dengan sistem pendidikan madrasah dan sekolah.

Daar El-Qolam merupakan pesantren alumni Darussalam Gontor yang pertama. Pesantren ini adalah gagasan Haji Qasad Mansyur yang direalisasikan oleh Drs. K.H. Ahmad Rifai Arief (1942-1997).
Setelah K.H. Ahmad Rifa’i Arief meninggal dunia pada tanggal 15 Juni 1997, tampuk kepemimpinan pesantren dialihkan kepada adik laki-laki pertamanya, Drs. KH. Ahmad Syahiduddin dan putra pertamanya, Adrian Mafatihullah Karim.
Pesantren Daar el-Qolam mulai melakukan ekspansi yang signifikan di bawah kepemimpinan K.H. Ahmad Syahiduddin. Dari sekitar 15 hektar saat ditinggalkan oleh pendiri, Daar el-Qolam kini meluas hingga mencapai 29 hektar.
Keikhlasan KH Rifa’i Arief yang teguh pendirian dan pantang menyerah, telah membuat pola pendidikan di Pondok Pesantren Daar El-Qolam bergairah. Setelah 50 tahun, santri Daar El-Qolam berjumlah ribuan dan alumninya banyak yang mendirikan pesantren di daerahnya masing-masing.
Pesantren Daar El-Qolam didirikan oleh KH Rifa’i Arief pada tanggal 20 Januari 1968. Menurut informasi yang disampaikan oleh Pimpinan PMDG KH Hasan Abdullah Sahal, Kiai Rifa’i Arief mendirikan pondok saat masih berstatus mahasiswa.
“Saya tahu betul Ustadz Rifa’i Arief. Beliau adalah figur yang jarang ada, sukar dicari, mahal harganya,” kata Kiai Hasan dengan mata berkaca-kaca saat berpidato di hadapan santri dan santriwati Daar El-Qolam.
“Beliau mendirikan pondok belum doktorandus (Drs), atau saat itu masih kuliah. Pondok ini didirikan oleh seorang manusia yang belum kiai, belum sarjana, tapi sudah berani mendirikan Pondok Pesantren Daar El-Qolam. Orang itu namanya Ahmad Rifa’i Arief,” tegas Kiai Hasan.
Kerinduan Kiai Sahal dengan sahabatnya selama mondok di Gontor membuatnya merasa sangat ingin ke Daar El-Qolam. “Saya ingin bicara dengan anak-anak. Saya berjanji karena belum pernah pidato di sini sejak tahun 1970.”
“Saat itu santrinya berjumlah 35 anak, putra-putri. Sejak saat itu saya belum pernah pidato lagi dengan anak-anak. Hanya berjanji, janji saja, in syaa Allah saya datang, saya catat, saya akan datang,” tutur Kiai Hasan.
“Alhamdulillah, saya bertahun-tahun bersamanya, minimal dua tahun jadi murid sekelas dengan beliau kemudian dua tahun ikut mengajar di Gontor. Saya tahu betul, jismiyah, aqliyah, kepribadian beliau.”
“Beliau profil pribadi yang tidak mau putus asa. Saya tidak tahu apakah santri-santri Daar El-Qolam bisa mewariskan sifat itu atau tidak!”
Menurut Kiai Hasan, Kiai Rifa’i Arief merupakan seorang figur yang tidak mau putus asa, tidak mau kalah begitu saja. Sampai suatu ketika, ada orang yang datang ke saya bercerita tentang Kiai Arief. Saya bilang ke dia, sampaikan ke Ust Rifa’i, bahwa setiap yang beliau sampaikan, saya husnudzan,” kenang Kiai Hasan.
Ponpes Daar El-Qolam didirikan pada tanggal 20 Januari 1968/27 Ramadhan 1318 H oleh KH Ahmad Rifai Arief atas perintah sang ayah, H Qasad Mansyur. H Qasad meminta kepada anaknya untuk mendirikan lembaga pendidikan tingkat menengah bagi alumnus madrasah ibtidaiyah agar bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
Oleh Kiai Rifai, nama Daar El-Qolam yang disematkan pada ponpes yang didirikannya berarti kampung pengetahuan. Di masa-masa awal pendirian, Kiai Rifai menjadikan dapur tua dan tanah pemberian H Pengki sebagai tempat pembelajaran pertama. Hadiah tersebut diberikan H Pengki kepada H Qasad karena telah menyelesaikan pembangunan masjid yang dimintanya.
Peran Kiai Rifai semakin sentral setelah menjalani semua peran pendidikan dan pengajaran di Daar El-Qolam. Di periode awal, alumnus Gontor 1966 itu menjalani peran sebagai pemimpin, guru, mentor dan sahabat bagi santri-santrinya.
Selama 30 tahun masa kepemimpinannya, Kiai Rifa’i telah menelurkan sejumlah institusi pendidikan seperti Pondok Pesantren Daar El-Qolam, Pondok Pesantren La Tansa, Sekolah Tinggi La Tansa Mashira dan Pesantren Wisata La Lahwa. Setelah wafat, estafet kepemimpinan dilanjutkan oleh adiknya, KH Ahmad Syahiduddin, putra pertama Kiai Rifa’i, KH Adrian Mafatihullah Karim, dan adiknya Hj Enah Huwaenah.
Saat ini, Daar El-Qolam menaungi empat institusi pendidikan. Pembagian empat institusi pendidikan tersebut dilakukan dalam rangka kaderisasi. Kiai Syahiduddin membagi tugas kaderisasi kepada KH Nahrul Ilmi Arief SAg sebagai pemimpin Daar El-Qolam 1 dan 4, Drs KH Odhy Rosihuddin MPd sebagai pemimpin Daar El-Qolam 2, dan Ustadz Ahmad Zahid Purna Wibawa ST sebagai pemimpin Daar El-Qolam 3.
Daar El-Qolam juga memiliki nilai-nilai kepesantren yang tertuang dalam setiap langkah pendidikannya. Nilai-nilai kepesantrenan yang dimaksud adalah: akhlaq karimah, ibadah amaliyah, bacaan al-Qur’an, hafalan surah al-Qur’an pilihan, dedikasi dan loyalitas, amanah dan tanggung jawab, serta toleransi dan tenggang rasa. [nk]

