Suarapesantren.com – Pondok pesantren menjadi salah satu lembaga pendidikan Islam yang memiliki peran penting dalam membentuk pemahaman agama di masyarakat. Tidak hanya sebagai tempat belajar, pesantren juga menjadi ruang pembinaan karakter dan akhlak bagi para santri. Di tengah perkembangan pendidikan modern, keberadaan pesantren tradisional tetap bertahan karena memiliki nilai dan metode pembelajaran yang khas.
Hal tersebut juga terlihat di Pondok Pesantren Al-Badri yang berada di Gumuksari, Kalisat. Dalam sebuah wawancara, Gus Khoirus Solihin menjelaskan bahwa pesantren tersebut awalnya berdiri karena kondisi masyarakat sekitar yang masih minim pemahaman agama pada masa itu.
“Kalau tujuan utama, karena sekarang ini kan kita, saudara yang ada di sini kan cuma sebagai penerus. Tentunya yang tahu tujuan utama, ya beliau almarhum almaghfurulah K.H. Hafidzian Haji Abdul Rahman,” jelasnya.
Ia mengatakan bahwa pada awalnya tempat tersebut belum berbentuk pondok pesantren seperti sekarang. Kegiatan belajar agama hanya dilakukan secara sederhana melalui pengajian di mushola atau langgar kecil.
“Dulunya itu kan berawal dari seperti guru-guru ngaji yang ada di mushola atau langgar seperti itu, terus kemudian berkembang akhirnya menjadi sebuah pondok pesantren seperti ini,” ujarnya.
Menurutnya, tujuan utama pendirian pesantren adalah memberikan pendidikan agama kepada masyarakat sekitar agar pemahaman keislaman mereka semakin baik.
Berdiri Sejak Tahun 1920
Pondok Pesantren Al-Badri ternyata memiliki sejarah yang cukup panjang. Gus Khoirus menjelaskan bahwa lokasi pesantren mulai ditempati oleh pendirinya sekitar tahun 1920.
“Kalau berdirinya pesantren, kurang jelas juga. Cuman kita itu mengadakan harlah itu bertepatan dengan pindahnya muassis, Kiai Hafidzian di lokasi sini itu tahun 1920,” katanya.
Meski saat itu belum berbentuk pondok pesantren secara resmi, kegiatan pendidikan agama sudah mulai dilakukan secara bertahap. Ia juga menjelaskan bahwa pesantren baru diresmikan melalui akta notaris pada tahun 1986.
“Masih belum langsung jadi pesantren, masih cuma bangunan mushola saja, masih belum ada masjidnya,” tambahnya.
Hingga saat ini, Pondok Pesantren Al-Badri terus berkembang. Santri yang belajar di sana tidak hanya berasal dari daerah sekitar, tetapi juga dari luar kecamatan hingga luar provinsi.
Terbuka untuk Masyarakat Umum
Selain menerima santri yang menetap di pondok, pesantren juga membuka kesempatan bagi masyarakat sekitar yang ingin belajar ilmu agama.
“Boleh, boleh, asalkan mendapatkan persetujuan dari pengasuh, boleh,” jelas Gus Khoirus saat ditanya apakah masyarakat umum bisa ikut belajar di pesantren.
Menurutnya, dahulu banyak warga yang hanya datang untuk mengaji dari waktu Magrib hingga Isya, lalu pulang ke rumah masing-masing. Namun sekarang, sebagian besar santri memilih menetap di pondok agar lebih fokus belajar.
Walaupun demikian, pihak pesantren tetap terbuka bagi siapa saja yang ingin menimba ilmu agama selama mengikuti aturan yang berlaku.
Kegiatan Belajar Dipisah antara Putra dan Putri
Dalam proses pembelajaran, kegiatan santri putra dan putri dipisahkan. Hal tersebut dilakukan agar kegiatan belajar menjadi lebih tertib dan nyaman.
“Kalau santri putra itu kegiatan difokuskan di masjid, sedangkan santriwati itu fokusnya di mushola,” jelasnya.
Ia juga menerangkan bahwa sistem pembelajaran di pesantren terdiri dari dua metode utama, yaitu madrasah diniyah dan sorogan. Metode sorogan merupakan sistem belajar khas pesantren salaf, di mana santri membaca kitab secara langsung di hadapan guru.
“Kalau yang berkaitan dengan pendidikan agama, ada dua. Yang pertama yaitu sorogan itu, seperti pesantren klasik pada umumnya,” katanya.
Sementara itu, madrasah diniyah lebih difokuskan pada pembelajaran ilmu nahwu, shorof, dan tajwid sebagai dasar memahami kitab-kitab agama.
Pendidikan Agama Dianggap Sangat Penting
Menurut Gus Khoirus, pendidikan agama menjadi hal penting karena setiap manusia membutuhkan pemahaman tentang agamanya sendiri.
“Kalau kita sebagai umat Muslim tidak mengerti apa Islam itu sendiri kan gimana?” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa tujuan seseorang belajar di pesantren bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga agar ilmu yang diperoleh dapat bermanfaat bagi orang lain.
Pesantren, menurutnya, bukan sekadar tempat belajar formal, melainkan ruang untuk membentuk pemahaman agama sekaligus memperbaiki akhlak dan kehidupan sosial para santri.
Di tengah perkembangan zaman yang semakin modern, Pondok Pesantren Al-Badri tetap mempertahankan tradisi pendidikan agama yang sudah berjalan sejak lama. Dari mushola sederhana hingga menjadi pesantren yang dikenal banyak orang, perjalanan tersebut menunjukkan bahwa pendidikan agama masih memiliki tempat penting di tengah masyarakat.

