Suarapesantren.com – Di tengah beragam perbincangan mengenai dunia pesantren, mulai dari isu kekerasan hingga wacana pembentukan direktorat jenderal pesantren, terdapat sisi lain yang patut mendapat perhatian. Salah satunya adalah praktik baik yang ditunjukkan Pesantren Ar-Risalah Lirboyo, Kediri, dalam membangun budaya peduli lingkungan sebagai bagian dari proses pendidikan.
Pesantren yang dipimpin Ibu Nyai Umi Aina Ainaul Mardliyah Anwar itu menghadirkan suasana yang asri dan tertata. Halaman yang bersih, taman yang hijau, pepohonan yang rindang, hingga lingkungan yang bebas dari sampah menjadi pemandangan yang menyambut setiap tamu yang datang.
Kondisi tersebut bukan sekadar hasil kegiatan bersih-bersih rutin, melainkan buah dari budaya yang dibangun secara konsisten melalui proses pendidikan dan nilai-nilai kebijaksanaan yang diwariskan kepada para santri.
Tak hanya lingkungan yang tertata, para santri juga dikenal rapi dalam berpakaian, santun dalam bertutur kata, memiliki etika yang baik, serta mencatatkan berbagai prestasi akademik.
Kebersihan Menjadi Bagian dari Pendidikan Akhlak
Suasana nyaman begitu terasa sejak memasuki area pesantren. Jalan lingkungan tampak bersih, tanaman dirawat dengan baik, bahkan sandal maupun sepatu para tamu disusun dengan rapi.
Di Pesantren Ar-Risalah Lirboyo, menjaga kebersihan tidak dipandang hanya sebagai aktivitas fisik, melainkan bagian dari pembentukan akhlak Islam. Para santri dibiasakan merawat lingkungan tempat mereka belajar, tinggal, dan berinteraksi setiap hari hingga kebiasaan tersebut tumbuh menjadi karakter yang melekat.
Santri Fokus Menuntut Ilmu Tanpa Memegang Uang
Salah satu kebijakan yang diterapkan di pesantren ini adalah setiap santri tidak diperbolehkan memegang uang. Fokus utama mereka diarahkan untuk mendalami ilmu (tafaqquh fiddin), belajar memahami kehidupan, serta memperkuat kemampuan spiritual. dilansir dari kemenag.go.id
Kebijakan tersebut diterapkan karena uang dinilai berpotensi memunculkan berbagai persoalan yang dapat mengganggu proses pembentukan karakter santri. Selain itu, uang juga dikhawatirkan memengaruhi gaya hidup dan cara pandang terhadap kehidupan.
Sebagai gantinya, pesantren menyediakan berbagai ruang untuk mengembangkan potensi santri. Mulai dari fasilitas olahraga, wadah pengembangan seni, hingga pelatihan kemampuan retorika, seluruhnya dirancang untuk membentuk santri yang berkarakter sekaligus berprestasi.
Sejalan dengan Kurikulum Cinta Kementerian Agama
Praktik yang diterapkan Pesantren Ar-Risalah Lirboyo selaras dengan salah satu program prioritas Kementerian Agama melalui Kurikulum Cinta, yang meliputi Cinta Allah, Cinta Lingkungan (Husnul Bi’ah), Cinta Sesama, Cinta Ilmu, dan Cinta Tanah Air.
Dalam konsep Husnul Bi’ah, menjaga lingkungan dipandang sebagai bagian dari penghambaan kepada Allah SWT. Karena itu, kebiasaan sederhana seperti membuang sampah pada tempatnya, merawat tanaman, menjaga kebersihan air, hingga menciptakan lingkungan yang sehat merupakan bentuk nyata pengamalan nilai-nilai keagamaan.
Budaya tersebut tampak hidup di lingkungan Ar-Risalah Lirboyo. Bahkan, Menteri Agama Nasaruddin dalam sambutannya menyebut pesantren tersebut layak disebut sebagai pesantren ekoteologis. Menurutnya, kesadaran ekologis di pesantren itu tidak berhenti pada slogan, melainkan telah menjadi budaya yang dijalankan bersama oleh seluruh warga pesantren.
Menjawab Tantangan Lingkungan Melalui Pendidikan
Di tengah ancaman perubahan iklim, pencemaran lingkungan, dan persoalan sampah yang semakin kompleks, pesantren dinilai memiliki posisi strategis dalam membentuk generasi yang peduli terhadap kelestarian bumi.
Melalui sistem pendidikan yang berlangsung selama dua puluh empat jam, kebiasaan hidup bersih, disiplin, dan bertanggung jawab terhadap lingkungan dapat ditanamkan secara berkelanjutan.
Pesantren Ar-Risalah Lirboyo menunjukkan bahwa pendidikan lingkungan tidak harus dimulai dari program yang rumit. Kebiasaan sederhana seperti menjaga kebersihan kamar, merawat taman, menanam pohon, dan menata lingkungan secara konsisten mampu melahirkan budaya ekologis yang kuat.
Pengalaman tersebut menjadi bukti bahwa pesantren tidak hanya berperan sebagai pusat pendidikan agama dan pembentukan akhlak, tetapi juga mampu menjadi contoh dalam membangun kesadaran lingkungan yang berdampak bagi masyarakat luas.

