Ponorogo, Gontornews–Di tengah khusyuknya bacaan doa khatmil Qur’an di masjid Jami UNIDA Gontor, beberapa acara dan forum digelar. Menjelang sujud syukur 100 tahun Rabu esok. Beberapa utusan pondok alumni, bahkan juga kiainya turut hadir. Selasa Maghrib ini, agendanya ramah tamah di UNIDA Gontor. Dilanjutkan dengan sesi ini: pengarahan dan pembinaan untuk penerima beasiswa ASFA (26/9/2023).
Di usia yang cukup muda – 9 bulan – Lazis ASFA (Assalam Fil Alamin) sudah membuat banyak terobosan beasiswa bidang pendidikan, termasuk juga ekonomi kemasyarakatan tingkat UMKM.
Sejenak, Komjen. (Purn). Dr. (H.C.) Drs. H. Syafruddin Kambo, M.Si didampingi Rektor UNIDA Gontor dan pembina Lazis tiba di hall CIOS. Acara dimulai dari MC. Dilanjutkan dengan tilawah Al-Qur’an oleh mahasiswa UNIDA Gontor.
Sambutan pertama, dari Dewan Pengawas Syariah Lazis, yakni ust Dr. Anang Rikza Masyhadi. Beliau mengawali dengan mengapresiasi kehadiran komjen Syafruddin selaku ketua Lazis ASFA dan Irjen Pol Guntur Laupe sebagai pengurus lazis. Turut hadir pula ust Dr. Dzulkifli Muhadli selalu ketua Forum Pesantren Alumni Gontor (FPAG).
Dalam kesempatan ini, ust Dr. Anang Rikza Masyhadi melaporkan sekilas tentang tujuan dan fokus ASFA, serta melaporkan beberapa capaian penyaluran beasiswa pendidikan. Penerima manfaat tersebut, bukan hanya di tingkat perguruan tinggi negeri dan swasta di Indonesia, melainkan juga di luar negeri. Bahkan juga termasuk dibiayai untuk studi di Fakultas Kedokteran Unissula Semarang.
Khusus di UNIDA Gontor, penerima manfaatnya sejumlah 110 orang: 23 orang dari S-1, 7 orang tingkat S-2, dan untuk S-3 sejumlah 23. Selain itu, ada pula program internasional, yang sedianya akan berangkat studi ke Universitas Ainu Syams Mesir. Termasuk juga 250 mahasiswa di universitas Al Azhar Kairo. Di antara mereka, terdapat pula yang non kader. Mereka akan wajib mengabdi di beberapa pesantren yang ditentukan ASFA selama 1 tahun. Agar mencapai target 1 pesantren, 1 alumni luar negeri.
Beberapa pesantren penerima manfaat beasiswa juga turut hadir pimpinannya di aula CIOS ini. Hal ini, karena kader pondok tersebut mendapat kesempatan untuk studi dengan beasiswa tersebut.
Selanjutnya adalah testimoni dari penerima beasiswa dari S-1 hingga S-3 dan lainnya. Dari program sarjana strata satu, adalah Haris, mahasiswa TBI di UNIDA Gontor. Testimoni tersebut diikuti dengan mahasiswa S-2. Sambutannya menarik. Lulusan S-1 Madinah. Disampaikan juga rencana riset yang akan dilakukan. Termasuk cita cita yang akan dikejar setelah menyelesaikan studinya, yakni melanjutkan mengajar di perguruan tinggi di pondoknya.
Ustadzah Saiyya Umma Taqwa mewakili sarjana S-3. Beliau alumni Al Azhar Kairo Mesir di sarjana dan magister. Sambutan diucap penuh semangat. Termasuk menyampaikan kesan mendalam tentang UNIDA Gontor dan lazis ASFA. Khususnya, tentang fokus dari beasiswa ini dalam bidang pendidikan untuk dapat bersaing di tengah persaingan global.
Ada pula utusan dari PKU. Yakni, alumni ponpes Sidogiri Pasuruan. Beliau sangat terkesan dengan bagaimana penyelenggaraan program PKU yang mengenalkan pemikiran Islam di tengah banyaknya sempalan pemikiran Islam maupun liberalisasi di segala bidang.
Selanjutnya, Prof Hamid Fahmy Zarkasyi menyampaikan sambutan. Beliau berkesan, bahwa dahulu pernah mendapat beasiswa dari British Council. Itupun, mendapatkannya dengan tidak mudah – berdarah-darah menurut beliau. Sudah lama beliau berdoa, agar bagaimana kita bisa menyekolahkan kader kader pesantren tanpa memikirkan biayanya.
Kondisi pendidikan tinggi di Indonesia, khususnya pilihan-pilihan tentang kualitas, masih didominasi perguruan tinggi negeri. Selanjutnya, adalah swasta muslim – itupun kebanyakan Muhammadiyah. Baru ada lagi perguruan tinggi swasta non-muslim. Terakhir, seringkali dipilih universitas pesantren. Inilah potret universitas pesantren saat ini.
Bukan berarti alumni pesantren tidak punya kualitas. Banyak juga alumni mereka yang berkualitas, tapi akhirnya masuk ke perguruan tinggi yang bergengsi dan nomor Wahid, tapi tidak banyak membicarakan agama. Akhirnya, ilmu yang dulu didapatkan tidak bisa manfaat. Orientasinya berubah. Bahkan, saat memimpin, ia akhirnya justru korupsi.
Kami bertekad, agar bagaimana nanti universitas pesantren bisa menjadi kampus pilihan utama yang paling baik, bermutu, berkualitas. Karena situasinya sudah pesantren. Gurunya Sholeh dan alim. Sehingga, kita harapkan, ia masuk pesantren dan keluar lulus menjadi selamat dunia, akhirat, jasmani dan rohani.
Proyek kami, adalah bagaimana agar nanti agar SDM yang kita bina melalui beasiswa ini, menjadi kader yang akan membina generasi selanjutnya di tingkat pondok pesantren di Indonesia. Inilah tanggungjawab yang dipikul oleh penerima beasiswa ASFA.
Selanjutnya, adalah sambutan ketua ASFA, Komjen Pol Syafruddin Kambo. Beliau menyampaikan, bahwa ASFA foundation ini mendapatkan 4 penghargaan. 1 tingkat internasional, dan 3 nasional. Bahkan, di rakernas nanti, BAZNAS akan menjadikan ASFA ini sebagai model pengembangan SDM di Indonesia.
Beliau pernah menjadi bagian dari pembina LPDP, karena menjadi kalemdiklat Polri. Beliau pun, yang saat itu melacak berapa persen penerima LPDP yang kembali setelah usai studi. Ternyata tidak sampai 50% kembali. Lantas, apa kita membiayai SDM kita untuk menjadi bagian dari negara lain? “Hal ini yang menggugah saya untuk memikirkan pemerataan penerimaan bantuan studi untuk kepentingan bangsa kita ini.” ucapnya.
Beliau berpesan, bahwa kita akan menuju bonus demografi 2030. Di saat yang sama, perkembangan teknologi informasi semakin maju, bahkan menyingkirkan penyiar televisi. Bukankah akan bahaya bagi mereka yang membutuhkan pekerjaan di masa depan? Belum lagi karir politik, sosial, dan kepemimpinan publik serta lainnya.
Pertemuan diakhiri dengan doa dari Gus Rouf Sarang. Selanjutnya, ditambah beberapa arahan dari Ustadz Anizar Masyhadi. Bahwa arah pengembangan SDM yang digagas ASFA, berbasis penguatan kelembagaan. Misalnya, ASFA membiayai calon dokter, kemudian setelah lulus, ia kembali ke pesantren. Acara diakhiri dengan foto bersama. [roji]

