Suarapesantren.com | Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar mengusulkan penambahan pagu anggaran 2026 sebesar Rp24,8 triliun, dalam Rapat Tingkat Menteri Bidang Pendidikan bersama Kemenko PMK pada Sabtu, 4 April 2026. Dana tersebut untuk menutup kesenjangan kualitas, antara madrasah serta sekolah keagamaan dengan satuan pendidikan umum di seluruh Indonesia.
Ia menegaskan, bahwa usulan ini merupakan langkah konkret agar pendidikan keagamaan sejalan dengan semangat Asta Cita, dan arahan Presiden dalam melahirkan generasi unggul.
Menag Nasaruddin Umar mengungkapkan, porsi terbesar dari usulan tersebut, yakni Rp13,7 triliun, akan digunakan untuk merevitalisasi sarana dan prasarana di 7.131 lembaga pendidikan binaan Kementerian Agama. Rinciannya mencakup 6.973 madrasah, 128 sekolah Kristen, 13 sekolah Katolik. Kemudian, sembilan sekolah Hindu, dan delapan sekolah Buddha yang kondisi bangunannya memerlukan perbaikan mendesak.
Selain revitalisasi fisik, anggaran juga dialokasikan untuk digitalisasi pembelajaran senilai Rp10,9 triliun, bantuan buku tulis gratis Rp159 miliar. Selain itu juga, program Sekolah Unggul Garuda Transformasi Rp22,9 miliar.
Cakupan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di madrasah dan pondok pesantren baru menyentuh angka 10 hingga 12 persen. Angka tersebut jauh di bawah proyeksi sekolah umum yang mendekati 80 persen.
Menurut Menag Nasaruddin Umar, kondisi ekonomi santri dan siswa madrasah menjadikan perluasan program ini sangat mendesak untuk segera direalisasikan. “Di pesantren hampir tidak ada kasus risiko kesehatan terkait pangan,” ujar Nasaruddin, dikutip dari laman resmi Kemenag, Senin, (6/4/2026).
Kementerian Agama berharap, usulan anggaran ini mendapat persetujuan. Hal itu agar percepatan peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui jalur pendidikan keagamaan dapat segera terwujud.
Sebagai informasi, program MBG telah beroperasi selama satu tahun. Saat ini menjangkau lebih dari 42 juta penerima manfaat di 38 provinsi, 509 kabupaten, dan 7.022 kecamatan di seluruh Indonesia.
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan menyampaikan dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi IX DPR RI di Jakarta, Rabu (12/11/2025), bahwa total Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi yang telah aktif mencapai 14.853 unit.
Dari kelompok penerima manfaat, santri di pondok pesantren baru tercatat sebanyak 316 ribu orang. Angka itu jauh lebih kecil dibanding siswa sekolah dasar, yang mencapai lebih dari 15 juta penerima dari kelas satu hingga enam.[]

