Suarapesantren.com |-Peresmian Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di lingkungan pesantren kembali menjadi langkah nyata dalam memperkuat program Makan Bergizi Gratis (MBG). Kali ini, momentum tersebut berlangsung di Pondok Pesantren Al Ittihad, Cianjur, Jawa Barat, yang diresmikan langsung oleh Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Yahya Cholil Staquf, pada Jumat (6/3/2026) lalu.
Kehadiran tokoh yang akrab disapa Gus Yahya ini menegaskan komitmen kuat Nahdlatul Ulama dalam mendukung program pemerintah, khususnya yang berkaitan dengan peningkatan kualitas gizi masyarakat. Dalam konteks pesantren, program ini dinilai memiliki dampak strategis karena menyasar langsung para santri sebagai generasi penerus bangsa.
Dalam sambutannya, Gus Yahya menekankan bahwa program MBG tidak hanya berfokus pada aspek kesehatan semata, tetapi juga memiliki dampak psikologis dan semangat belajar bagi para santri. Menurutnya, asupan gizi yang baik akan berkontribusi pada peningkatan energi dan daya juang dalam menempuh pendidikan.
“Makan Bergizi Gratis bukan hanya membuat santri sehat, tetapi juga menambah semangat dan daya juang mereka dalam belajar,” ujarnya. seperti dilansir jabar.nu.or.id.
Pernyataan tersebut mempertegas bahwa pemenuhan gizi tidak bisa dipandang sebagai isu sederhana. Di lingkungan pesantren, di mana aktivitas belajar dan pembinaan berlangsung intensif, kebutuhan nutrisi yang seimbang menjadi faktor penting dalam menunjang produktivitas santri.
Lebih lanjut, Gus Yahya menjelaskan bahwa PBNU sebelumnya telah meresmikan sejumlah SPPG di berbagai daerah. Namun, peresmian di Pesantren Al Ittihad memiliki makna tersendiri. Meskipun yang diresmikan hanya satu dapur layanan gizi, kehadiran langsung Ketua Umum PBNU menunjukkan keseriusan organisasi dalam mengawal program tersebut.
Ia juga menegaskan bahwa sejak awal, PBNU telah mengambil posisi yang jelas dalam mendukung berbagai program pemerintah yang memberikan manfaat luas bagi masyarakat. Sikap ini merupakan bagian dari komitmen organisasi untuk berperan aktif sebagai agen perubahan sosial.
“PBNU tidak ragu-ragu. Sejak muktamar di Lampung kita sudah menegaskan bahwa NU harus mengambil posisi sebagai agen masyarakat, membantu agar program dan agenda pemerintah sampai kepada masyarakat,” kata Gus Yahya.
Dukungan ini tidak hanya bersifat simbolis, tetapi juga diwujudkan melalui langkah konkret, seperti pembangunan dan pengoperasian SPPG di berbagai wilayah. Dengan jaringan pesantren yang luas, NU memiliki potensi besar untuk memperluas jangkauan program MBG secara signifikan.
Sementara itu, pengasuh Pesantren Al Ittihad, Kamali Abdulghani, menyampaikan rasa bangga atas kehadiran Ketua Umum PBNU di pesantren yang dipimpinnya. Ia menilai kehadiran tersebut bukan hanya sebagai bentuk dukungan, tetapi juga menjadi motivasi bagi seluruh santri.
Kamali juga menyoroti besarnya peran NU sebagai organisasi kemasyarakatan. Dengan jumlah warga Nahdliyin yang mencapai sekitar 140 juta orang, NU disebut memiliki pengaruh yang sangat besar dalam kehidupan sosial masyarakat Indonesia.
“NU ini ormas terbesar di dunia. Warga Nahdliyin sekitar 140 juta. Kalau bikin negara sebenarnya bisa,” katanya.
Selain itu, ia menilai kehadiran Gus Yahya memberikan wawasan baru bagi para santri, terutama terkait isu-isu global. Menurutnya, santri tidak hanya perlu memahami ilmu agama, tetapi juga harus memiliki perspektif luas terhadap perkembangan dunia.
“Jangan hanya mengerti Indonesia, tapi juga harus memahami wawasan luar negeri. Beliau bukan hanya paham agama, tetapi juga perkembangan dunia,” ungkapnya.
Pada kesempatan yang sama, Staf Khusus Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan bidang Kerukunan Beragama, Ulun Nuha, turut menyampaikan apresiasi terhadap komitmen NU dalam mendukung program MBG.
Ia menegaskan bahwa peningkatan kualitas gizi merupakan fondasi penting dalam membangun generasi masa depan yang unggul. Menurutnya, pengalaman masa lalu menunjukkan bahwa kekurangan gizi dapat berdampak pada kualitas sumber daya manusia.
“Cukup generasi kolonial yang tumbuh dengan gizi tidak seimbang. Kita tidak ingin generasi mendatang mengalami hal yang sama,” ujarnya.
Ulun juga mengapresiasi langkah cepat PBNU yang sejak awal telah menyatakan dukungan terhadap program MBG, bahkan ketika masih banyak pihak yang meragukannya. Komitmen tersebut ditunjukkan melalui penandatanganan nota kesepahaman serta rencana pembangunan ribuan titik layanan gizi.
“Ketika masih banyak yang ragu dengan program MBG, Ketua Umum PBNU sudah menandatangani MoU. Nahdlatul Ulama berkomitmen mendukung bahkan siap mendirikan 1.000 titik SPPG,” katanya.
Menurutnya, hingga saat ini telah terdapat lebih dari 25 ribu SPPG yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Program ini telah dirasakan manfaatnya oleh jutaan santri, yang menjadi salah satu kelompok penerima manfaat utama.
“Santri adalah penerima manfaat yang tepat untuk program MBG. Ini juga bisa menjadi katalisator kemandirian ekonomi pesantren,” ungkapnya.
Dengan adanya SPPG, pesantren tidak hanya berperan sebagai penerima manfaat, tetapi juga sebagai pelaku dalam pengelolaan program. Hal ini membuka peluang bagi pesantren untuk mengembangkan kemandirian ekonomi berbasis pengelolaan pangan.
Di akhir pernyataannya, Ulun berharap seluruh elemen pesantren dapat berperan aktif dalam mengawal keberlangsungan program MBG. Dukungan dari para kiai, nyai, dan santri dinilai sangat penting agar program ini berjalan optimal dan memberikan manfaat luas.
“Mohon doa dari para nyai, alim ulama, dan santri agar program MBG ini memberikan barokah dan manfaat bagi masyarakat,” pungkasnya.
Secara keseluruhan, peresmian SPPG di Pesantren Al Ittihad menjadi bukti nyata sinergi antara organisasi keagamaan dan pemerintah dalam meningkatkan kualitas gizi masyarakat. Dengan dukungan berbagai pihak, program MBG diharapkan mampu menciptakan generasi yang lebih sehat, kuat, dan siap menghadapi tantangan masa depan.[]

