SUARA PESANTREN | Jember–Bakal Calon Bupati – Wakil Bupati Jember H.Achmad Sudiyono disambut shalawat badar oleh Pengurus Anak Cabang (PAC) PPP Kabupaten Jember saat mengembalikan berkas pendaftaran di kantor DPC PPP Kab Jember, Minggu (19/5). H.Achmad hadir di kantor DPC PPP diterima oleh Ketua HM. Madini Farouk dan Sekretarisnya Yazid Merdeka.
Sekretaris DPC PPP Yazid Merdeka dalam sambutanya mengaku rindu masa kepemimpinan Bupati MZA Djalal. Karena disaat kepemimpinan MZA Djalal-Kusen Andalas (2005-2010 dan 2010-2015) melalui H.Achmad Sudiyono saat menjabat Kepala Dinas Pendidikan kesejahteraan keberadaan pesantren dan Diniyah dan Ula Wustho menjadi perhatian serius. Termasuk komunikasi dengan partai politik terjalin dengan baik.
“Enak jamannya Pak Djalal (Bupati MZA Djalal) yang saat itu H.Achmad menjadi Kepala Dinas Pendidikan, semua terkomunikasikan dengan baik, partai dihargai.. Oleh sebab itu, jika H.Achmad ditakdirkan menjadi Bupati atau Wakil Bupati Jember dapat mengembalikan masa-masa kejayaan itu,” harap Jazid yang disebut takbir oleh pengurus DPC dan PAC dari 30 Kecamatan.
Jazid juga mengaku bagaimana perjuangan partainya dalam Pileg 2024 kemarin. Meskipun memiliki keterbatasan anggaran dan harus berdarah-darah, PPP mampu mempertahankan 5 kursi di DPRD Jember.” Alhamdulillah dengan kerja keras, PPP mampu mempertahankan suara dan memperoleh 5 kursi di DPRD Jember,” bebernya.
Sementara H.Achmad Sudiyono dihadapan pengurus dan PAC mengaku jika dirinya dipercaya PPP untuk menjadi Bupati atau Wakil Bupati Jember akan merajut kembali apa yang pernah dirintis semasa kepemimpinan MZA Djalal yang saat ini terputus.
“Termasuk memberikan bantuan kepada pesantren akan dirajut kembali. Dulu sekitar 711 pesantren di Jember mendapat bantuan masing-masing Rp10 juta setahun, kini program itu tidak dilanjutkan. Pesantren itu merupakan lembaga pendidikan tertua yang membentuk akhlak, kepribadian anak melalui pesantren. Memang para ulama kita tidak pernah meminta untuk bantuan pendidikan, tapi pemerintah harus melek, pemerintah harus sadar, bahwa untuk mencetak generasiku yang berakhlakul karima, generasi yang yang qur’ani tidak mudah. Pemerintah tidak akan mampu untuk menciptakan itu, walaupun Dengan uang berapapun, tapi ulama dengan ilmu yang dimiliki kebarokahannya turun bagaikan bak air yang luar biasa. Siapapun bupatinya jangan sampai tidak perhatian keberadaan pesantren,” ujar H.Achmad kemarin.
Kedepan, jika dirinya ditakdirkan menjadi Bupati atay Wakil Bupati, H.Achmad Sudiyono batuan bagi pesantren tidak lagi Rp10 juta per tahun, tapi ditingkatkan menjadi Rp.25 juta per tahun untuk pesantren yang jumlahnya 711 pesantren.
“Jumlah itu tidak akan menggoyahkan APBD kita, karena jumlah itu tidak sebanding dengan apa yang diperbuat oleh pesantren dalam mencetak generasi yang berakhlakul karimah. Termasuk bantuan kesejahteraan bagi guru ngaji. Di Jember ada 27 ribu guru ngaji harus dapat uang lelah sebesar Rp500 ribu per bulan atau Rp6 juta per tahun,” pungkasnya.

