SUARA PESANTREN | Tasikmalaya–Dinas Ketahanan Pangan Pertanian dan Perikanan (DKP3) Kota Tasikmalaya terus berupaya memenuhi kebutuhan pasar buah naga. Salah satunya dengan mengembangkan budidaya tanaman buah naga di Pondok Pesantren.
Selain untuk memenuhi kebutuhan pasar, upaya ini juga sebagai cara memberdayakan santri agar memiliki kemampuan tambahan, terutama bidang pertanian.
Sub Koordinator Produksi Perbenihan dan Perlindungan Tanaman (DKP3) Kota Tasikmalaya, Deni Nugraha menjelaskan, budidaya buah naga di lingkungan pesantren baru pertama dilakukan di Kota Tasikmalaya. Salah satunya di Pesantren Hidayatul Mustafid di Awipari Kecamatan Cibereum yang memiliki lahan.
“Pesantren ingin agar lahannya berdaya, sekaligus santrinya memiliki kemampuan. Kami DKP3 memfasilitasinya. Kami bawa petani ahli untuk buah naga dari Banyuwangi mengolah lahan bersama santri sekaligus mengedukasi santri,” kata Deni.
Deni mengharapkan, apa yang dilakukan Pesantren Hidayatul Mustafid menjadi contoh dalam pengelolaan lahan dan pemberdayaan di pesantren lainnya. Karena, untuk pasar domestik buah naga cukup terbuka, termasuk untuk pasar luar negeri.
“Jika ini dikembangkan bersama, ini akan menjadi nilai tambah bagi pesantren,” ujar Deni.
Haryanto petani asal Banyuwangi yang merupakan pendamping pengembangan buah naga di lahan pesantren mengatakan, apa yang diajarkan kepada santri adalah bagaiamana mengolah lahan, hingga membudidayakan buah naga. Termasuk, bagaimana teknik menanam buah naga, agar produksinya maksimal.
“Harapannya ini dapat dikembangkan juga oleh santri dilingkungannya, ketika mereka selesai mondok,” harap Haryanto.
Isan seorang santri mengaku senang mendapat tambahan ilmu bertani. Sehingga ketika selesai mondok, ilmu bertani terutama mengembangkan buah naga, akan diimplememtasikan di kampungnya.
“Tidak hanya mengaji, kami juga dapat ilmu tambahan untuk bekal kami nanti,” pungkas Isan. [fank]

