Suara Pesantren — Media Pesantren IndonesiaSuara Pesantren — Media Pesantren IndonesiaSuara Pesantren — Media Pesantren Indonesia
Notification Show More
Font ResizerAa
  • Home
  • Kirim Artikel
  • Nasional
    • 100 Th Gontor
    • Wejangan
    • Tuntunan
    • Muamalah
    • Regulasi
    • Kesehatan
  • Kilas Pesantren
  • Review Pesantren
  • Jejak Ulama
  • Kiai-Ustadz
  • Santri-Alumni
  • Pendidikan Islam
    • Beasiswa
Reading: Ketika Agama Kehilangan Sanad: Kritik atas Fenomena Berbicara Tanpa Ilmu di Era Digital
Share
Font ResizerAa
Suara Pesantren — Media Pesantren IndonesiaSuara Pesantren — Media Pesantren Indonesia
  • Home
  • Kirim Artikel
  • Nasional
  • Kilas Pesantren
  • Review Pesantren
  • Jejak Ulama
  • Kiai-Ustadz
  • Santri-Alumni
  • Pendidikan Islam
Search
  • Home
  • Kirim Artikel
  • Nasional
    • 100 Th Gontor
    • Wejangan
    • Tuntunan
    • Muamalah
    • Regulasi
    • Kesehatan
  • Kilas Pesantren
  • Review Pesantren
  • Jejak Ulama
  • Kiai-Ustadz
  • Santri-Alumni
  • Pendidikan Islam
    • Beasiswa
Have an existing account? Sign In
Suara Pesantren — Media Pesantren Indonesia > Blog > OPINI > Ketika Agama Kehilangan Sanad: Kritik atas Fenomena Berbicara Tanpa Ilmu di Era Digital
OPINI

Ketika Agama Kehilangan Sanad: Kritik atas Fenomena Berbicara Tanpa Ilmu di Era Digital

Ahmad Dhiyaul Lamik (Mahasantri Semester 4 Ma'had Aly Darussalam Blokagung)

Suara Pesantren
Suara Pesantren Published 28/10/2026 6 Min Read
Share
ustadz viral

Suara Pesantren | “Abdullah bin al-Mubarak berkata, ‘isnad (mata rantai keilmuan) menurutku merupakan bagian dari agama. Seandainya tidak ada isnad, niscaya siapa saja dapat mengatakan apa saja yang dikehendakinya.” (قَالَ عَبْدُ اللَّهِ، ابْنَ الْمُبَارَكِ: الإِسْنَادُ عِنْدِي مِنَ الدِّينِ، لَوْلَا الإِسْنَادُ لَقَالَ مَنْ شَاءَ مَا شَاءَ)

Daftar Isi
Ketika Popularitas Mengalahkan Otoritas KeilmuanMedia Sosial dan Krisis Verifikasi KeagamaanSanad sebagai Etika IntelektualMenghidupkan Kembali Tradisi Keilmuan
- Advertisement -
jasa sosialisasi pesantren

Maqalah yang dinukil dalam Muqaddimah Shahih Muslim ini bukan sekadar penjelasan tentang pentingnya sanad dalam periwayatan hadis. Lebih dari itu, ia mengandung prinsip epistemologis yang mendasar: setiap klaim kebenaran harus memiliki landasan yang dapat dipertanggungjawabkan. Dalam tradisi keilmuan Islam, kebenaran tidak cukup dibangun di atas keyakinan pribadi, popularitas, atau kepiawaian seseorang dalam menyusun kata-kata. Ia harus ditopang oleh sumber, metode, dan otoritas keilmuan yang dapat diperiksa.

Prinsip tersebut semakin relevan ketika kita menyaksikan fenomena kehidupan beragama di era digital. Media sosial telah membuka ruang luas bagi siapa saja untuk menyampaikan pendapat, termasuk mengenai Al-Qur’an, hadis, fikih, dan persoalan keagamaan lainnya. Sayangnya, kemudahan berbicara tidak selalu diiringi dengan kesungguhan untuk belajar. Akibatnya, ruang digital terkadang berubah menjadi tempat beredarnya pendapat keagamaan yang tidak jelas sumber dan dasar argumentasinya.

Ketika Popularitas Mengalahkan Otoritas Keilmuan

Salah satu fenomena yang patut menjadi perhatian adalah kecenderungan masyarakat menilai kebenaran berdasarkan popularitas penyampainya. Seseorang yang memiliki banyak pengikut, pandai berbicara, dan mampu menghasilkan konten menarik sering kali lebih dipercaya daripada ulama atau akademisi yang menjelaskan persoalan secara mendalam, tetapi tidak memiliki popularitas serupa.

Padahal, banyaknya pengikut tidak otomatis menunjukkan kedalaman ilmu. Kemampuan berbicara dengan meyakinkan juga tidak menjamin ketepatan suatu pendapat. Dalam persoalan agama, seseorang bisa saja mengutip satu hadis tanpa mengetahui kualitasnya, menyampaikan pendapat fikih tanpa memahami konteksnya, atau mengeluarkan kesimpulan hukum tanpa menguasai perangkat istinbat yang diperlukan.

Fenomena ini memperlihatkan pergeseran ukuran otoritas: dari penguasaan ilmu menuju kemampuan menarik perhatian. Kebenaran seolah-olah ditentukan oleh siapa yang paling sering muncul di beranda, bukan oleh siapa yang paling kuat argumentasinya.

Padahal, peringatan Ibnu al-Mubarak justru menegaskan pentingnya mekanisme verifikasi. Jika sanad diabaikan, setiap orang dapat berbicara sesuka hati, lalu mengatasnamakan agama untuk membenarkan pendapatnya.

Media Sosial dan Krisis Verifikasi Keagamaan

Persoalan lain muncul ketika potongan ceramah, kutipan hadis, dan nasihat agama disebarkan tanpa pemeriksaan. Sebuah kalimat yang menyentuh emosi dapat menjadi viral meskipun sumbernya tidak diketahui. Tidak jarang, perkataan seorang ulama dinisbatkan kepada tokoh lain, hadis yang belum jelas kualitasnya disampaikan sebagai sabda Nabi, atau pendapat yang memiliki perbedaan di kalangan ulama dipresentasikan seolah-olah merupakan satu-satunya pandangan yang benar.

Masalahnya bukan semata-mata karena informasi tersebut tersebar melalui media sosial, melainkan karena proses penyebarannya sering mengabaikan tanggung jawab ilmiah. Orang lebih dahulu membagikan informasi karena merasa isinya sesuai dengan keyakinannya, baru kemudian—jika sempat—memikirkan kebenarannya.

Dalam keadaan demikian, pengguna media sosial bukan hanya berpotensi menjadi korban informasi keliru, tetapi juga dapat menjadi bagian dari mata rantai penyebarannya. Padahal, Allah Swt. telah mengingatkan dalam QS. Al-Hujurat ayat 6 agar orang beriman melakukan tabayun ketika menerima berita dari pihak yang tidak dapat dipercaya.

Tabayun merupakan prinsip verifikasi yang sejalan dengan semangat penjagaan sanad. Keduanya mengajarkan bahwa informasi tidak semestinya diterima begitu saja tanpa pemeriksaan terhadap sumber dan validitasnya.

Sanad sebagai Etika Intelektual

Meskipun demikian, penting dipahami bahwa sanad dalam pengertian teknis ilmu hadis tidak dapat disamakan begitu saja dengan setiap bentuk rujukan modern. Sanad memiliki aturan khusus untuk menilai kesinambungan periwayatan dan kredibilitas para perawi. Akan tetapi, semangat yang terkandung di dalamnya dapat menjadi pelajaran luas bagi kehidupan intelektual.

Dalam konteks sekarang, semangat tersebut menuntut seseorang untuk mengetahui dari mana suatu pendapat berasal, siapa yang mengemukakannya, bagaimana argumentasinya dibangun, serta apakah kesimpulan yang disampaikan sesuai dengan sumbernya.

Seorang penceramah, misalnya, perlu menjelaskan rujukan ketika menyampaikan hadis atau pendapat ulama. Pembuat konten keagamaan harus bersedia memeriksa informasi sebelum menyebarkannya. Sementara itu, masyarakat perlu membiasakan diri membedakan antara dalil, penafsiran terhadap dalil, dan opini pribadi.

Sikap semacam ini juga menuntut kerendahan hati intelektual. Tidak semua persoalan harus dijawab oleh setiap orang. Mengatakan “saya belum mengetahui” bukanlah kelemahan, melainkan pengakuan jujur atas batas kemampuan diri. Dalam tradisi keilmuan, pengakuan tersebut jauh lebih terhormat daripada memberikan jawaban tanpa dasar yang memadai.

Menghidupkan Kembali Tradisi Keilmuan

Pesan Ibnu al-Mubarak pada akhirnya mengajak kita untuk menghidupkan kembali tradisi belajar yang menempatkan ketelitian di atas kecepatan dan pertanggungjawaban di atas popularitas. Belajar agama bukan sekadar mengumpulkan kutipan, menonton ceramah singkat, atau menghafal kesimpulan hukum. Ia memerlukan proses, bimbingan, pemahaman terhadap metodologi, dan kesediaan untuk menguji pendapat.

Lembaga pendidikan Islam, pesantren, dan majelis ilmu memiliki peran penting dalam menjaga tradisi tersebut. Namun, tanggung jawab ini tidak berhenti pada lembaga pendidikan. Setiap pengguna media sosial dapat berkontribusi dengan tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi, mencantumkan sumber yang jelas, dan menghormati perbedaan pendapat yang memiliki dasar keilmuan.

Pada akhirnya, peringatan Ibnu al-Mubarak tetap relevan melintasi zaman: ketika mekanisme pertanggungjawaban ilmiah diabaikan, ruang publik akan dipenuhi klaim yang saling bertentangan tanpa ukuran kebenaran yang jelas.

Di tengah derasnya arus informasi, menjaga agama bukan hanya tentang mempertahankan keyakinan, tetapi juga tentang menjaga cara kita memperoleh dan menyampaikan pengetahuan tentangnya. Sebab, niat baik saja tidak cukup untuk menjamin kebenaran suatu informasi. Agama membutuhkan kejujuran, ketelitian, dan tanggung jawab ilmiah agar tidak dijadikan alat pembenaran bagi setiap perkataan yang ingin disampaikan manusia.

 

⇒Berita Seputar Pesantren. Kunjungi dan Follow Kami di ⇒ GOOGLE NEWS ⇐

You Might Also Like

Ketika Perjalanan Berhenti Sejenak

Peran Model B2B2C dalam Meningkatkan Kualitas Layanan di Era Digital

Bogor Barat Butuh Keragaman Sarjana

Bersama Berbeda Menuju Indonesia Emas

1926: Ketika NU dan Gontor Menjawab Zaman

Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Telegram Email Print
Jasa pembuatan website SEO

Follow US

Yuk Join Sosial Media
FacebookLike
InstagramFollow
YoutubeSubscribe
TelegramFollow

10 Berita Pilihan

Seputar Pesantren
ilmu dan adab

Ketika Ilmu harus Berjalan Bersama Adab

Suara Pesantren Suara Pesantren 28/10/2026
Pemkab Bogor Apresiasi 103 Marbot dan Satgas Hadiah Umroh Gratis
Dirjen Pesantren Dorong UIB Buka Prodi Manajemen Pesantren
 Memegang Agama Terasa seperti Menggenggam Bara Api
Dulu Santri Panutan, Sekarang Lupa Jalan
Inilah 10 Tips Liburan Wisata Halal ke Eropa Barat Biar Berkesan
Ibadah Umroh Bersama Khadim Wisata, Travel Resmi di Bogor
Prabowo Gaungkan ‘Free Palestina’ di Kesyukuran 100 Tahun Pondok Gontor
Prabowo Apresiasi Nilai-nilai Pendidikan Pondok Modern Gontor
KKN-T Universitas Alma Ata Bekali Siswa SMA Ma’arif 1 Srumbung Cara Hindari Scam Digital

Jasa Blogroll & Publikasi

  • Suara Muslim
  • Seputar Masjid
  • Seputar Halal
  • Seputar Kuliner
  • Seputar Kesehatan
  • Promo UKM
  • Wisata Indonesia
  • Inilah Kita
  • Beasiswa Kampus
  • Indonesia Sentris
  • Seputar Rumah
  • Seputar Keamanan
  • Kota Surabaya
  • Info Nasional
  • Info Perkotaan
  • Info Bekasi
  • Market Daily
  • Berita Santai
  • Berita Tekno
  • Portal Mahasiswa
  • Media Outsourcing
  • Kirim Artikel
  • Pendidikan
  • Bisnis Daily

‎اَلسَلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَات ‎اَلسَلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ 

Salam Fathan Mubina, Salam Kemenangan…!
Kepada Ayah Bunda, yang Disayangi Allah SWT

Sebagai wujud kecintaan dan dukungan dakwah pendidikan melalui *Pesantren Ciawi Bogor Fathan Mubina*…
Kami dari Panitia Penerimaan Santri Baru ingin menyampaikan informasi ini sebagai pengingat dalam penyebaran informasi pendaftaran lembaga pendidikan yang berada dibawah asuhan Yayasan Pembangunan Umat Fathan Mubina. Terima Kasih 

Wassalamualaikum Wr. Wb.

@pesantrenfathanmubina @fathanmubinatv #santribaru
Follow on Instagram

FACEBOOK

Artikel Lainnya

Fahmi Arif El Muniry
OPINIPendidikan Islam

Direktorat Jenderal Pesantren Didorong Perkuat Dakwah di Ruang Digital

27/10/2026
pkm mahasiswa unpam
OPINI

Peningkatan Kompetensi Santri melalui Pelatihan Manajemen dan Kepemimpinan

15/07/2026
OPINI

Tasawuf Ki Bagoes Hadikoesoemo dan HAMKA, Tasawuf dalam dzikir, dzikir dalam bertasawuf

27/04/2026
OPINI

Penerapan Manajemen Risiko di Lingkungan Perusahaan

28/04/2026
OPINI

Penerapan Manajemen Risiko dalam Operasional Bisnis Online Skala Kecil

27/04/2026
bahasa hukum
OPINI

Urgensi Kejelasan, Konsistensi, dan Objektivitas Bahasa Hukum

15/02/2026
deni hidaytuallah
OPINI

Menakar Standarisasi vs. Keunikan Lokal Pesantren, di Tengah Penyeragaman Kurikulum Negara

15/08/2026
  • Tentang SP
  • Redaksi
  • Jasa Publikasi
  • Disclaimer
  • Pedoman Siber
  • Kirim Artikel
logo suara pesantren logo suara pesantren

Suara Pesantren, media informasi seputar pesantren di Indonesia.
Yuk, support pengembangan website Suara Pesantren agar menjadi lebih baik. Untuk kerjasama, hubungi kami. Terima kasih. Jazakumullah.

© Suara Pesantren | Digital Media Labs
suara pesantren
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?