Suara Pesantren | Pondok pesantren memiliki peran strategis dalam membentuk sumber daya manusia (SDM) santri yang berakhlak, mandiri, dan berdaya saing. Namun, masih ditemukan keterbatasan kompetensi santri dalam aspek manajemen dan kepemimpinan, khususnya dalam perencanaan kegiatan, pembagian tugas, komunikasi, kerja sama tim, dan pengambilan keputusan di lingkungan organisasi pesantren.
Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) ini bertujuan meningkatkan kompetensi SDM santri melalui pelatihan manajemen dan kepemimpinan. Kegiatan dilaksanakan di Pondok Pesantren Daarul Azmi pada Kamis, 12 Maret 2026, pukul 13.00-17.35 WIB. Metode pelaksanaan meliputi observasi awal, ceramah interaktif, diskusi kelompok dan studi kasus, praktik serta simulasi kepemimpinan, serta evaluasi dan refleksi. Materi yang diberikan mencakup konsep dasar manajemen, kepemimpinan Islami, komunikasi efektif, kerja sama tim, dan pengambilan keputusan.
Berdasarkan hasil observasi, diskusi, dan umpan balik peserta, santri menunjukkan pemahaman yang lebih baik mengenai pembagian tugas, komunikasi, kerja sama tim, dan pengambilan keputusan dalam organisasi. Peserta juga tampak lebih percaya diri dalam menyampaikan pendapat dan berpartisipasi selama kegiatan. Pelatihan ini memberikan kontribusi positif terhadap pembentukan santri yang disiplin, bertanggung jawab, dan memiliki kesiapan untuk berperan aktif di lingkungan pesantren maupun masyarakat.
Kata Kunci: Sumber Daya Manusia, Santri, Manajemen, Kepemimpinan, Pondok Pesantren
PENDAHULUAN
Pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam yang berperan penting dalam menyiapkan santri sebagai sumber daya manusia yang berkarakter, berpengetahuan, dan memiliki kepedulian sosial. Perkembangan kebutuhan organisasi dan tantangan kehidupan masyarakat menuntut pesantren tidak hanya berfokus pada pembinaan keagamaan, tetapi juga membekali santri dengan kemampuan manajemen dan kepemimpinan. Penguatan kompetensi tersebut diperlukan agar santri mampu menjalankan perannya secara efektif di lingkungan pesantren maupun masyarakat.
Santri terlibat dalam berbagai kegiatan organisasi, kepengurusan asrama, aktivitas keagamaan, dan kegiatan sosial. Dalam pelaksanaannya, masih terdapat keterbatasan dalam perencanaan program, pengelolaan waktu, pembagian tugas, komunikasi, kerja sama tim, dan pengambilan keputusan. Keterbatasan tersebut dapat menyebabkan kegiatan organisasi belum berjalan secara terstruktur. Oleh karena itu, diperlukan pembinaan yang terarah melalui pelatihan dan pendampingan yang sesuai dengan kebutuhan santri.

Pengembangan sumber daya manusia merupakan proses untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, sikap, dan kemampuan individu agar dapat memberikan kontribusi secara optimal. Dalam konteks pesantren, pengembangan kompetensi santri perlu diselaraskan dengan nilai kedisiplinan, tanggung jawab, keteladanan, dan kerja sama. Pelatihan manajemen dan kepemimpinan menjadi salah satu upaya yang dapat membantu santri mengembangkan kemampuan tersebut secara praktis dan berkelanjutan.
Berdasarkan kondisi tersebut, kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) ini dilaksanakan untuk meningkatkan kompetensi sumber daya manusia santri melalui pelatihan manajemen dan kepemimpinan di Pondok Pesantren Daarul Azmi. Kegiatan ini diharapkan dapat menumbuhkan rasa percaya diri, tanggung jawab, kemampuan bekerja sama, serta kesiapan santri untuk berkontribusi secara positif di lingkungan pesantren dan masyarakat.
RUMUSAN MASALAH
- Bagaimana meningkatkan pemahaman santri mengenai konsep dasar manajemen dan kepemimpinan dalam organisasi pesantren?
- Bagaimana penerapan prinsip manajemen dapat membantu santri dalam merencanakan kegiatan, membagi tugas, dan bekerja sama secara efektif?
- Bagaimana meningkatkan keterampilan santri dalam berkomunikasi, memimpin kelompok, dan mengambil keputusan secara bertanggung jawab?
TUJUAN KEGIATAN
- Memberikan pemahaman kepada santri mengenai konsep dasar manajemen dan
- Melatih santri menerapkan prinsip manajemen dalam perencanaan kegiatan, pembagian tugas, dan kerja sama tim.
- Meningkatkan keterampilan santri dalam komunikasi, kepemimpinan, penyelesaian masalah, dan pengambilan keputusan.
TINJAUAN PUSTAKA
Konsep Manajemen
Manajemen merupakan proses yang meliputi perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengendalian sumber daya untuk mencapai tujuan secara efektif dan efisien. Terry (2010) menjelaskan bahwa fungsi manajemen membantu organisasi mengoordinasikan sumber daya dan kegiatan secara sistematis. Robbins dan Coulter (2016) juga menekankan bahwa manajemen perlu diterapkan secara adaptif agar organisasi mampu merespons perubahan dan tantangan lingkungan.
Dalam lingkungan pesantren, penerapan manajemen dapat digunakan untuk menyusun program, menentukan pembagian tugas, mengatur waktu, mengoordinasikan anggota, dan mengevaluasi hasil kegiatan. Dengan pengelolaan yang terstruktur, santri dapat menjalankan kegiatan organisasi secara lebih terarah dan bertanggung jawab.
Kepemimpinan
Kepemimpinan merupakan proses memengaruhi dan mengarahkan individu atau kelompok untuk mencapai tujuan bersama. Northouse (2016) menjelaskan bahwa kepemimpinan tidak hanya berkaitan dengan jabatan, tetapi juga dengan kemampuan membangun hubungan, memberikan arahan, dan mendorong partisipasi anggota kelompok.
Kepemimpinan santri menuntut keteladanan, disiplin, tanggung jawab, kemampuan komunikasi, serta keberanian dalam mengambil keputusan. Nilai kepemimpinan Islami juga menekankan sikap amanah, adil, musyawarah, dan kepedulian terhadap anggota kelompok.
Manajemen Sumber Daya Manusia Santri
Manajemen sumber daya manusia berfokus pada upaya mengelola dan mengembangkan potensi individu agar mampu berkontribusi secara optimal. Hasibuan (2017) menyatakan bahwa sumber daya manusia merupakan unsur penting dalam keberhasilan organisasi karena individu menjadi pelaksana utama setiap kegiatan.
Santri sebagai sumber daya utama pesantren perlu memperoleh pembinaan yang mendukung perkembangan pengetahuan, keterampilan, sikap, dan karakter. Pengelolaan SDM santri yang baik dapat membantu pesantren membentuk individu yang mandiri, kompeten, dan mampu menjalankan peran sosial secara bertanggung jawab.
Pelatihan sebagai Upaya Pengembangan Kompetensi
Pelatihan merupakan proses pembelajaran terencana untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap peserta. Noe (2017) menjelaskan bahwa pelatihan akan lebih efektif apabila materi sesuai dengan kebutuhan peserta dan disertai kesempatan untuk mempraktikkan keterampilan yang dipelajari.
Pelatihan manajemen dan kepemimpinan bagi santri perlu menggabungkan penyampaian konsep, diskusi, studi kasus, praktik, simulasi, dan evaluasi. Pendekatan tersebut memungkinkan santri tidak hanya memahami teori, tetapi juga mencoba menerapkannya dalam situasi yang dekat dengan kegiatan organisasi pesantren.
METODE PELAKSANAAN
Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) dilaksanakan di Pondok Pesantren Daarul Azmi pada Kamis, 12 Maret 2026, pukul 13.00-17.35 WIB. Peserta kegiatan adalah santri Pondok Pesantren Daarul Azmi. Pelaksanaan kegiatan menggunakan pendekatan edukatif dan partisipatif yang menekankan keterlibatan aktif peserta dalam setiap tahapan kegiatan.
Metode pelaksanaan dirancang melalui tahapan berikut:
- Observasi Awal. Observasi dilakukan untuk mengidentifikasi kebutuhan peserta dan memperoleh gambaran awal mengenai pemahaman santri terhadap manajemen, kepemimpinan, pembagian tugas, komunikasi, dan kerja sama tim.
- Ceramah Tim PKM menyampaikan materi mengenai konsep dasar manajemen, kepemimpinan Islami, komunikasi efektif, kerja sama tim, dan pengambilan keputusan. Penyampaian materi disertai tanya jawab agar peserta dapat menghubungkan konsep dengan pengalaman organisasi di pesantren.
- Diskusi Kelompok dan Studi Kasus. Peserta berdiskusi mengenai permasalahan sederhana yang berkaitan dengan perencanaan kegiatan, pembagian tugas, konflik dalam kelompok, dan pengambilan keputusan. Hasil diskusi disampaikan untuk memperoleh masukan dari tim PKM dan peserta lainnya.
- Praktik dan Simulasi Kepemimpinan. Peserta mempraktikkan penyusunan rencana kegiatan, pembagian peran, penyampaian arahan, kerja sama tim, serta pengambilan keputusan melalui simulasi sederhana. Tahap ini bertujuan membantu peserta menerapkan materi secara langsung.
- Evaluasi dan Refleksi. Evaluasi dilakukan secara kualitatif melalui pengamatan selama kegiatan, diskusi, pertanyaan lisan, dan umpan balik peserta. Refleksi digunakan untuk mengetahui pemahaman peserta, kesulitan yang masih dihadapi, dan kemungkinan penerapan materi dalam kegiatan pesantren.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Kegiatan PKM berjalan dengan lancar dan memperoleh respons positif dari peserta. Santri mengikuti penyampaian materi, diskusi, studi kasus, dan simulasi dengan antusias. Keterlibatan peserta terlihat dari pertanyaan yang diajukan, penyampaian pendapat dalam kelompok, serta kesediaan untuk mengambil peran selama simulasi.
Pada tahap awal, sebagian peserta masih memandang kepemimpinan sebagai tugas ketua atau pengurus tertentu. Setelah materi dan diskusi, peserta mulai memahami bahwa kepemimpinan juga berkaitan dengan kemampuan mengambil inisiatif, bertanggung jawab terhadap tugas, berkomunikasi dengan baik, dan membantu kelompok mencapai tujuan bersama.
Diskusi kelompok membantu peserta memahami pentingnya perencanaan kegiatan dan pembagian tugas. Dalam studi kasus, peserta diminta mengidentifikasi tujuan kegiatan, menentukan peran anggota, menyusun urutan pekerjaan, dan memilih alternatif penyelesaian masalah. Proses tersebut mendorong peserta untuk mendengarkan pendapat orang lain, menyampaikan alasan, dan mencapai keputusan melalui musyawarah.
Praktik dan simulasi kepemimpinan memberikan kesempatan kepada santri untuk mencoba menyampaikan arahan, berkoordinasi, dan mengambil keputusan. Berdasarkan hasil observasi, diskusi, dan umpan balik peserta, santri menunjukkan pemahaman yang lebih baik mengenai pembagian tugas,
komunikasi, kerja sama tim, dan pengambilan keputusan dalam organisasi. Peserta juga tampak lebih percaya diri dalam menyampaikan pendapat dibandingkan pada awal kegiatan.
Hasil tersebut menunjukkan bahwa pelatihan yang menggabungkan teori dan praktik dapat membantu santri memahami konsep manajemen dan kepemimpinan secara lebih aplikatif. Perencanaan yang jelas, komunikasi efektif, pembagian tugas yang sesuai, dan evaluasi bersama merupakan unsur penting dalam keberhasilan kegiatan organisasi pesantren.
Walaupun demikian, hasil kegiatan ini bersifat kualitatif dan didasarkan pada pengamatan selama pelatihan, diskusi, serta umpan balik peserta. Kegiatan belum menggunakan pengukuran kuantitatif berupa pre-test dan post-test. Oleh karena itu, pendampingan lanjutan dan evaluasi berkala diperlukan untuk mengetahui penerapan keterampilan tersebut dalam kegiatan santri sehari-hari.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Kegiatan PKM melalui pelatihan manajemen dan kepemimpinan telah memberikan pemahaman yang lebih baik kepada santri mengenai perencanaan kegiatan, pembagian tugas, komunikasi, kerja sama tim, dan pengambilan keputusan. Metode ceramah interaktif, diskusi, studi kasus, praktik, dan simulasi membantu peserta menghubungkan konsep dengan situasi organisasi di pesantren.
Berdasarkan hasil observasi, diskusi, dan umpan balik, peserta menunjukkan partisipasi aktif serta peningkatan kepercayaan diri dalam menyampaikan pendapat dan menjalankan peran dalam kelompok. Pelatihan ini memberikan kontribusi positif terhadap pembentukan santri yang disiplin, bertanggung jawab, dan memiliki kesiapan untuk berperan dalam kegiatan organisasi.
Saran
- Santri diharapkan menerapkan pengetahuan dan keterampilan manajemen serta kepemimpinan dalam kegiatan organisasi dan kehidupan sehari-hari di pesantren.
- Pihak pesantren disarankan memberikan pendampingan lanjutan dan kesempatan praktik agar keterampilan peserta dapat berkembang secara konsisten.
- Kegiatan berikutnya sebaiknya menggunakan evaluasi yang lebih terstruktur, seperti pre-test, post-test, lembar observasi, atau penilaian praktik, sehingga perubahan pemahaman dan keterampilan peserta dapat diukur secara lebih jelas.
- Perguruan tinggi dan pihak pesantren perlu menjaga kerja sama agar program pengembangan kompetensi santri dapat dilaksanakan secara berkelanjutan.
DAFTAR PUSTAKA
Hasibuan, M. S. P. (2017). Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta: Bumi Aksara.
Kirkpatrick, D. L., & Kirkpatrick, J. D. (2006). Evaluating Training Programs: The Four Levels (3rd ed.). San Francisco: Berrett-Koehler Publishers.
Noe, R. A. (2017). Employee Training and Development. New York: McGraw-Hill Education. Northouse, P. G. (2016). Leadership: Theory and Practice (7th ed.). Thousand Oaks, CA: SAGE
Publications.
Robbins, S. P., & Coulter, M. (2016). Management (13th ed.). Pearson Education.
Spencer, L. M., & Spencer, S. M. (1993). Competence at Work: Models for Superior Performance. New York: John Wiley & Sons.
Sugiyono. (2020). Metode Penelitian Pendidikan: Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.
Terry, G. R. (2010). Principles of Management. Homewood: Richard D. Irwin. Yukl, G. (2013). Leadership in Organizations (8th ed.). Pearson Education.
Republik Indonesia. (2019). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren.
Penyusun
Ardian Rafiqi, Ikhsan Oktri Ramadhan, Muhammad Zidan (Mahasiswa Program Studi Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Pamulang)
Dosen Pembimbing: Irfan Rizka Akbar, S.E., M.M.

