Suarapesantren.com | Mojokerto– Sebanyak 87 santri dari Pesantren Inernasional Azhari eLKISI dan Markaz Lughoh eLKISI resmi dilepas untuk melanjutkan studi ke Universitas Al-Azhar, Mesir, salah satu pusat pendidikan Islam tertua dan paling bergengsi di dunia.
Dari 87 santri 12 diantaranya dari pondok pesantren al-Amien Prenduan Sumenep Madura, dan 19 santri al-amien telah mengikuti markaz lughah yang berbeda, Jadi total 31 santri al-amien yang berangkat belajar di al-Azhar Cairo Mesir tahun 2025.
Adapun santri al-Amien Prenduan yang mengikuti acara pelapasa di markaz Lughah al-amien Adalah sebagai berikut: Himmy Kanza Tsabita, Hibatul Wafiroh, Tanzilia qodariyah, Tiflah habibti ,Anita Firdaus, Sri Wahyuningsih, Defi arnidha Dzikri Al-Ghifari arief, M.affan Nabil. Muddakir muyassar, Mevlana Muhammad , avicena. Ahmad vathohil wujaha. Moh. Fatur Reha
Acara pelepasan yang digelar di Masjid Agung Ponpes eLKISI dihadiri oleh Kepala Kemenag Kabupaten Mojokerto Bapak Muttakin, M.Ag, para pengasuh, jajaran asatidzah dan wali santri.
Acara berlangsung khidmat dan penuh haru. Para santri, yang telah menempuh masa pembinaan intensif selama bertahun-tahun, diberangkatkan setelah melalui serangkaian seleksi akademik dan kelayakan administrasi untuk bisa diterima di Universitas Al-Azhar Cairo Mesir.
Wawancara Eksklusif: Himmy Kanza Tsabita
Di antara santri yang dilepas, hadir sosok putri pertama dari Dr.Abdur Rohman.S.Ag.MEI dekan Fakultas Keislaman Universitas Trunojoyo Madura, Himmy Kanza Tsabita, yang dikenal dengan prestasi, keteladanan sikap, serta kecintaannya pada Al-Qur’an. Ia dipanggil dengan sebutan Himmy berbagi perasaannya jelang keberangkatan.
“Rasanya campur aduk antara haru, bangga, dan deg-degan. Saya tahu perjalanan ini tidak mudah, namun saya yakin bahwa menuntut ilmu, terutama di Al-Azhar, adalah amanah besar. Saya ingin memperdalam tafsir dan ilmu Al-Qur’an langsung di tempat lahirnya para ulama besar,” ungkap Himmy sambil tersenyum.
Ketika ditanya tentang pesan orang tua dan gurunya, ia menjawab pelan namun penuh keyakinan:
“Orang tua hanya berpesan satu hal: jaga adab dengan cara menjaga nama baik keluarga, nama baik almater. Ingatlah, Nak, ilmu akan meninggikan derajatmu, tetapi adab yang akan menjagamu, Jadilah hamba yang bersyukur, santri yang tawadhu, dan anak bangsa yang membawa nama baik negeri. Sedangkan para Asatidz selalu mengingatkan agar ilmu yang saya nanti bawa pulang kelak bukan hanya menambah kecerdasan, tetapi memberi manfaat dan menebarkan rahmat. Doa mereka adalah kekuatan paling besar bagi saya.”
Himmy juga menuturkan cita-cita keilmuannya setelah menyelesaikan studi di Mesir:
“Saya ingin kembali ke tanah air dan mengabdikan ilmu di pesantren dan masyarakat. Harapan saya, saya bisa menjadi bagian dari generasi yang menjaga Al-Qur’an, dan nilai nilai syariah, serta ingin menjadi pribadi yang selalu memberikan manfaat bagi orang lain” khoirun al-nas anfa’uhum li al-nnas.”
Acara pelepasan ditutup dengan doa bersama yang dipimpin oleh Kiai Haji Chamim Thohari. Dilanjutkan dengan salam perpisahan, serta pembekalan terakhir bagi para santri sebelum resmi meninggalkan tanah air. Semangat dan optimisme tampak jelas pada wajah para calon mahasiswa baru Al-Azhar tersebut, menandai awal perjalanan baru mereka menuntut ilmu di Negeri Seribu Menara.[]

