SUARAPESANTREN.COM | Dalam rangka memperingati ulang tahunnya yang ke-103, Tamansiswa mengambil langkah monumental dengan mendirikan Pondok Pesantren Ki Hadjar Dewantara. Peluncuran resmi pesantren tersebut digelar pada Rabu (2/7) di Mushala Wijaya Brata, Yogyakarta — tempat yang memiliki nilai sejarah tinggi karena berada dalam satu kompleks dengan makam pendiri Tamansiswa, Ki Hadjar Dewantara, istrinya Nyi Hadjar Dewantara, dan keluarga besar Tamansiswa lainnya.
Pendirian pondok pesantren ini bukan sekadar simbolik, melainkan menjadi perwujudan dari nilai-nilai luhur Tamansiswa yang sejalan dengan pendidikan pesantren. Hal itu disampaikan oleh Ki Rahmat Fauzi SHI, yang kini memimpin langsung pondok pesantren tersebut.
“Saya meyakini, Ki Hadjar Dewantara adalah orang pesantren karena ajaran-ajaran Tamansiswa sama dengan ajaran di pesantren,” ujar Ki Rahmat Fauzi dilansir KRjogja.com, 3 Juli lalu.
Ki Rahmat bukan sosok baru dalam lingkungan Tamansiswa. Ia adalah pamong di Tamansiswa Cabang Banjarharjo, Kapanewon Ngemplak, Sleman, yang membawahi lembaga pendidikan tingkat SMP dan SMK. Sekitar empat hingga lima tahun terakhir, ia juga telah mengelola pondok pesantren di wilayah tersebut. Pengalaman inilah yang kemudian menjadi pijakan untuk mendirikan pondok pesantren kedua, kali ini di jantung kota Yogyakarta.
Gagasan tersebut mendapat sambutan hangat dari Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa, sehingga realisasinya dapat terlaksana di kompleks Mushala Wijaya Brata. Dengan restu dari ahli waris keluarga Ki Hadjar Dewantara, nama besar beliau pun disematkan sebagai identitas resmi pondok pesantren baru ini.
Pondok Pesantren Ki Hadjar Dewantara di Yogyakarta ini memiliki konsep berbeda dari yang di Banjarharjo. Fokus utamanya ditujukan kepada kalangan mahasiswa. Bahkan, sudah ada sejumlah mahasiswa yang menyatakan kesiapannya menjadi santri di pesantren ini.
Dalam acara peresmian, Ki Mujiono yang mewakili Pimpinan Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa, mengajak seluruh elemen masyarakat — mulai dari pengurus RT, RW, RK, hingga warga sekitar — untuk mendukung keberadaan pondok pesantren tersebut.
Ia berharap, kehadiran pesantren ini bisa memberi manfaat nyata bagi masyarakat sekitar.
Rangkaian peringatan ulang tahun Tamansiswa ke-103 tahun ini mengusung tema besar: “Memperkuat Nasionalisme, Mempertebal Wawasan Kebangsaan, dan Melestarikan Kebudayaan.” Keterangan ini disampaikan oleh Nyi Hermin Tri Prasetyawati SPd MPd, selaku Panitera Harian Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa.
Berbagai kegiatan telah disiapkan untuk menyemarakkan momen bersejarah ini, dengan puncak acara dijadwalkan berlangsung pada Kamis, 3 Juli, bertepatan dengan tanggal lahir Tamansiswa.
Dengan berdirinya Pondok Pesantren Ki Hadjar Dewantara, Tamansiswa tak hanya merayakan usianya yang ke-103, tapi juga meneguhkan kembali spirit pendidikan nasional yang mengakar pada nilai kebudayaan, kebangsaan, dan spiritualitas — sebuah warisan tak ternilai dari Ki Hadjar Dewantara yang kini kembali menyala di tengah masyarakat.[]

