Suara Pesantren — Media Pesantren IndonesiaSuara Pesantren — Media Pesantren IndonesiaSuara Pesantren — Media Pesantren Indonesia
Notification Show More
Font ResizerAa
  • Home
  • Kirim Artikel
  • Nasional
    • 100 Th Gontor
    • Wejangan
    • Tuntunan
    • Muamalah
    • Regulasi
    • Kesehatan
  • Kilas Pesantren
  • Review Pesantren
  • Jejak Ulama
  • Kiai-Ustadz
  • Santri-Alumni
  • Pendidikan Islam
    • Beasiswa
Reading: Pesantren Tamansiswa Setelah Satu Abad Lebih
Share
Font ResizerAa
Suara Pesantren — Media Pesantren IndonesiaSuara Pesantren — Media Pesantren Indonesia
  • Home
  • Kirim Artikel
  • Nasional
  • Kilas Pesantren
  • Review Pesantren
  • Jejak Ulama
  • Kiai-Ustadz
  • Santri-Alumni
  • Pendidikan Islam
Search
  • Home
  • Kirim Artikel
  • Nasional
    • 100 Th Gontor
    • Wejangan
    • Tuntunan
    • Muamalah
    • Regulasi
    • Kesehatan
  • Kilas Pesantren
  • Review Pesantren
  • Jejak Ulama
  • Kiai-Ustadz
  • Santri-Alumni
  • Pendidikan Islam
    • Beasiswa
Have an existing account? Sign In
Suara Pesantren — Media Pesantren Indonesia > Blog > NASIONAL > Pesantren Tamansiswa Setelah Satu Abad Lebih
NASIONAL

Pesantren Tamansiswa Setelah Satu Abad Lebih

Suara Pesantren
Suara Pesantren Published 08/07/2025 6 Min Read
Share
pesantren tamansiswa
SUARAPESANTREN.COM |  “Pendidikan itu menanam. Pesantren menumbuhkan. Taman Siswa merawat. Maka marilah kita bertanam bersama, sebelum ladang ini jadi pabrik.” – Catatan dari halaman 5.
Pada suatu pagi yang biasa saja, halaman 5 koran Kedaulatan Rakyat menyajikan berita yang tak biasa: “Tamansiswa mendirikan pondok pesantren.” Tidak di perbatasan, bukan di desa ujung utara Sleman, tapi di jantung kompleks Taman Wijaya Brata, pada mushalla bersebelahan langsung dengan makam Ki dan Nyi Hadjar Dewantara di Yogyakarta.
Berita ini bisa saja luput dari perhatian jika Anda hanya mencari kabar seputar harga cabai atau kasus ijazah yang berseri-seri. Tapi bagi yang membaca pelan, dengan hati dan rasa sejarah, ini seperti menemukan bahwa akhirnya seperti Einstein buka pesantren fisika, atau Karl Marx menulis tafsir surat An-Nisa.
Mengejutkan, menyentuh, sekaligus membuat kening mengerut: Lho, kenapa baru sekarang?
Mari kita mulai dengan pertanyaan paling mendasar: kenapa Tamansiswa baru mendirikan pesantren setelah 103 tahun? Apakah karena Ki Hadjar dulu alergi sarung? Atau karena Majelis Luhur baru menemukan bahwa “Ki” dan “Kyai” itu berasal dari akar kata yang sama: penghormatan kepada ilmu, bukan gelar feodal?
Tentu tidak. Jawabannya lebih rumit dari sekadar masalah sarung atau sorban. Ini seperti menanyakan kenapa tukang bakso baru jual siomay setelah satu abad berdagang. Kadang kita hanya butuh momen yang tepat untuk menyadari bahwa identitas kita sejak dulu sudah nyantri, hanya tanpa menyebut diri sebagai santri.
Tamansiswa didirikan pada 3 Juli 1922 di Yogyakarta. Meskipun menerima siswa dari berbagai latar belakang, termasuk pesantren, Tamansiswa bukanlah pesantren. Tamansiswa lebih menekankan pada pendidikan umum yang berlandaskan nilai-nilai kebangsaan dan kebudayaan.
Tamansiswa memiliki tiga semboyan utama yang dikenal sebagai “among”, yaitu Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madya Mangun Karsa, dan Tut Wuri Handayani. Sama seperti pesantren, Tamansiswa bertujuan mencerdaskan bangsa, mempertebal keindonesiaan, dan mencapai kemerdekaan.
Ki Rahmat Fauzi, pimpinan Pondok Pesantren Ki Hadjar Dewantara, berkata lantang: “Saya meyakini, Ki Hadjar Dewantara adalah orang pesantren.” Dan beliau tidak sendirian. Kalau kita telaah secara jujur, seluruh sistem Tamansiswa sejak awal memang bercita rasa pesantren —bedanya hanya pada kosmetika istilah dan tata busana.
Mari kita bandingkan:
Di pesantren, Kyai sebagai pemimpin spiritual. Di Tamansiswa, Ki sebagai pamong dan pendidik. Di pesantren, santri mondok; di Tamansiswa, belajar mengabdi . Di pesantren, murid hidup di asrama; di Tamansiswa, murid belajar berbudaya.
Di pesantren, ada kitab kuning, tafsir, akhlak. Sementara di Tamansiswa, ada sastra Jawa, sejarah, budi pekerti. Di pesantren, sanri menghormati guru melebihi orang tua. Di Tamansiswa, pelajar _ing ngarso sung tulodho.
Di pesantren, ilmu sebagai cahaya, bukan komoditas, dan di Tamansiswa berlaku pendidikan sebagai alat pemerdekaan
Ternyata bedanya hanya di warna, tidak pada ruhnya. Ki Hadjar, tanpa sorban dan peci haji, adalah kyai pendidikan nasional. Ia mengaji filsafat Barat di satu sisi, namun menyisipkan nilai budi pekerti dan laku prihatin yang tak ubahnya lelaku pesantren.
Yang menarik dari Ponpes Ki Hadjar ini adalah target santrinya: para mahasiswa. Sebuah rekayasa sosial yang luar biasa, karena biasanya santri jadi mahasiswa. Tapi sekarang, setelah melewati jenjang S1, para sarjana diminta kembali “mondok” —agar tidak hanya pintar Google Scholar, tapi juga paham ilmu ngelmu kahanan.
Mungkin inilah kritik diam-diam Tamansiswa kepada dunia akademik hari ini: terlalu banyak kepala, terlalu sedikit hati. Maka didirikanlah pondok di tengah kampus keabadian Ki Hadjar, agar generasi post-TikTok ini bisa kembali mencium bau kitab dan sesekali mematikan ponsel saat mengaji.
Pertanyaannya kini: apakah pendirian ponpes ini murni kontinuitas nilai, atau justru respons terhadap kegelisahan modern? Bisa jadi, Tamansiswa —yang selama ini dipersepsikan sebagai sekolah nasionalis sekuler Jawa-sentris— merasa perlu menegaskan bahwa spiritualitas tidak pernah absen dari pendidikannya.
Kita hidup di zaman ketika pesantren dianggap benteng terakhir moral bangsa. Mungkin Tamansiswa pun ingin menunjukkan bahwa mereka tidak pernah kehilangan jati diri santri, hanya saja mereka menuliskannya dalam aksara Latin dan kadang dalam bentuk sandiwara panggung.
Barangkali inilah waktunya ki dan kyai bersatu kembali dalam satu laku pendidikan. Bukan sekadar rekonsiliasi istilah, tapi penyatuan visi bahwa pendidikan sejati adalah yang membebaskan jiwa, memerdekakan akal, dan menumbuhkan akhlak.
Perlu waktu satu abad lebih bagi Tamansiswa untuk “kembali ke pesantren”. Tapi kita tidak boleh menyikapinya sebagai keterlambatan. Lebih tepatnya, ini tanda bahwa pendidikan besar selalu menemukan jalannya kembali ke akar, bahkan bila harus melingkar dulu satu abad.
Dan kalau pun butuh 100 tahun untuk mendirikan pesantren, semoga tak perlu satu abad lagi untuk mencetak Kyai Hadjar Dewantara generasi baru. Salam hormat, dari santri Ki dan Kyai.
Catatan Cak AT – Ahmadie Thaha
Ma’had Tadabbur al-Qur’an, 8/7/2025

⇒Berita Seputar Pesantren. Kunjungi dan Follow Kami di ⇒ GOOGLE NEWS ⇐

You Might Also Like

Ini Penjelasan Densus 88 Anti Teror Terkait Pesantren Al-Zaytun

Pemerintah Sulsel akan Jalankan Program OPOP untuk Pesantren

Isbat Awal Zulhijjah 1441H Digelar 21 Juli, Rukyat Hilal di 84 Lokasi

Program dan Gerakan Pesantren Muadalah Terus Disosialisasikan

Wapres Imbau Pemda Gerakkan Pesantren Berdayakan Masyarakat

TAGGED:ki hajar dewantoropesantren tamansiswatamansiswa
Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Telegram Email Print
Jasa pembuatan website SEO

Follow US

Yuk Join Sosial Media
FacebookLike
InstagramFollow
YoutubeSubscribe
TelegramFollow

10 Berita Pilihan

Seputar Pesantren
memegang bara api

 Memegang Agama Terasa seperti Menggenggam Bara Api

Suara Pesantren Suara Pesantren 08/10/2026
Dulu Santri Panutan, Sekarang Lupa Jalan
Inilah 10 Tips Liburan Wisata Halal ke Eropa Barat Biar Berkesan
Ibadah Umroh Bersama Khadim Wisata, Travel Resmi di Bogor
Prabowo Gaungkan ‘Free Palestina’ di Kesyukuran 100 Tahun Pondok Gontor
Prabowo Apresiasi Nilai-nilai Pendidikan Pondok Modern Gontor
KKN-T Universitas Alma Ata Bekali Siswa SMA Ma’arif 1 Srumbung Cara Hindari Scam Digital
Inspirasi Gamis Muslimah Syar’i dengan Detail Feminin 
7 Alasan Menarik Mengapa Kuliah Kedokteran di Luar Negeri Jadi Pilihan Terbaik! 
1926: Ketika NU dan Gontor Menjawab Zaman

Jasa Blogroll & Publikasi

  • Suara Muslim
  • Seputar Masjid
  • Seputar Halal
  • Seputar Kuliner
  • Seputar Kesehatan
  • Promo UKM
  • Wisata Indonesia
  • Inilah Kita
  • Beasiswa Kampus
  • Indonesia Sentris
  • Seputar Rumah
  • Seputar Keamanan
  • Kota Surabaya
  • Info Nasional
  • Info Perkotaan
  • Info Bekasi
  • Market Daily
  • Berita Santai
  • Berita Tekno
  • Portal Mahasiswa
  • Media Outsourcing
  • Kirim Artikel
  • Pendidikan
  • Bisnis Daily

‎اَلسَلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَات ‎اَلسَلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ 

Salam Fathan Mubina, Salam Kemenangan…!
Kepada Ayah Bunda, yang Disayangi Allah SWT

Sebagai wujud kecintaan dan dukungan dakwah pendidikan melalui *Pesantren Ciawi Bogor Fathan Mubina*…
Kami dari Panitia Penerimaan Santri Baru ingin menyampaikan informasi ini sebagai pengingat dalam penyebaran informasi pendaftaran lembaga pendidikan yang berada dibawah asuhan Yayasan Pembangunan Umat Fathan Mubina. Terima Kasih 

Wassalamualaikum Wr. Wb.

@pesantrenfathanmubina @fathanmubinatv #santribaru
Follow on Instagram

FACEBOOK

Artikel Lainnya

menag resmikan dapur MBG pertama di Bone
NASIONAL

Resmikan Dapur MBG di Bone, Menag Dorong Gizi Santri dan Pembentukan Karakter

01/05/2026
NASIONAL

IBF 2023 Resmi Dibuka, Ribuan Santri Padati Istora Senayan Jakarta

20/09/2023
dewan dakwah
NASIONAL

Ketua DDII Adian Husaini Ungkap Kiprah Dewan Dakwah dalam Syiar dan Pendidikan

18/04/2026
Kesehatan

Menjaga Kelestarian Lingkungan yang Sehat di Pesantren

28/10/2024
KH Hodri Arief
NASIONAL

Tanggapi Kasus Kekerasan Santri, RMI PBNU Imbau Pesantren Perlu Instrospeksi

29/02/2024
NASIONAL

Menhaj Gus Irfan Lepas Keberangkatan PPIH, Ingatkan Komitmen Petugas Haji Melayani Jemaah Haji

23/04/2026
ponpes
KILAS PESANTRENNASIONAL

Go-Tren 2026 Resmi Dimulai, Kemenag Kebumen Perkuat Pesantren melalui Pembinaan Terpadu

25/07/2026
NASIONAL

BGN Tegas Pastikan Cabut Insentif SPPG yang Terkena ‘Suspend’

29/04/2026
Previous Next
  • Tentang SP
  • Redaksi
  • Jasa Publikasi
  • Disclaimer
  • Pedoman Siber
  • Kirim Artikel
logo suara pesantren logo suara pesantren

Suara Pesantren, media informasi seputar pesantren di Indonesia.
Yuk, support pengembangan website Suara Pesantren agar menjadi lebih baik. Untuk kerjasama, hubungi kami. Terima kasih. Jazakumullah.

© Suara Pesantren | Digital Media Labs
suara pesantren
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?