SUARAPESANTREN.COM | Jakarta--Sebanyak 337 Calon Asesor Pesantren Ikuti Ujian Psikotes. Senin, 9 Juni 2025 jadi hari yang cukup padat buat para calon asesor pendidikan pesantren. Mulai dari pagi sampai petang, mereka ikut psikotes daring yang diselenggarakan oleh Majelis Masyayikh.
Serius, ini bukan sekadar tes biasa—psikotes ini bagian dari tahapan penting dalam proses rekrutmen asesor pesantren yang punya misi besar: memperkuat mutu pendidikan pesantren, sesuai amanat dari UU No.18 Tahun 2019 tentang Pesantren.
Kenapa Harus Ada Psikotes?
Nggak cuma buat gaya-gayaan, psikotes ini jadi pintu masuk buat nyaring para calon asesor terbaik. Mereka yang ikut adalah para pendaftar yang udah lolos seleksi administrasi dan verifikasi, dari dua jenjang: Ma’had Aly dan Dikdasmen (alias Pendidikan Diniyah Formal dan Pesantren Muadalah, baik versi Salafiyah maupun Muallimin). Supaya hasilnya valid dan profesional, Majelis Masyayikh kerja bareng dengan tim jagoan dari Pusat Layanan Psikologi (PLP) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Pesan Penting dari Gus Rozin
Ketua Majelis Masyayikh, KH. Abdul Ghaffar Rozin alias Gus Rozin, buka suara soal pentingnya proses asesmen ini. Dalam sambutannya, beliau menegaskan, “Salah satu tugas utama Majelis Masyayikh adalah menyusun sistem penjaminan mutu pendidikan pesantren, melakukan pemantauan dan evaluasi terhadap implementasinya. Proses rekrutmen asesor ini adalah bagian dari upaya tersebut. Karena itu, kami mengajak seluruh elemen pesantren untuk ikut berpartisipasi.”
Jelas ya, asesmen ini bukan sekadar formalitas, tapi bagian dari upaya besar membangun sistem pendidikan pesantren yang solid. Walaupun Majelis Masyayikh bukan lembaga negara, perannya penting banget dalam menjaga kualitas pendidikan di pesantren. Gus Rozin percaya tiap pesantren pasti punya sistem mutu sendiri, tapi tetap perlu penyelarasan secara nasional supaya semuanya berjalan sinkron dan terarah.
Asesor Harus Orang Pesantren, Bukan Asal Bisa Ngetik
Menariknya lagi, Gus Rozin kasih highlight penting bahwa asesmen yang dilakukan tidak hanya kuantitatif, tetapi juga kualitatif dan substansial. “Karena itu, kami membutuhkan asesor dari kalangan pesantren, yang paham kultur, menguasai kitab kuning, bahasa Arab, dan dirasah Islamiyah, dan ini menjadi syarat penting.”
Jadi jelas, yang dicari bukan cuma orang yang pinter ngitung atau jago Excel, tapi orang-orang yang melek kitab, ngerti suasana pesantren, dan bisa memahami nuansa-nuansa khas pesantren. Karena pendidikan di pesantren itu punya jiwa, bukan sekadar angka.
Optimisme Gus Rozin: Pesantren Makin Pede Tampil di Depan
Melihat semangat para pendaftar, Gus Rozin juga kelihatan makin optimis: “Kita ingin membangun ekosistem pendidikan pesantren yang khas Indonesia, khas Nusantara. Ekosistem yang telah teruji berabad-abad dan mampu bertahan dari berbagai tantangan, baik eksternal seperti penjajahan, maupun internal seperti kebijakan yang tidak berpihak. Kini saatnya pesantren memberi kontribusi yang lebih besar lagi bagi bangsa dan negara.”
Wih, keren ya? Pesantren memang sudah teruji dari zaman ke zaman, dari masa penjajahan sampai era digital begini. Sekarang saatnya pesantren tampil sebagai pilar penting pendidikan nasional, bukan cuma jadi cadangan.
Jumlah Pendaftar: Ratusan! Bukti Nyata Tingginya Antusiasme
Yang daftar jadi calon asesor? Gak main-main, totalnya ada 424 pendaftar. Setelah seleksi administrasi dan verifikasi, tinggal 337 orang yang lanjut ikut psikotes. Rinciannya:
- 76 orang dari jenjang Ma’had Aly
- 261 orang dari jenjang Dikdasmen
Nah, hasil psikotes ini yang bakal menentukan siapa yang lanjut ke tahap berikutnya. Ini disampaikan langsung oleh Zeni Hafidotun Nisak, penanggung jawab Rekrutmen Asesor Majelis Masyayikh:
“Dengan jumlah pesantren di Indonesia yang mencapai puluhan ribu, tentu Majelis Masyayikh membutuhkan perpanjangan tangan dalam proses penilaian dan evaluasi,”
“Hasil psikotes akan menentukan siapa calon asesor yang akan lanjut ke tahap selanjutnya.”
Yup, prosesnya objektif dan transparan. Nggak ada istilah titip nama atau sogokan. Harapannya, para asesor yang terpilih nanti adalah mereka yang profesional, punya integritas, dan cinta pesantren.
Tujuan Akhir: Pendidikan Pesantren yang Keren dan Relevan
Misi dari rangkaian panjang ini cukup mulia: membangun pendidikan pesantren yang berkualitas, punya karakter kuat, dan berkontribusi nyata buat negeri ini. Sebab dalam dunia pendidikan yang makin kompleks, pesantren perlu hadir dengan standar mutu yang nggak cuma sesuai tradisi, tapi juga relevan dengan tantangan zaman.
Langkah Majelis Masyayikh ini layak diapresiasi. Nggak cuma memikirkan sistem, tapi juga mikirin sumber daya manusia di baliknya—yakni para asesor—yang jadi ujung tombak dalam menjaga kualitas pendidikan pesantren dari Sabang sampai Merauke.[]

