Portalmahasiswa.com – Kesadaran akan pentingnya kesehatan mental di lingkungan pesantren terus mengalami perkembangan. Jika dahulu pesantren lebih dikenal sebagai pusat pendidikan keagamaan, kini banyak lembaga pendidikan Islam yang mulai memperkuat perannya sebagai ruang pengasuhan yang memperhatikan kesejahteraan psikologis santri.
Berbagai praktik baik dalam penanganan luka psikologis santri dibagikan dalam kegiatan “Diseminasi Pedoman Penyelenggaraan Pesantren Sehat” yang berlangsung di Depok pada 18–21 Mei 2026. dilansir dari kemenag.go.id
Kegiatan tersebut diselenggarakan oleh Kementerian Kesehatan bekerja sama dengan Asian Development Bank (ADB) dan Kementerian Agama melalui Direktorat Pesantren.
Melalui forum tersebut, sejumlah pesantren memperlihatkan bagaimana pendekatan humanis, kolaboratif, dan berbasis nilai-nilai keislaman mampu menjadi solusi dalam mendampingi kesehatan mental santri.
Al Amanah Sidoarjo Padukan Terapi Spiritual dan Pendampingan Profesional
Salah satu praktik baik datang dari Pesantren Modern Al Amanah Junwangi, Sidoarjo, Jawa Timur. Pesantren ini mengembangkan pendekatan yang menggabungkan terapi spiritual, edukasi kesehatan mental, serta pendampingan profesional.
Kegiatan spiritual dilakukan melalui pembiasaan membaca Al-Qur’an, salat sunnah, dzikir rutin, hingga praktik riyadhah bathiniyah bersama Jam’ah Syadziliyah.
“Pendekatan ini diyakini mampu membantu santri memperoleh ketenangan jiwa dan kestabilan emosi,” terang Direktur Pesantren Basnang Said di Jakarta, Jumat (29/5/2026).
Selain penguatan spiritual, Al Amanah juga aktif mengembangkan program Pertolongan Pertama pada Luka Psikologis (P3LP) bekerja sama dengan Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) dan Kementerian Kesehatan. Program ini membekali pengasuh, guru, serta santri dengan kemampuan mendeteksi dini dan memberikan pertolongan emosional awal bagi individu yang mengalami tekanan psikologis.
“Penguatan literasi kesehatan mental juga dilakukan melalui seminar dan edukasi bertema kesehatan mental remaja, termasuk kegiatan “Smart Living: Healthy Mind and Body” yang melibatkan psikolog maupun aparat kepolisian,” ujar Basnang.
Untuk kasus yang membutuhkan penanganan lebih lanjut, pesantren juga menjalin kerja sama dengan fasilitas kesehatan dan layanan psikologi profesional, termasuk RSUD Sidoarjo Barat.
“Untuk kasus yang membutuhkan penanganan lebih mendalam, pesantren turut bekerja sama dengan fasilitas kesehatan dan layanan psikologi profesional di wilayah Sidoarjo, termasuk RSUD Sidoarjo Barat,” sambungnya.
Pendampingan Intensif di Dar El Hikmah Pekanbaru
Praktik serupa juga diterapkan Pondok Pesantren Dar El Hikmah Pekanbaru, Riau. Pesantren yang berada di bawah naungan Yayasan Nur Iman ini menempatkan guru agama dan pengasuh sebagai garda terdepan dalam menjaga kesehatan mental santri.
Pendekatan yang dilakukan berfokus pada bimbingan emosional berbasis nilai-nilai Islam, penguatan hubungan yang suportif antara pengasuh dan santri, serta deteksi dini terhadap perubahan perilaku maupun tekanan psikologis yang mungkin dialami peserta didik.
“Melalui sistem pengawasan dan pendampingan yang intensif, pesantren berupaya menciptakan lingkungan asrama yang aman dan penuh empati bagi para peserta didik,” sebut Basnang.
Ar Risalah Padang Hadirkan Sistem Pendampingan Komprehensif
Sementara itu, Perguruan Islam Ar Risalah Padang, Sumatera Barat, mengembangkan sistem penanganan kesehatan mental yang lebih menyeluruh melalui pendekatan psikososial, spiritual, dan penguatan sistem asrama.
Pesantren yang pernah meraih penghargaan Pesantren Ramah Anak Terbaik se-Sumatera Barat tersebut menyediakan layanan bimbingan konseling rutin melalui tim konselor serta pembina asrama (musyrif dan musyrifah) yang telah mendapatkan pelatihan khusus.
Penguatan spiritual dilakukan melalui salat berjamaah, zikir, muhasabah, serta pembinaan karakter yang bertujuan membantu proses pemulihan luka batin santri. Selain itu, program mentoring kelompok kecil juga rutin digelar sebagai sarana pemantauan adaptasi santri, pengelolaan stres, dan penguatan dukungan sosial antarsantri.
“Ar Risalah juga menerapkan pola pengawasan humanis berbasis sistem boarding untuk mencegah perundungan dan menciptakan ruang tumbuh yang aman, nyaman, dan sehat secara emosional,” tutur Basnang.
Menuju Pesantren yang Inklusif dan Berdaya Pulih
Berbagai praktik yang diterapkan di sejumlah pesantren tersebut menunjukkan perubahan paradigma dalam dunia pendidikan pesantren. Tidak hanya fokus pada pembelajaran agama, pesantren kini semakin memberi perhatian pada kesehatan mental dan perlindungan anak secara menyeluruh.
Menurut Basnang, perpaduan antara pendekatan spiritual dan pendampingan psikologis profesional menjadi model penting dalam membangun pesantren yang ramah anak, inklusif, serta mampu membantu generasi muda menghadapi berbagai tantangan psikologis di era modern.
Dengan lingkungan yang lebih aman, suportif, dan penuh empati, pesantren diharapkan mampu menjadi tempat tumbuh yang sehat, tidak hanya bagi kecerdasan intelektual dan spiritual santri, tetapi juga bagi kesehatan mental mereka.

