Suarapesantren.com |- Ketersediaan air bersih masih menjadi tantangan serius di berbagai wilayah Indonesia, termasuk di lingkungan lembaga pendidikan keagamaan yang memiliki jumlah penghuni cukup besar. Keterbatasan akses terhadap air bersih dan air minum yang layak tidak hanya berdampak pada kenyamanan, tetapi juga berpengaruh langsung terhadap kesehatan serta aktivitas belajar para santri.
Berangkat dari persoalan tersebut, Sekolah Air Hujan (SAH) Banyu Bening Sleman menjalin kolaborasi dengan Pondok Pesantren Darul Ilmi Wadda’wah di Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Kerja sama ini bertujuan membangun sistem kemandirian air berbasis pemanenan air hujan sebagai solusi berkelanjutan untuk memenuhi kebutuhan air bersih dan air minum di lingkungan pesantren.
Program tersebut menjadi salah satu bentuk inovasi pemanfaatan sumber daya alam yang selama ini sering terabaikan. Air hujan yang sebelumnya hanya mengalir dan terbuang begitu saja kini diolah menjadi sumber air yang aman dan bermanfaat bagi ratusan penghuni pesantren.
Menjawab Tantangan Akses Air Bersih di Lingkungan Pesantren
Pondok Pesantren Darul Ilmi Wadda’wah diketahui menampung sekitar 500 santri dan 100 tenaga pengajar. Jumlah penghuni yang cukup besar membuat kebutuhan air bersih menjadi sangat tinggi setiap harinya.
Namun, keterbatasan pasokan air bersih yang layak konsumsi selama ini menjadi kendala utama yang dihadapi pesantren. Kondisi tersebut bahkan memunculkan sejumlah persoalan kesehatan yang cukup mengganggu aktivitas para santri.
Melihat kondisi tersebut, SAH Banyu Bening Sleman hadir dengan menawarkan solusi berbasis teknologi tepat guna yang mudah diterapkan dan berkelanjutan.
Pendiri SAH Banyu Bening Sleman, Sri Wahyuningsih, menuturkan bahwa permasalahan akses air bersih merupakan persoalan mendasar yang perlu segera ditangani karena berkaitan langsung dengan kualitas hidup para santri.
“Masalah utama di Pondok Pesantren Darul Ilmi Wadda’wah yang menampung sekitar 500 santri dan 100 pengajar ini adalah akses air bersih, terutama untuk pemenuhan kebutuhan air minum harian yang layak konsumsi. Keterbatasan akses air bersih inilah yang selama ini menjadi kendala utama kesehatan para santri, sehingga mereka kerap mengalami dehidrasi dan penyakit gatal-gatal pada kulit. Air hujan merupakan sumber daya alam yang melimpah di Indonesia namun belum dimanfaatkan secara maksimal, padahal dengan pengelolaan sains yang tepat, air hujan bisa menjadi alternatif utama sumber air bersih bahkan air minum massal,” ujar Sri Wahyuningsih saat memberikan keterangan pers di markasnya, Kapanewon Ngaglik, Sleman, pada Kamis (4/6/2026). Seperti Dilansir mediacenter.slemankab.go.id
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa pemanfaatan air hujan bukan sekadar alternatif, melainkan dapat menjadi solusi nyata dalam mengatasi krisis air bersih di berbagai wilayah.
Mengenal Teknologi ISLAH sebagai Solusi Inovatif
Dalam program ini, tim teknis memperkenalkan teknologi terbaru bernama ISLAH atau Instalasi Sistem Lumbung Air Hujan. Teknologi tersebut dipadukan dengan mesin elektrolisa air yang mampu mengolah air hujan menjadi air minum berkualitas.
Sistem ini dirancang untuk menangkap air hujan yang jatuh di area atap bangunan pesantren, kemudian menyalurkannya ke dalam sistem penyaringan bertingkat sebelum akhirnya disimpan dalam lumbung penampungan berkapasitas besar.
Setelah melalui proses penyaringan, air kemudian diolah menggunakan teknologi elektrolisa untuk meningkatkan kualitasnya sehingga aman dikonsumsi.
Menurut Sri Wahyuningsih, sistem ini dirancang secara terintegrasi dan mudah dioperasikan oleh masyarakat, termasuk para santri.
Teknologi tersebut menjadi salah satu contoh penerapan sains sederhana yang mampu memberikan manfaat besar bagi kehidupan sehari-hari.
Pemanfaatan Air Hujan yang Lebih Maksimal
Indonesia merupakan negara dengan curah hujan yang relatif tinggi sepanjang tahun. Sayangnya, potensi tersebut belum dimanfaatkan secara optimal sebagai sumber air alternatif.
Padahal, apabila dikelola dengan baik, air hujan dapat menjadi cadangan air yang sangat berharga, terutama saat musim kemarau atau ketika sumber air tanah mengalami penurunan kualitas maupun kuantitas.
Melalui teknologi ISLAH, air hujan yang sebelumnya hanya menjadi limpasan kini dapat ditampung dan dimanfaatkan secara produktif.
Selain membantu memenuhi kebutuhan air bersih, sistem ini juga berpotensi mengurangi risiko genangan dan banjir karena sebagian air hujan dapat disimpan dan digunakan kembali.
Biaya Operasional Rendah dan Ramah Lingkungan
Salah satu keunggulan utama teknologi ISLAH adalah biaya operasional yang relatif rendah. Sistem ini dirancang agar mudah dirawat dan tidak membutuhkan teknologi yang rumit.
Dengan demikian, pesantren dapat mengelola instalasi secara mandiri tanpa ketergantungan tinggi terhadap pihak luar.
Pendekatan ini dianggap sangat relevan di tengah tantangan perubahan iklim yang berdampak pada ketersediaan sumber air konvensional.
Selain itu, sistem pemanenan air hujan juga mendukung prinsip konservasi lingkungan karena membantu mengurangi eksploitasi air tanah yang selama ini menjadi sumber utama kebutuhan masyarakat.
Pesantren sebagai Pusat Edukasi Lingkungan
Lebih dari sekadar penyediaan air bersih, program ini juga membawa misi pendidikan lingkungan bagi para santri.
Sri Wahyuningsih menilai bahwa pesantren memiliki potensi besar untuk menjadi pusat edukasi konservasi air dan pengelolaan lingkungan berkelanjutan.
“Pesantren memiliki potensi spasial yang sangat besar dalam penerapan teknologi ISLAH karena umumnya didukung oleh bentangan area atap bangunan yang luas sebagai media penangkap air alami. Melalui dukungan sistem lumbung ini, air hujan yang melimpah tidak akan lagi memicu banjir, melainkan diamankan untuk memenuhi kebutuhan domestik santri maupun pengelola pesantren. Kami juga ingin membangun kesadaran kolektif mengenai konservasi air sejak dini, di mana pesantren bertindak sebagai pusat edukasi lingkungan yang efektif dalam membentuk karakter generasi muda yang peduli ekologi,” kata Wahyuningsih menambahkan.
Melalui pendekatan tersebut, para santri tidak hanya memperoleh manfaat berupa akses air bersih, tetapi juga mendapatkan pemahaman mengenai pentingnya menjaga lingkungan dan memanfaatkan sumber daya alam secara bijak.
Menuju Kemandirian Air Berbasis Komunitas
Pemasangan teknologi ISLAH dan transfer pengetahuan yang dilakukan oleh SAH Banyu Bening Sleman mendapat respons positif dari pengelola Pondok Pesantren Darul Ilmi Wadda’wah.
Program ini diharapkan menjadi model yang dapat direplikasi oleh pesantren maupun lembaga pendidikan lainnya di berbagai daerah Indonesia.
Dengan memanfaatkan potensi air hujan yang melimpah, pesantren dapat membangun sistem kemandirian air secara swadaya tanpa harus bergantung sepenuhnya pada pasokan air komersial maupun sumur dalam yang ketersediaannya semakin tidak menentu.
Kolaborasi antara SAH Banyu Bening Sleman dan Pondok Pesantren Darul Ilmi Wadda’wah menjadi contoh nyata bagaimana inovasi sederhana dapat menghadirkan solusi besar bagi kebutuhan dasar masyarakat. Di tengah tantangan perubahan iklim dan meningkatnya kebutuhan air bersih, pemanenan air hujan berbasis teknologi tepat guna berpotensi menjadi salah satu jawaban untuk menciptakan masa depan yang lebih berkelanjutan.

