Suarapesantren.com | Majelis Masyayikh menyelenggarakan Workshop Penyusunan Desain Pelatihan Asesor Penjaminan Mutu Eksternal di Kota Bogor selama tiga hari, mulai 16-18 Juli 2025. Kegiatan ini merupakan bagian dari tahapan strategis dalam mempersiapkan pelatihan bagi calon asesor yang akan terlibat dalam proses penjaminan mutu pendidikan pesantren. Kegiatan ini dihadiri oleh para penyusun dokumen Sistem Penjaminan Mutu (SPM) pendidikan pesantren, para tenaga ahli, tenaga asisten, serta sekretariat Majelis Masyayikh.
Kepala Sekretariat Majelis Masyayikh, Basnang Said, menegaskan bahwa pelatihan asesor harus memiliki distingsi yang jelas dari program-program serupa yang dimiliki oleh kementerian lain.
“Dalam merumuskan dokumen atau modul pelatihan asesor ini, kita perlu menegaskan distingsi dengan apa yang dimiliki oleh Kementerian lain. Asesmen pendidikan pesantren harus mencerminkan kekhasan pesantren,” tegas Basnang.
Menurut Basnang yang juga ex-officio Direktur Pesantren, penggunaan istilah khas pesantren dalam modul pelatihan menjadi bagian penting untuk memperkuat identitas dan nilai-nilai pesantren dalam setiap proses asesmen.
“Ini penting agar asesmen yang kita hasilkan benar-benar merepresentasikan sistem pendidikan pesantren yang memiliki karakter dan sistem nilai tersendiri,” tutur Basnang.
Zeni Hafidotun Nisak, Tenaga Ahli Majelis Masyayikh sekaligus penanggung jawab agenda, menjelaskan bahwa workshop ini merupakan kelanjutan dari proses panjang yang telah dimulai sejak Mei 2025.
“Agenda workshop penyusunan desain pelatihan asesor ini merupakan bagian dari rangkaian proses panjang yang telah kita lakukan. Sejak Mei lalu, proses rekrutmen asesor sudah dimulai dan pada bulan Juni lalu kita telah menetapkan nama-nama yang lolos seleksi,” ujar Zeni.
Menurutnya, para asesor yang akan diterjunkan ke lapangan perlu dibekali tidak hanya dengan pemahaman konseptual, tetapi juga keterampilan teknis agar mampu memahami secara utuh sistem penjaminan mutu pendidikan pesantren.
“Kita perlu menyusun satu konsep pelatihan yang betul-betul bisa meng-capture kebutuhan Majelis Masyayikh dalam rangka menjamin mutu eksternal pendidikan pesantren. Kita perlu mendefinisikan kualifikasi ideal seorang asesor, menyusun struktur kurikulum, dan mendiskusikan pendekatan yang tepat,” tambahnya.
Modul yang disusun nantinya dapat menjadi panduan yang komprehensif selama proses asesmen, serta menjaga agar pelaksanaan di lapangan benar-benar sesuai dengan tujuan penjaminan mutu pendidikan pesantren.
Senada dengan itu, M. Nafies Husnie, Tenaga Ahli Majelis Masyayikh, mengungkapkan bahwa proses rekrutmen asesor telah menghasilkan kurang lebih 70 calon asesor yang siap mengikuti pelatihan, dari total 429 pendaftar.
“Jumlah pendaftar asesor yang masuk ke kami sebanyak 429 orang, dengan kualifikasi minimal pendidikan magister untuk Dikdasmen dan pendidikan doktoral untuk Ma’had Aly. Setelah melalui tahapan seleksi administrasi, psikotes, hingga wawancara, terdapat kurang lebih 70 calon asesor yang dinyatakan lolos,” jelas Nafies.
Ia juga menekankan bahwa dalam penyusunan desain pelatihan ini, Majelis Masyayikh turut mengundang para penyusun dokumen Sistem Penjaminan Mutu (SPM) guna membangun sanad asesmen dalam konteks pendidikan pesantren.
“Sanad asesmen dalam konteks pendidikan pesantren itu sendiri masih belum ada. Karena itu, penting untuk memastikan bahwa modul pelatihan tidak keluar dari jalur atau semangat yang telah dibangun melalui undang-undang dan regulasi pendidikan pesantren,” imbuhnya.
Workshop ini diharapkan menghasilkan desain pelatihan yang relevan dan kontekstual, serta mampu menjadi fondasi utama bagi pelaksanaan penjaminan mutu eksternal di lingkungan pesantren ke depan. Para asesor nantinya akan menjadi ujung tombak dalam pelaksanaan asesmen mutu eksternal di pendidikan pesantren.[]

