Pengasuh Pondok Pesantren Mukmin Mandiri di Waru, Sidoarjo, Prof. Dr. KH. Muhammad Zakki, Drs., S.H., M.Si., C.Med., CICSS., resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar bidang Manajemen Strategik dalam sidang senat terbuka Universiti Geomatika Malaysia (UGM), Melaka.
Pengukuhan tersebut menjadi salah satu momentum penting dalam perjalanan akademik Kyai Zakki. Tidak hanya menandai pencapaian akademiknya, momen tersebut juga memperkuat kiprahnya dalam pengembangan manajemen strategik, khususnya yang berkaitan dengan pemberdayaan ekonomi pesantren.
Sidang senat dipimpin Academic Figure sekaligus Board of Directors DMDI Malaysia, Tan Sri Prof. Datuk Wira Dr. Abdul Latief Abu Bakar. Sejumlah pimpinan Universiti Geomatika Malaysia turut hadir, di antaranya Vice Chancellor Prof. Datuk IS. Dr. Masrin Rohizaq Che Rose beserta jajaran pimpinan akademik dan Centre of Postgraduate Studies.
Prosesi pengukuhan juga dihadiri sekitar 150 akademisi dan pimpinan perguruan tinggi dari Indonesia dan Malaysia yang tergabung dalam ASEAN Academic Association (ASEANACA).
Presiden ASEANACA Prof. Dr. Tulus Suryanto, M.M Ak., CA., yang juga Director Graduate Studies UIN Raden Intan Lampung, turut memberikan dukungan terhadap pengukuhan tersebut.
Bawa Gagasan Pesantren Entrepreneur
Sejumlah akademisi Indonesia turut hadir dalam agenda tersebut, di antaranya Prof. Dr. KH. Nursyam M.Si., Prof. Dr. KH. Babun Suharto, Prof. Dr. H. Sugiyanto, S.H., M.H., Prof. Dr. Bambang Haryadi, M.Si., Ak., CA., CFrA., dan Prof. Dr. Evi Ghozaly, M.Pd.
Dalam pengukuhan tersebut, Kyai Zakki menyampaikan orasi ilmiah berjudul “Ekosistem Usaha Pesantren Entrepreneur: Transformasi Pesantren dari Pusat Pendidikan Agama Menjadi Motor Penggerak dan Pusat Ekonomi Umat.”
Melalui orasi itu, ia menyoroti pentingnya memperluas peran pesantren. Pesantren tidak hanya diharapkan menjadi lembaga pendidikan agama, tetapi juga mampu membangun ekosistem ekonomi yang memberikan manfaat bagi santri dan masyarakat sekitar.
Menurut Kyai Zakki, santri perlu memiliki kemampuan yang seimbang antara pemahaman agama dan kemandirian ekonomi.
“Jika dulu pesantren mencetak santri yang alim, maka hari ini pesantren harus mencetak Santripreneur yang alim dan mandiri secara ekonomi. Tidak hanya tafaqqquh fi diin (memahami agama) tetapi juga tafaqquh fi tijaarah (memahami dan mengerti dagang),” ujarnya, Senin (5/10/2026).
Mendorong Kemandirian Ekonomi Pesantren
Gagasan tersebut menjadi bagian dari fokus pemikiran Kyai Zakki dalam bidang manajemen strategik. Ia mendorong terbentuknya ekosistem usaha pesantren yang dapat memperkuat kemandirian ekonomi sekaligus membuka peluang pemberdayaan masyarakat.
Konsep Pesantren Entrepreneur yang dikembangkan menempatkan sumber daya manusia dan potensi ekonomi pesantren sebagai bagian penting dalam pembangunan berkelanjutan. Santri tidak hanya dibekali pemahaman keagamaan, tetapi juga didorong memiliki kemampuan untuk berwirausaha dan mengembangkan potensi ekonomi.
Pengukuhan sebagai Guru Besar di Universiti Geomatika Malaysia sekaligus membawa gagasan mengenai pengembangan ekonomi pesantren ke ruang akademik internasional. Hal tersebut menjadi kesempatan untuk memperkenalkan model pemberdayaan pesantren yang mengintegrasikan pendidikan, kewirausahaan, dan kemandirian ekonomi.
Dengan pendekatan tersebut, pesantren diharapkan dapat terus berkembang sebagai pusat pendidikan sekaligus menjadi salah satu penggerak ekonomi umat. Gagasan Santripreneur pun menjadi semakin relevan di tengah kebutuhan generasi muda untuk memiliki bekal keagamaan, keterampilan, serta kemandirian dalam menghadapi tantangan ekonomi.

