Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) Sulawesi Tengah terus mendorong kemandirian ekonomi pondok pesantren melalui pengembangan unit usaha dan pendampingan kewirausahaan. Langkah ini diharapkan dapat memperkuat sumber pendapatan pesantren sekaligus membekali santri dengan keterampilan yang berguna untuk masa depan.
Pengembangan usaha dilakukan melalui kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk Bank Indonesia. Dukungan tersebut mencakup bantuan pengembangan unit usaha, pelatihan, hingga pendampingan untuk memenuhi kebutuhan administrasi dan legalitas usaha.
Kepala Bidang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan Islam Kanwil Kemenag Sulawesi Tengah, Ihsan, menjelaskan bahwa sejumlah pesantren telah menerima dukungan untuk mengembangkan usaha produktif.
“Beberapa pesantren sudah mendapatkan bantuan untuk mengembangkan usaha, di antaranya usaha laundry dan air minum dalam kemasan,” ujarnya saat ditemui RRI di ruang kerjanya, Selasa 20 Oktober 2026.
Pesantren Kembangkan Usaha Produktif
Salah satu pesantren yang mengembangkan unit usaha adalah Pondok Pesantren Madinatul Ilmi. Lembaga ini menjalankan usaha laundry yang memiliki permintaan cukup tinggi. Bahkan, layanan tersebut masih berupaya memenuhi kebutuhan laundry di lingkungan pesantren sendiri.
Selain laundry, Pondok Pesantren Madinatul Ilmi juga mengembangkan usaha air minum dalam kemasan. Diversifikasi usaha tersebut menjadi salah satu upaya untuk memperluas sumber pendapatan lembaga melalui kegiatan ekonomi produktif.
Sementara itu, Pondok Pesantren Raudhatul Mustofa Lil Khairat mengembangkan usaha produksi roti dengan dukungan Bank Indonesia. Pendampingan yang diberikan tidak hanya berfokus pada proses produksi, tetapi juga mencakup pelatihan, pengurusan perizinan, serta sertifikasi halal.
Dukungan tersebut penting agar usaha yang dijalankan pesantren dapat berkembang secara lebih terarah dan memenuhi ketentuan yang diperlukan. Dengan pengelolaan yang baik, unit usaha pesantren berpeluang menjadi sumber pendapatan sekaligus ruang pembelajaran kewirausahaan bagi para santri.
Program Inkubasi Perluas Peluang Usaha
Selain memberikan dukungan kepada unit usaha tertentu, Kanwil Kemenag Sulawesi Tengah juga memiliki program inkubasi usaha bagi pondok pesantren. Salah satu bentuk pengembangannya adalah mendorong pendirian minimarket di sejumlah pesantren.
Program tersebut telah berjalan sejak 2021 sebagai bagian dari upaya memperkuat kemampuan pesantren dalam mengelola kegiatan ekonomi secara mandiri. Melalui program inkubasi, pesantren diharapkan dapat mengembangkan usaha sesuai dengan potensi dan kebutuhan masing-masing.
Ihsan menyebutkan, Sulawesi Tengah memiliki sekitar 140 pondok pesantren yang telah mengantongi izin operasional. Namun, belum seluruh pesantren mendapatkan dukungan pengembangan usaha. Kondisi ini menunjukkan bahwa peluang pemberdayaan ekonomi pesantren masih terbuka luas.
Perluasan pendampingan menjadi salah satu langkah yang dapat membantu lebih banyak pesantren membangun unit usaha produktif. Dengan begitu, penguatan ekonomi tidak hanya terpusat pada lembaga yang sudah memperoleh bantuan, tetapi juga dapat menjangkau pesantren lainnya.
Kewirausahaan sebagai Bekal Masa Depan Santri
Meski pengembangan ekonomi terus didorong, pesantren tetap memiliki fungsi utama sebagai lembaga pendidikan agama. Ihsan menegaskan pentingnya menjaga peran pesantren sebagai tempat tafaqquh fiddin, yakni pendalaman ilmu agama.
Di sisi lain, santri juga perlu dibekali keterampilan hidup dan pengetahuan kewirausahaan. Bekal tersebut diharapkan membantu mereka menjadi pribadi yang mandiri setelah menyelesaikan pendidikan, baik ketika memasuki dunia kerja maupun saat merintis usaha sendiri.
Pengembangan unit usaha pesantren pun tidak semata-mata berorientasi pada keuntungan. Kegiatan ini dapat menjadi sarana pembelajaran mengenai tanggung jawab, pengelolaan usaha, pelayanan, dan kemandirian.
Ke depan, Kanwil Kemenag Sulawesi Tengah berharap kolaborasi dengan berbagai pihak dapat terus diperluas. Melalui dukungan yang berkelanjutan, pesantren diharapkan mampu memperkuat perekonomian lembaga, membuka peluang usaha, serta memberikan manfaat bagi masyarakat di sekitarnya tanpa meninggalkan peran utamanya dalam pendidikan keagamaan.

