Pondok Pesantren Sunan Drajat Lamongan ikut ambil bagian dalam Expo dan Bazar Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) yang berlangsung di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur. Kehadiran pesantren dalam ajang tersebut bukan sekadar untuk meramaikan kegiatan, tetapi juga menjadi momentum memperkenalkan karya santri sekaligus memperlihatkan geliat kemandirian ekonomi pesantren.
Berbagai produk hasil pengembangan unit perekonomian Pondok Pesantren Sunan Drajat ditampilkan kepada para pengunjung. Melalui kegiatan ini, masyarakat dapat melihat bahwa lingkungan pesantren tidak hanya menjadi ruang untuk menimba ilmu agama, tetapi juga tempat tumbuhnya kreativitas, keterampilan, dan semangat kewirausahaan para santri.
Penjaga stan Pondok Pesantren Sunan Drajat, Mohammad Sena Horison, mengatakan keikutsertaan dalam expo dan bazar menjadi kesempatan untuk memperkenalkan potensi santri kepada masyarakat secara lebih luas.
“Kami tidak hanya menawarkan lembaga pendidikan, tetapi juga membawa produk-produk yang dibuat oleh santri sendiri. Di Pondok Pesantren Sunan Drajat terdapat bidang perekonomian yang menjadi wadah untuk mengembangkan produk kreatif santri,” katanya, Kamis (27/08/2026).
Beragam Produk Karya Santri Dipamerkan
Stan Pondok Pesantren Sunan Drajat menghadirkan beragam produk yang cukup dekat dengan kebutuhan masyarakat. Produk tersebut antara lain sembako, buku yang mengulas kiprah dan biografi kiai, hingga berbagai kebutuhan fesyen muslim.
Pengunjung dapat menemukan jilbab, sarung, songkok, serta beragam busana muslim lainnya. Kehadiran produk-produk tersebut menjadi gambaran mengenai bagaimana kreativitas santri dapat diarahkan menjadi sesuatu yang memiliki nilai guna sekaligus nilai ekonomi.
Sena menjelaskan, produk yang dipamerkan merupakan bagian dari upaya pesantren memberikan ruang kepada santri untuk mengembangkan kemampuan dan potensi yang mereka miliki. Pendidikan santri tidak hanya diarahkan pada aspek keagamaan maupun akademik, tetapi juga dilengkapi keterampilan praktis.
Pembekalan tersebut menjadi semakin penting di tengah perubahan kebutuhan dunia kerja. Santri diharapkan memiliki bekal yang cukup ketika nantinya menyelesaikan pendidikan dan memilih untuk bekerja, berwirausaha, maupun berkontribusi di tengah masyarakat.
“Santri Sunan Drajat selain menuntut ilmu di sekolah hingga perguruan tinggi juga diajarkan soft skills. Pembekalan ini melatih mereka agar memiliki kemampuan ketika terjun ke dunia kerja,” ujarnya.
Ekonomi Pesantren dengan Semangat Beramal
Pengembangan usaha di Pondok Pesantren Sunan Drajat juga memiliki filosofi tersendiri. Perekonomian pesantren mengusung semboyan “Bekerja Sambil Beramal.” Prinsip tersebut menjadi landasan agar kegiatan ekonomi yang dijalankan tidak berhenti pada pencapaian keuntungan semata.
Aktivitas usaha diarahkan untuk memberikan manfaat yang lebih luas, terutama bagi keberlangsungan pendidikan dan kesejahteraan para santri. Dengan demikian, roda perekonomian pesantren memiliki keterkaitan erat dengan kegiatan pendidikan yang berlangsung di dalamnya.
Menurut Sena, masyarakat yang membeli produk karya santri secara tidak langsung ikut memberikan dukungan terhadap keberlangsungan pendidikan di Pondok Pesantren Sunan Drajat. Sebagian pendapatan dari aktivitas ekonomi tersebut dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan para santri.
“Bekerja Sambil Beramal menjadi semboyan kami di perekonomian Sunan Drajat. Ketika masyarakat membeli produk santri, secara tidak langsung mereka turut mendukung pendidikan dan kehidupan santri,” tuturnya.
Konsep tersebut memperlihatkan bahwa produk pesantren tidak hanya memiliki fungsi sebagai barang konsumsi. Di balik setiap produk yang dibeli, terdapat proses pendidikan, kreativitas santri, serta kontribusi terhadap keberlanjutan lembaga pendidikan.
Dorong Akses Pendidikan melalui Beasiswa
Kemandirian ekonomi pesantren juga diarahkan untuk mendukung akses pendidikan. Salah satu bentuk dukungannya diwujudkan melalui berbagai program beasiswa bagi santri.
Perekonomian Pesantren Sunan Drajat turut mendukung pemberian beasiswa pendidikan, termasuk beasiswa gratis yang diberikan mulai dari jenjang sekolah hingga perguruan tinggi tingkat sarjana (S1).
Program tersebut menjadi salah satu contoh bagaimana aktivitas ekonomi dapat dikembangkan untuk memperluas manfaat sosial. Dengan adanya dukungan tersebut, kesempatan memperoleh pendidikan diharapkan semakin terbuka bagi santri yang membutuhkan.
Pola seperti ini sekaligus menunjukkan bahwa pemberdayaan ekonomi pesantren memiliki potensi besar untuk berjalan berdampingan dengan misi pendidikan. Usaha yang dikelola secara produktif dapat menjadi salah satu sumber pendukung berbagai program sosial dan pendidikan.
Kreativitas Santri Bisa Menjadi Kekuatan Ekonomi
Sena melihat potensi ekonomi pesantren semakin terbuka seiring dengan berkembangnya kreativitas generasi santri. Menurutnya, santri saat ini memiliki karakter produktif dan kreatif yang dapat diarahkan untuk menghasilkan berbagai produk bernilai ekonomi.
“Santri pada zaman sekarang memiliki jiwa produktif dan kreatif. Jika kreativitas itu dikembangkan dengan baik, maka akan menghasilkan produk-produk yang berkualitas,” tuturnya.
Pandangan tersebut menjadi penting karena perkembangan teknologi dan perubahan pola ekonomi membuka peluang baru bagi generasi muda. Santri tidak hanya dapat menjadi konsumen, tetapi juga memiliki kesempatan menjadi produsen, kreator, maupun pelaku usaha.
Pesantren pun dapat mengambil peran sebagai ruang pengembangan keterampilan tersebut. Dengan pendampingan yang tepat, kemampuan santri dapat diarahkan menjadi produk kreatif yang memiliki daya saing dan mampu menjangkau pasar lebih luas.
Menjaga Tradisi, Mengikuti Perkembangan Zaman
Sebagai mahasiswa Universitas Sunan Drajat Lamongan, Sena berharap pesantren di berbagai daerah semakin serius membekali santri dengan keterampilan yang sesuai dengan perkembangan zaman.
Namun, ia menilai modernisasi pendidikan pesantren tidak berarti harus menghilangkan akar tradisi keilmuan yang telah diwariskan selama berabad-abad. Penguasaan kitab-kitab kuning serta penghormatan terhadap keilmuan ulama terdahulu tetap menjadi bagian penting dari identitas pendidikan pesantren.
Di sisi lain, santri juga perlu memiliki keterampilan praktis yang relevan dengan kebutuhan masyarakat dan dunia kerja. Keseimbangan antara tradisi dan inovasi menjadi kunci agar pesantren mampu mencetak generasi yang memiliki fondasi keilmuan kuat sekaligus adaptif.
“Pesantren harus mulai membekali santri dengan kemampuan yang sesuai dengan kebutuhan zaman. Namun, kita tidak boleh meninggalkan kitab-kitab kuning dan ulama terdahulu. Kita harus tetap menjaga tradisi keilmuan pesantren sekaligus mengikuti perkembangan zaman,” pungkasnya.
Keikutsertaan Pondok Pesantren Sunan Drajat dalam Expo dan Bazar Muktamar ke-35 NU akhirnya menjadi lebih dari sekadar ajang promosi. Kegiatan tersebut memperlihatkan wajah pesantren yang terus bergerak, mengembangkan kreativitas santri, membangun kemandirian ekonomi, sekaligus mempertahankan tradisi keilmuan.
Melalui perpaduan pendidikan agama, keterampilan, kewirausahaan, dan kepedulian sosial, pesantren memiliki ruang yang semakin luas untuk mencetak generasi yang berilmu, mandiri, produktif, dan tetap berakar kuat pada nilai-nilai pesantren.

