Suara Pesantren — Media Pesantren IndonesiaSuara Pesantren — Media Pesantren IndonesiaSuara Pesantren — Media Pesantren Indonesia
Notification Show More
Font ResizerAa
  • Home
  • Kirim Artikel
  • Nasional
    • 100 Th Gontor
    • Wejangan
    • Tuntunan
    • Muamalah
    • Regulasi
    • Kesehatan
  • Kilas Pesantren
  • Review Pesantren
  • Jejak Ulama
  • Kiai-Ustadz
  • Santri-Alumni
  • Pendidikan Islam
    • Beasiswa
Reading: Kiai Djunaidi Sulap Kampung Angker jadi Pesantren Bustanul Makmur
Share
Font ResizerAa
Suara Pesantren — Media Pesantren IndonesiaSuara Pesantren — Media Pesantren Indonesia
  • Home
  • Kirim Artikel
  • Nasional
  • Kilas Pesantren
  • Review Pesantren
  • Jejak Ulama
  • Kiai-Ustadz
  • Santri-Alumni
  • Pendidikan Islam
Search
  • Home
  • Kirim Artikel
  • Nasional
    • 100 Th Gontor
    • Wejangan
    • Tuntunan
    • Muamalah
    • Regulasi
    • Kesehatan
  • Kilas Pesantren
  • Review Pesantren
  • Jejak Ulama
  • Kiai-Ustadz
  • Santri-Alumni
  • Pendidikan Islam
    • Beasiswa
Have an existing account? Sign In
Suara Pesantren — Media Pesantren Indonesia > Blog > KILAS PESANTREN > Kiai Djunaidi Sulap Kampung Angker jadi Pesantren Bustanul Makmur
KILAS PESANTREN

Kiai Djunaidi Sulap Kampung Angker jadi Pesantren Bustanul Makmur

Suara Pesantren
Suara Pesantren Published 16/04/2022 6 Min Read
Share

SUARA PESANTREN | Banyuwangi–KH Djunaidi Asymuni berasal dari Desa Nampereh, Kecamatan Galis, Kabuparen Pamekasan, Madura. Sebelum hijrah ke Banyuwangi, pada 1947 memimpin Laskar Hizbullah melawan Belanda. Dalam peperangan itu, pasukannya kalah dan pesantrennya habis dibakar penjajah.

Pasukannya kalah melawan belanda, KH Djunaidi Asymuni harus meninggalkan kampungnya. Belanda memasukkan target khusus untuk dicari. Demi keamanan, Kiai Djunaidi terpaksa harus meninggalkan kampungnya kampung halamannya, dan pergi bersama istrinya, Nyai Hajar Sholehah, dan kedua putranya, Ning Hamidah dan Kiai Zarkasy muda.

Mereka menyebrang melalui pantai kecil di Desa Pandan, Kecamatan Galis, Pamekasan, manuju Probolinggo dengan menumpang perahu layar milik H. Abdul Latif. Dalam perahu itu, juga ada Kiai Zaini Mun’im yang selanjutnya menetap di Probolinggo dan mendirikan Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo.

Dari Probolinggo, Kiai Djunaidi bersama keluarga kembali melanjutkan perjalanan menuju ke Pondok Pesantren Salafiyah  Safiiyah Sukorejo, Kabupaten Situbondo yang saat itu diasuh oleh KH Syamsul Arifin. “Kiai Djunaidi tinggal di sekitar pondok dan ikut membantu Kiai Syamsul,” terang salah satu pengasuh Pondok Pesantren Bustanul Makmur Kebunrejo, yang juga menantu KH Djunaidi, KH. Muafiq Amir.

Kiai Djunaidi tinggal di kompleks pesantren ini selama enam bulan. Atas nasehat Kiai Syamsul Arifin, Kiai Djunaidi diminta berjuang di Jawa dan tidak pulang ke Madura. “Saat di Pondok Sukorejo itu, Kiai Djunaidi bermimpi melihat cahaya dari arah tenggara secara berulang kali,” terangnya dilansir radarbanyuwangi.jawapos.com.

Mimpi Kiai Djunaidi yang dianggap aneh itu, diceritakan pada Kiai Syamsul Arifin dan diminta menuju ke arah dalam mimpi itu. Dengan membawa keluarganya, Kiai Djunaidi melanjutkan perjalanan ke Banyuwangi melalui jalur utara. Dalam perjalanan ini, sempat mampir ke salah satu kenalannya di Ketapang, dan beristirahat hingga beberapa hari. “Lalu kembali melanjutkan perjalanan dan sampai ke Genteng,” jelasnya.

Setiba di Genteng ini, Kiai Djunaidi bertemu dengan Mudharif, salah satu santri ayahnya. Di rumah santrinya itu, rombongan ini menetap hingga beberapa hari, dan akhirnya memutuskan membeli sepetak tanah. “Dulu semak belukar dan terkenal angker,” jelasnya seraya menyebut lahan yang dibeli itu kini menjadi Pondok Pesantren Bustanul Makmur, Kebunrejo, Desa Genteng Wetan, Kecamatan Genteng.

Di atas tanah berukuran kecil itu, Kiai Djunaidi mendirikan rumah dan musala dari gedhek yang dibuat tempat salat dan belajar ilmu agama. Awalnya, hanya beberapa warga yang datang untuk belajar. Seiring dengan waktu, santri yang datang semakin banyak. Pada 1 September 1947, Kiai Djunaidi mendirikan Pondok Pesantren Bustanul Makmur. “Kebun yang dulunya terkenal angker, sekarang menjadi makmur dalam bahasa Jawa rejo, dan pondok itu dikenal Kebunrejo,” ungkapnya.

Pada awal pendirian pesantren, perjalanan Kiai Djunaidi tidak berjalan mulus. Karena saat itu, daerah di sekitar pesantren dikenal kampung hitam. Warganya, banyak yang menjadi pelaku criminal. “Harus menggunakan pendekatan yang baik agar diterima oleh masyarakat,” cetusnya.

Jumlah santri yang terus bertambah, Kiai Junaidi mendatangkan beberapa saudaranya dari Madura. Mereka diminta untuk membantu mengurus pesantren. Di pesantern itu, selain belajar ilmu agama, para santri juga ditanamkan semnagat nasionalisme dan anti kolonialisme. “Kiai Djunaidi mengajak para santri melawan Belanda,” cetusnya.

Dari cerita yang berkembang, Belanda akan menyerbu dan membakar Pondok Pesantren Bustanul Makmur. Mendnegar informasi ituy, Kiai Djunaidi meminta salah satu santrinya menaburkan biji kacang hijau di sekitar pesantren. “Saat pasukan Belanda akan mengepung pesantren, tidak menemukan kompleks pesantren, dan hanya berputar-putar di sekitar pesantren,” ungkapnya.

Atas perjuangan melawan Belanda di Madura dan Banyuwangi, pada 12 Mei 1954 Kiai Junaidi mendapat penghargaan dari Kementerian Staf Angkatan Darat atas nama Pemerintah RI. “Mendapat penghargaan tanda jasa,” terangnya.

Mulai pada 1977 Kiai Djunaidi sering sakit-sakitan dan harus dirawat secara berkala di RSUD Genteng selama berbulan-bulan. Karena sakitnya itu, pada 8 April 1977, Kiai Djunaidi menghembuskan nafas terakhir dengan usia tidak ada yang tahu. Pesantren akhirnya diteruskan oleh putra keduanya, KH. Imam Zarkasy Djunaidi.

Dimata Kiai Muafiq, semasa hidup mertuanya itu terkenal sosok kiai yang istikomah dalam menjalankan amalannya, dan sering memberikan nasehat dan senang bersilaturahmi. “Kiai Djunaidi tidak pernah meninggalkan mengajar pada santrinya, apabila berhalangan akan mengambil waktu lain,” jelasnya.

Semasa hidup, Kiai Djunaidi itu setiap satu pekan sekali menghatamkan Alquran. Untuk khataman itu, mulai membaca pada Jumat dan pada malam Jumat atau Kamis malam khatam. “Setiap hari Jumat berangkat ke Masjid Baiturahman Genteng itu berangkat pukul 09.00, pulangnya habis salat Ashar,” jelasnya.

Waktu habis Jumatan itu, oleh Kiai Djunaidi dimanfaatkan untuk bersilaturahmi kepada masyarakat sekitar masjid. Juga sering memberikan nasehat kepada setiap orang yang ditemui, agar tidak meninggalkan salat duha dan tahajud. “Semoga kisah beliau ini bisa bermanfaat,” katanya. [fro]

 

⇒Berita Seputar Pesantren. Kunjungi dan Follow Kami di ⇒ GOOGLE NEWS ⇐

You Might Also Like

Liburan Pondok Berlalu, KH. Masyhudi Sobari: Udkhulu fii Gontor Kaffah

426 Siswa Meriahkan Gelaran Gema Al Umanaa di Pesantren Al Umanaa di Sukabumi

Wapres Salurkan Hewan Qurban ke Pesantren An Nawawi Banten

Pesantren Darul Amanah Gelar Pertemuan Panitia WMSJ bersama Komponen Pesantren se-Jawa Tengah

Pesantren IIBS Gunungkidul Berkonsep Kampung Inggris Kediri

TAGGED:genteng banyuwangipesantren bustanul makmurpondok pesantren
Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Telegram Email Print
Leave a comment

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Anda harus masuk untuk berkomentar.

Jasa pembuatan website SEO

Follow US

Yuk Join Sosial Media
FacebookLike
InstagramFollow
YoutubeSubscribe
TelegramFollow

10 Berita Pilihan

Seputar Pesantren
memegang bara api

 Memegang Agama Terasa seperti Menggenggam Bara Api

Suara Pesantren Suara Pesantren 08/10/2026
Dulu Santri Panutan, Sekarang Lupa Jalan
Inilah 10 Tips Liburan Wisata Halal ke Eropa Barat Biar Berkesan
Ibadah Umroh Bersama Khadim Wisata, Travel Resmi di Bogor
Prabowo Gaungkan ‘Free Palestina’ di Kesyukuran 100 Tahun Pondok Gontor
Prabowo Apresiasi Nilai-nilai Pendidikan Pondok Modern Gontor
KKN-T Universitas Alma Ata Bekali Siswa SMA Ma’arif 1 Srumbung Cara Hindari Scam Digital
Inspirasi Gamis Muslimah Syar’i dengan Detail Feminin 
7 Alasan Menarik Mengapa Kuliah Kedokteran di Luar Negeri Jadi Pilihan Terbaik! 
1926: Ketika NU dan Gontor Menjawab Zaman

Jasa Blogroll & Publikasi

  • Suara Muslim
  • Seputar Masjid
  • Seputar Halal
  • Seputar Kuliner
  • Seputar Kesehatan
  • Promo UKM
  • Wisata Indonesia
  • Inilah Kita
  • Beasiswa Kampus
  • Indonesia Sentris
  • Seputar Rumah
  • Seputar Keamanan
  • Kota Surabaya
  • Info Nasional
  • Info Perkotaan
  • Info Bekasi
  • Market Daily
  • Berita Santai
  • Berita Tekno
  • Portal Mahasiswa
  • Media Outsourcing
  • Kirim Artikel
  • Pendidikan
  • Bisnis Daily

‎اَلسَلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَات ‎اَلسَلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ 

Salam Fathan Mubina, Salam Kemenangan…!
Kepada Ayah Bunda, yang Disayangi Allah SWT

Sebagai wujud kecintaan dan dukungan dakwah pendidikan melalui *Pesantren Ciawi Bogor Fathan Mubina*…
Kami dari Panitia Penerimaan Santri Baru ingin menyampaikan informasi ini sebagai pengingat dalam penyebaran informasi pendaftaran lembaga pendidikan yang berada dibawah asuhan Yayasan Pembangunan Umat Fathan Mubina. Terima Kasih 

Wassalamualaikum Wr. Wb.

@pesantrenfathanmubina @fathanmubinatv #santribaru
Follow on Instagram

FACEBOOK

Artikel Lainnya

Taufiq Kurohman, M.Ag
KILAS PESANTRENNASIONAL

Hari Santri 2026, Saatnya Beralih dari Seremoni ke Perubahan

15/09/2026
KILAS PESANTREN

Bupati Tangerang Resmikan Sanitren di Pesantren Asmaul Husna

25/03/2022
NASIONAL

Ketua RMI NU Sebut Pesantren Terbanyak Ada di Jawa Barat, Ternyata ini Sebabnya

17/10/2023
KILAS PESANTREN

Polres Kapuas Bakti Sosial ke Pesantren Al Muhajirin Antang

14/08/2020
KILAS PESANTREN

Tidak Ada Santri Pesantren Darus Sholah Jember yang Reaktif Covid

13/07/2020
grand syekh al-azhar
KILAS PESANTREN

Grand Syekh Al-Azhar Kunjungi Pesantren Darunnajah Jakarta

12/07/2024
KILAS PESANTREN

Pesantren Bina Madani Bogor Wisuda 33 Santri Tahfidz 30 juz Angkatan ke-9

10/03/2024
NASIONAL

Sepekan Hilang, Jasad Santri Ditemukan Dalam Septic Tank

09/06/2023
Previous Next
  • Tentang SP
  • Redaksi
  • Jasa Publikasi
  • Disclaimer
  • Pedoman Siber
  • Kirim Artikel
logo suara pesantren logo suara pesantren

Suara Pesantren, media informasi seputar pesantren di Indonesia.
Yuk, support pengembangan website Suara Pesantren agar menjadi lebih baik. Untuk kerjasama, hubungi kami. Terima kasih. Jazakumullah.

© Suara Pesantren | Digital Media Labs
suara pesantren
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?