SUARA PESANTREN | Pondok Pesantren Darul Amanah berada di Dusun Kabunan, Desa Ngadiwarno, Kecamatan Sukorejo, Kabupaten Kendal, Provinsi Jawa Tengah. Didirikan pada tahun 1990, pesantren ini dipimpin oleh KH. Mas’ud Abdul Qodir, bersama KH. Muhammad Adib, Lc, M.A dan KH. Muhammad Fatwa, M.Pd.
Dengan kharisma dan daya tarik yang luar biasa tinggi mengakibatkan berkembangnya pondok pesantren dari masa ke masa mengalami peningkatan yang signifikan jumlah santrinya. Dari awal yang hanya 60 santri, sekarang kian bertambah mencapai 2300 lebih santri.
Pondok pesantren ini termasuk dalam kategori terbaik di Jawa Tengah, berlokasi di wilayah pegunungan yang luasnya mencapai 25 Ha, sangat ideal untuk santri yang ingin mendapatkan pendidikan agama dan pendidikan formal yang terintegrasi. Pada tahun 1990, Darul Amanah membuka jalur pendidikan Aliyah (MA) yang diikuti 60 santri putra dan putri, dan baru pada tahun 1991 didirikan jenjang MTs. Saat ini, pondok pesantren ini menawarkan beragam program pendidikan, termasuk Madrasah Aliyah (Akreditasi A), Madrasah Tsanawiyah (Akreditasi A), SMK Darul Amanah (Akreditasi B), program muadalah, Sekolah Sepak Bola (SSB), serta program Tahfidz.

Pada tahun 2024, jumlah santri di Pondok Pesantren Darul Amanah mencapai 2.300 ini berasal dari berbagai daerah di seluruh Indonesia. Para santri belajar kitab kuning setiap hari, mempelajari ajaran Islam dari berbagai aspek seperti aqidah, fiqh, tasawuf, akhlak, hingga ilmu alat seperti nahwu dan sharaf.
Keunggulan dari pondok pesantren ini terlihat pada fasilitas dan kualitas pembelajarannya yang lengkap. Selain pendidikan agama yang kuat, banyak kegiatan ekstrakurikuler yang disediakan untuk mengembangkan potensi dan bakat santri sejak dini.
Untuk mendukung kemandirian, Pondok Pesantren Darul Amanah juga memiliki berbagai unit usaha, seperti Laundry, Amanah Bakery & Cakes, Minimarket, Toko Bangunan, Koperasi, Toko Santri, dan layanan Fotocopy.
Pondok Pesantren Darul Amanah telah meraih berbagai prestasi pada tahun 2024, termasuk berpartisipasi dalam pramuka jambore dunia di Korea Selatan, mewakili Indonesia dalam turnamen Sepak Bola Singa CUP 2024 di Singapura, dan turnamen Bali S7 tingkat ASEAN di Bali, serta prestasi lainnya.

Sekilas Profil KH. Mas’ud Abdul Qodir
KH. Mas’ud Abdul Qodir merupakan anak sulung dari lima bersaudara dalam keluarga H. Abdul Haris Qodir, H. Sa’ib, BA, H. Nasroh, dan Hj. Masiti. Lahir pada 20 Juni 1949, beliau merupakan putra dari Bapak Abdul Qodir dan Ibu Surani, yang menetap di Dusun Gondorio, Desa Gondoharum, Pageruyung, Kendal.
Sejak usia dini, KH. Mas’ud Abdul Qodir menunjukkan kedisiplinan yang tinggi dalam ibadah. Saat memasuki bangku SMP, beliau rutin melaksanakan sholat Subuh berjamaah, sering menjadi muadzin atau yang memukul bedug. Selain disiplin, beliau juga dikenal memiliki semangat yang besar dalam menuntut ilmu, lebih tinggi dibanding teman-teman seusianya.
Di masa kecilnya, banyak orang yang belum menyadari pentingnya pendidikan dan sekolah masih jarang. Namun, KH. Mas’ud Abdul Qodir memiliki keinginan yang kuat untuk belajar, didukung oleh keluarga yang mengedepankan pendidikan dan agama. Orang tua beliau juga selalu mengajarkan pentingnya taat beribadah kepada anak-anak mereka. KH. Mas’ud berasal dari keluarga sederhana, baik dari pihak ayah maupun ibu yang kebanyakan berprofesi sebagai pedagang, sehingga nilai-nilai hidup bersahaja dan berprihatin senantiasa ditanamkan.
KH. Mas’ud Abdul Qodir menikahi Hj. Nur Halimah, putri dari H. Said dan Ibu Khamzanah dari Desa Kemloko, Mojoagung, Plantungan, Kendal, yang lahir pada 26 Januari 1956. Hj. Nur Halimah juga berperan penting dalam pengkaderan di Pondok Pesantren Darul Amanah.

Dari pernikahannya, pasangan ini dikaruniai dua putra. H. Muhammad Adib, Lc, MA, merupakan Kepala MA Darul Amanah sekaligus Wakil Pimpinan Pesantren, yang telah menempuh pendidikan di Al-Azhar Mesir (S1 Tafsir Hadits, 2004) dan UIN Jakarta (S2, 2007). Sementara itu, H. Muhammad Fatwa, S.Pd. I, menjabat sebagai Wakil Pimpinan Pesantren, lulus dari Pondok Modern Gontor Ponorogo, PP. Al Amien Madura, serta Pesantren Darul Mustofa Yaman, dan melanjutkan pendidikan di UIN Walisongo Semarang untuk S2.
Sejalan dengan laku kedua orang tuanya, KH. Mas’ud Abdul Qodir mendidik putra-putranya dengan nilai-nilai agama Islam, menekankan pentingnya belajar secara terus-menerus, dan mengajarkan hidup sederhana.
Pendidikan formal KH. Mas’ud Abdul Qodir dimulai dari Sekolah Rakyat (SR) di Parakan Sebaran, Pageruyung, Kendal pada tahun 1955 hingga 1961, di mana beliau menyelesaikan sekolah dengan mendapatkan sertifikat kelulusan. Selanjutnya, beliau melanjutkan ke SMP Kanisius Sukorejo pada tahun 1961-1963. Setelah lulus SMP, beliau mengawali pendidikan pesantren di Pondok Pesantren Dondong Mangkang Semarang dari tahun 1963-1966, juga sempat mondok di Kaliwungu.
Setelah tiga tahun di Mangkang dan Kaliwungu, KH. Mas’ud melanjutkan mondok di Pondok Modern Gontor pada tahun 1967-1972. Ia juga mengabdikan dirinya selama dua tahun di berbagai bidang, termasuk seni, menjabat sebagai ketua OPPM selama dua tahun di kelas 5 dan 6, serta pelaksanaan pengasuhan di Pondok Modern Gontor. Beliau juga menjalani pendidikan D2 di ISID, kini dikenal sebagai UNIDA.

